27 Mar 2018 10:08

Mengunjungi Tumaluntung, Desa Satu Gereja

MyPassion
JEMAAT ANTUSIAS: Pondok yang dibangun jemaat GMIM Imanuel Tumaluntung, Wilayah Tareran I sangat menarik. Berciri khas masa lalu. Pondok ini dilombakan untuk memeriahkan Paskah. foto: Jendri Dahar/MP

Persiapan jelang Paskah begitu nampak di Jemaat GMIM Imanuel Tumaluntung, Wilayah Tareran I. Kebangkitan Kristus jadi momentum merefleksikan nilai budaya leluhur. Pondok-pondok berciri khas masa lalu ditampilkan jemaat.

 

Laporan: Jendri Dahar, Minahasa Selatan

TAK ada lampion indah berjejer di seputaran kompleks gereja. Sebagaimana kebiasaan masyarakat Nasrani di minggu-minggu sengsara Yesus Kristus. 1.800 anggota jemaat justru terlihat antusias mempersiapkan pondok Paskah masing-masing kolom. Ya, sepanjang sepekan ini jemaat disibukkan lomba budaya. Panitia Hari Raya Gerejawi (HRG) mewajibkan jemaat gereja berumur 147 tahun itu, membangun pondok seperti pemukiman penduduk mula-mula Desa Tumaluntung.

Di situ, mereka dipersilahkan memamerkan kekayaan alam desa. Sambutan hangat diterima seketika tiba di sana. Seolah berebut, masing-masing anggota jemaat mempersilahkan tamu menyambangi pondok mereka.

Panitia rupanya meminta peserta lomba menarik pengunjung sebanyak-banyaknya. Beragam kerajinan dan makanan khas dipamerkan dari dalam pondok. Anyaman, penyulingan cap tikus, hingga tempat tidur masyarakat mula-mula dapat ditemui di sana. Selain itu, hasil alam bahkan binatang yang biasa jadi santapan masyarakat turut dihadirkan untuk dicicipi pengunjung. Buah-buahan, pisang, tikus, ular hingga tokek terpampang dililit tali.

Ketua Panitia Ronald Mandey menjelaskan, lomba digelar selama sepekan. Sejak Minggu (25/3) sampai Minggu (1/4). Tepat di perayaan Paskah nanti, pemenang lomba diumumkan. Dia mengungkapkan, konsep lomba didasari mulai terkikisnya nilai budaya masyarakat zaman now.

Hingga dirasa penting bagi mereka memberikan edukasi bagi jemaat khususnya pemuda tentang kehidupan, budaya, dan adat masyarakat terdahulu. "Pondok dibangun tanpa paku. Semua dibiayai dari aksi gotong royong jemaat. Kalau dihitung bisa puluhan sampai ratusan juta," tuturnya, kepada Manado Post, sore itu.

Di masing-masing pondok diletakkan obor yang dinyalakan saat malam. Keindahan tampak terlihat seketika matahari terbenam. Menurut dia, tim penilai dipilih secara independen. Melibatkan pemerintah, pendeta, panitia, dan penasehat jemaat. "Selain lomba tersebut, juga ada baca Mazmur, komedi rohani, pidato bahasa daerah, dan Kebaktian Penyegaran Iman," tuturnya.

12
Kirim Komentar