09 Apr 2018 14:14

Gamang 2030

MyPassion

RANAH tanpa hening itu adalah politik. Kali ini, tema pilpres 2019 yang menyeruak ke permukaan. Salah satu talkshow melabeli kegaduhan itu “…Prabowo Mulai Menyerang.” Hal ini merujuk pada pidato Prabowo yang sempat menyatakan bahwa Indonesia tidak ada lagi tahun 2030. Tanggapan pro dan kontra bermunculan.

Langgam kodrati cerita tentang masa depan mencakup futurisme dan nujum. Salah satu dasar perbedaan keduanya adalah nalar. Futurisme mengasumsikan nalar. Nalar tersebut mengungkap kondisi dan tahapan yang relevan. Nujum, sebaliknya, kedap terhadap nalar. Ia nyaman dengan mistisisme dan kegaiban.

Mohammad Mahfud MD menegaskan kondisi yang memungkinkan kegagalan Indonesia. Baginya, (1) “disorientasi” penegakan hukum yang mengekal akan menumbuhkan (2) “distrust” di tengah rakyat. Hal tersebut akan diikuti secara alami oleh (3) “disobedience” rakyat dalam semua ranah kehidupan bernegara. Muara dari semuanya tak lain adalah (4) “disintegrasi”.

Rizal Ramli menyebutkan tiga kondisi. Ia langsung menyoroti lubang primordial dimana rakyat Indonesia cenderung jatuh, yaitu eksploitasi isu agama. Sebagai ekonom, ia mengidentifikasi intervensi negara asing, sering kali akibat perebutan sumber daya alam, sebagai salah satu pintu kehancuran Indonesia. Ia kemudian merujuk lemahnya kepemimpinan sebagai kondisi relevan yang terakhir.

Majalnya Nalar

Gaduhnya ranah politik tidak selalu karena kebenaran sedang menggagas diri. Dalam konteks Indonesia, kebisingan lebih berorientasi pada perang kepentingan dan ambisi. Nalar tidak dibiasakan sebagai andalan. Sebaliknya, ia lebih banyak dibungkam oleh rentetan isu sempalan, bak episode sinetron.

Pembungkaman yang berulang akan menciptakan tradisi menginterpretasi nir nalar. Tradisi ini, pada gilirannya, memajalkan nalar. Ia, akhirnya, ditinggalkan potensinya. Pada tahap ini, nalar meranggas. Ketika hal ini terjadi, emosi, praduga, asumsi sempalan, dan kesesatan sofistik akan merajalela. 

State of Nature

Kondisi dimana nalar kehilangan peran, tergantikan oleh insting primordial, merupakan salah satu kondisi relevan bagi kehancuran Indonesia. Kondisi ini dapat dideskripsikan dengan menggunakan salah satu hipotesis filosofis. Hipotesis ini sering digunakan untuk menjelaskan asal-usul kehidupan politik manusia. Ia menggambarkan kondisi dasar kehidupan manusia (state of nature) sebelum terbentuknya masyarakat politik. Teori ini sering juga disebut dengan teori kontrak sosial.

Thomas Hobbes (1588-1679), seorang filsuf politik asal Inggris, menegaskan bahwa kondisi primordial manusia adalah perang antara individu dengan individu yang lain. Hal ini terjadi ketika mereka belum tunduk pada satu kekuasaan, Kondisi dasar ini, di atas segala-galanya, mementingkan kelestarian hidup pribadi. Karena itu, karakteristiknya adalah biadap, kotor, singkat, dan sendiri.

Individu tetap mempunyai harapan akan perdamaian. Ia pun rela untuk menyerahkan haknya akan segala hal sejauh yang lain rela untuk menyerahkan haknya. Mereka akhirnya menemukan jalan keluar menuju pembentukan komunitas politik dan pemerintahan. Jalan keluar tersebut dipatenkan dalam kontral sosial. Dalam kondisi ini, manusia hidup dalam tatanan politik yang jelas.

Hipotesis tersebut ditolak oleh pemikir-pemikir lain. John Locke (1632-1704) menegaskan bahwa kondisi alamiah manusia tidak sedrastis yang digambarkan oleh Hobbes. Secara alamiah, manusia telah diatur oleh hukum alam yang bersumber pada rasio. Karena itu, tindakan manusia senantiasa diatur oleh hukum alam dan tak seorang pun akan menyakiti orang lain. Jika ia melanggar, maka ia akan dihukum.

Montesquieu (1689-1755), seorang filsuf Perancis, juga menegaskan bahwa dalam kondisi alamiah tersebut, manusia sudah mempunyai kapasitas berpikir. Karena itu, ia pertama-tama akan berpikir tentang bagaimana melestarikan kehidupannya.

Jean-Jacques Rousseau (1712-1778), seorang filsuf Perancis, menolak pandangan Hobbes. Rousseau menjelaskan bahwa dalam kondisi alamiah, manusia seharusnya tidak mengenal satu sama lain. Karena itu, mereka tidak beralasan untuk berkonflik sedemikian parahnya. Lagipula, kehidupan manusia telah diatur oleh nilai-nilai dasar tertentu.

David Hume (1711-1776), seorang filsuf Skotlandia, malah menegaskan bahwa kondisi alamiah tersebut hanya bisa menjadi fiksi filosofis. Hal itu tidak pernah terjadi dan tidak akan pernah terjadi.

Sentimen

Ditempatkan dalam konteks dinamika politik dan relasi sosial antar individu, “state of nature” tersebut merupakan muara tradisi sosial politik tanpa nalar. Itulah wajah gelap eksistensi bangsa. Di sana, sentimen menjadi riil.

Litani sentimen tersebut mencakup ketakutan, ketidakpercayaan, luka, duka, ketidakpastian yang mencekam, kemarahan yang tak terlampiaskan, rasa keadilan yang terkoyak, dan harapan serta asa yang tergerus. Litani bisa dilanjutkan. Individu, yang merasakan kondisi ini, dipaksa untuk mengenal wajah kemanusiaan yang mereka tidak pernah tahu.

Locke menganggap kondisi ini tidak mungkin karena kehidupan manusia seharusnya diatur oleh hukum alam dan ratio manusia. Montesquieu menolak wajah kusam tersebut dengan menegaskan peran kapasitas berpikir manusia untuk melestarikan hidupnya.

Menurut Rousseau, manusia tidak cukup saling mengenal dan berkepentingan untuk kemudian terlibat dalam konflik besar. Hume bahkan dengan tegas menolak kegelapan itu. Baginya, itu hanyalah fiksi belaka. Ia tidak pernah terjadi dan tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan manusia.

Ternyata, para filsuf itu salah membaca kapasitas manusia. Manusia ternyata tidak hanya bisa hidup dalam tatanan politik dan birokrasi yang rumit seperti sekarang ini. Manusia tidak hanya bisa hidup dalam komunitas universal berbasis sikap komunitarian dan kemanusiaan. Manusia juga ternyata bisa menceburkan dirinya ke dalam realitas yang gelap. Gelap itu sama pekatnya dengan kehancuran.

Epilog

Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai obituari atau darasan nada-nada requiem bagi bangsa ini. Sebaliknya, gamang 2030, tanpa menyelisik kondisi dan tahapan relevan, adalah tanda majalnya nalar. Sebagai kemungkinan, gelap itu eksis. Hanya jangan sampai mengungkungi terang nalar!(*)

Kirim Komentar