14 Apr 2018 09:54
Fintech Mudahkan Transaksi Ekonomi

Bayar Pakai Barcode

MyPassion

MANADO—Tak perlu uang tunai. Tak perlu kartu. Namun tinggal melalui smartphone. Scan barcode. Transaksi pembayaran berhasil. Teknologi terus berubah. Melalui perusahaan finansial berbasis teknologi atau financial technology (fintech), transaksi ekonomi mulai meninggalkan gaya konvensional dan semakin modern.  Keberadaannya pun ditakutkan mengancam perbankan.  Ekonom Sulut Hizkia Tasik PhD menilai, keberadaan fintech justru memudahkan masyarakat. Karena payment fintech merupakan produk yang membuat masyarakat bisa melakukan pembayaran dengan mudah melalui smartphone.  “Bahkan dengan fintech masyarakat tidak lagi membutuhkan kartu kredit. Kemudahan inilah yang akan membuat fintech dicintai para nasabah,” jelas Tasik.

 

Selain mempermudah proses pembayaran, fintech juga menawarkan produk pinjaman (lending), sampai pembiayaan (crowdfunding). Walaupun plafon pinjaman fintech hanya Rp 2 miliar namun proses pemberian pinjaman yang ditawarkan jauh lebih cepat dan mudah. “Jika bank tidak ingin tergeser oleh fintech, maka harus siap melakukan inovasi baru terutama dalam sistem pembayaran,” pintanya.

 

Sementara, Kepala OJK Sulutgomalut Elyanus Pongsoda membeber, sesuai data, OJK belum mencatat ada perusahaan fintech yang beroperasi di Sulut. “Sampai dengan saat ini sudah sejumlah perusahaan fintech yang terdaftar di OJK dan berada di bawah pengawasan OJK. Namun belum ada satupun masuk di Sulut,” bebernya.

Dia berharap, jika fintech sudah masuk Sulut, tingkat literasi keuangan masyarakat yang masih rendah dapat lebih meningkat. “Diharapkan lembaga keuangan konvensional dapat bersinergi dengan fintech untuk memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat,” sebut Pongsoda.

Dirinya pun mengimbau, perbankan tidak usah khawatir dengan masuknya fintech. Dia menjelaskan, plafon batas pemberian pinjaman oleh fintech hanya sampai Rp 2 miliar.  “Tidak perlu khawatir, karena fintech merupakan sistem pembayaran berbasis online yang berbeda dengan perbankan,” ungkapnya. Di sisi lain, Kepala Bagian Pengawasan Pasar Modal, IKNB dan Perlindungan Konsumen OJK Sulutgomalut Ahmad Husain menjelaskan, keberadaan fintech tidak akan mengancam perbankan. “Karena antara bank dan fintech berbeda dalam mendapatkan nasabah atau debitur. Bank tentunya menjadi lembaga intermediasi di mana melakukan pembiayaan kepada debitur middle-high karena rata-rata yang menjadi debitur atau nasabah adalah masyarakat atau UMKM yang layak usaha dan bankable,” katanya.

Sementara fintech, lanjut Husain, adalah perusahaan platform peer to peer landing yang mengambil peran pembiayaan yang tidak diambil oleh bank. “Karena UMKM tersebut tidak bankable walau usahanya layak,” jelasnya.

Dirinya pun mengimbau kepada perbankan untuk bisa mendukung keberadaan fintech. “Kalau melihat perannya saat ini seharusnya fintech dan perbankan harus berkolaborasi. Karena dalam operasional kegiatan usaha fintech membutuhkan perbankan sebagai escrow account dan virtual account,” tutupnya.(fgn)

Kirim Komentar