14 Apr 2018 10:59
Tim OPCW Tiba Hari Ini

AS Galau Sikapi Syria

MyPassion

WASHINGTON—Ancaman Presiden Donald Trump untuk melancarkan aksi militer di Syria kadung membakar semangat tempur dua sekutu Eropa-nya. Inggris dan Prancis mengaku siap mendukung serangan Amerika Serikat (AS). Namun, saat opsi itu dijajaki lebih lanjut oleh sekutu-sekutunya, AS berubah pikiran. Washington belum akan bertindak sebelum bukti-bukti serangan kimia di Douma, Syria, tersaji.

 

”Sejak tahun lalu strategi yang kami terapkan (di Syria) sama. Yakni, menggiring konflik agar berakhir di meja perundingan yang diprakarsai PBB,” ujar Menteri Pertahanan AS Jim Mattis dalam rapat dengar pendapat tentang Syria dengan kongres pada Kamis (12/4).

Dia juga mengatakan bahwa aksi militer bukanlah solusi terbaik. Sebab, dengan melancarkan serangan ke Syria, AS sama saja melibatkan diri dalam perang Syria.

Menurut Mattis, terlibat langsung dalam perang Syria adalah hal yang paling dihindari AS sejak awal. Karena itu, saat Trump mencuit tentang serangan rudal, dia buru-buru meluruskan kalimat bernada ancaman tersebut.

Esoknya Trump pun meralat cuitannya. Tokoh 71 tahun itu menyatakan bahwa dirinya tidak pernah menyebut kepastian serangan rudal ke Syria. Tapi, dia tidak membantah jika opsi militer tetap ada.

”Kami tetap berkomitmen pada prinsip untuk menyetop jatuhnya korban sipil. Pada level strategis, itu berarti kami harus berusaha mencegah eskalasi konflik meningkat atau bahkan tak terkendali,” papar Mattis sebagaimana dilansir Associated Press kemarin (13/4).

Begitu aksi militer terjadi, menurut dia, AS tidak akan bisa menghentikan pertempuran itu. Apalagi, akan ada lebih banyak aktor yang berperan.

Jubir Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders juga mengatakan bahwa Trump tidak mau tergesa-gesa. Karena itu, ayah Ivanka tersebut meralat cuitannya.

Kamis itu Trump bertemu Mattis dan para petinggi militer serta pakar intelijen. Selanjutnya, presiden ke-45 Negeri Paman Sam tersebut mengontak Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May. Bagi Prancis, gagasan Trump untuk menyerang Syria itu adalah langkah yang tepat. Apalagi, Prancis mengaku sudah mengantongi bukti serangan kimia di Douma.

Prancis menganggap sampel urine dan darah para korban selamat sudah cukup menjadi bukti. Sampel-sampel itu menunjukkan bahwa sekitar 500 orang yang dilarikan ke rumah sakit karena mengalami sesak napas tersebut memang keracunan zat kimia. Di antaranya klorin. Sejauh ini, baru kandungan klorin yang terbukti. Tapi, para pakar senjata kimia yakin tidak hanya gas klorin yang dijatuhkan di Douma.

”Pemerintah Syria telah terbukti menyerang dengan gas klorin. Prancis tidak bisa membiarkan rezim seperti ini, yang berpikir bahwa mereka bisa melakukan apa pun yang disukai,” terang Macron seperti dilansir BBC. Februari lalu, saat pemerintah Syria melancarkan serangan kimia di Eastern Ghouta, Prancis juga sudah berancang-ancang membalas. Bagi Macron, menyerang warga sipil dengan senjata kimia adalah pelanggaran sangat serius.

Sementara itu, Organization for the Prohibition of Chemical Weapons alias OPCW yang berbasis di Belanda telah mengirimkan tim pencari fakta ke Syria. Tim tersebut dijadwalkan tiba di Syria hari ini (14/4). Tujuan mereka adalah Douma. Tepatnya, melacak jejak racun kimia di kawasan itu. Namun, belum jelas apakah pemerintah Syria akan memberikan izin kepada mereka untuk masuk Douma.(tan)

Kirim Komentar