16 Apr 2018 15:36

Tepung Kelapa Sumbang Devisa 385 Juta

MyPassion

MANADO—Komoditas pertanian Sulut terus dilirik dunia internasional. Salah satunya tepung kelapa. Menurut data ekspor dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut, tepung kelapa yang diekspor ke Irlandua Utara sudah menyentuh 13 ton. “Hal ini dilakukan karena permintaan akan tepung kelapa dari negara tersebut cukup tinggi,” kata Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Luar Negeri Disperindag Sulut Darwin Muksin.

 

Dia berujar, tepung kelapa yang diekspor sudah menyumbang devisa bagi negara sebesar USD 28.050 atau sekira Rp 385 juta. Dia menjelaskan, ekspor ke Irlandia Utara memang tidak rutin, namun permintaan yang dilakukan cukup banyak.

Sehingga, ke depan pemerintah akan terus melakukan promosi agar tepung kelapa Sulut makin dikenal dunia. “Harus diakui, sampai saat ini produk tepung kelapa merupakan komoditas yang paling banyak diminati oleh negara-negara di Asia, Amerika, Eropa dan Afrika,” ungkap Muksin.

Dia menjelaskan, dari sekian banyak produk turunan kelapa, hasil perkebunan, perikanan, tepung kelapa merupakan urutan pertama yang memiliki tujuan negara pembeli paling banyak. “Negara tujuan ekspor tepung kelapa Sulut lebih dari 50 negara,” katanya. Namun, katanya, nilai devisanya masih lebih kecil dari produk Crude Coconut Oil (CCO) atau minyak kelapa kasar. “Yang pasti kita terus menggenjot untuk ekspor komoditas asal Sulut,” kuncinya.

Realisasi ekspor yang cukup baik ini menurut ekonom Sulut Dr Imelda Hogi bisa dicapai karena adanya kerja sama dan koordinasi yang baik dari semua stakeholder. “Itu sebuah capaian yang cukup baik di tahun ini. Kalau realisasi konsisiten seperti ini terus, pasti perekonomian Sulut jauh lebih maju dan berkembang,” tutur dia.

Akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado ini melanjutkan, ekspor merupakan bagian terpenting untuk menumbuhkan perekonomian daerah dan juga negara. “Jika minyak kelapa kasar jadi penyumbang terbesar pendapatan ekspor, pemerintah harus terus menjamin barang tersebut selalu tersedia setiap bulan, agar realisasi ekspor di bulan berikutnya akan semakin besar lagi,” pintanya. “Oleh karena itu semua komoditas penting yang mendatangkan banyak keuntungan harus terus dijaga,” kunci Hogi.(tr-01/fgn)

Kirim Komentar