26 Mar 2018 09:07

Ini Kesaksian Iman Ketua BPMS Pdt Hein Arina

MyPassion
PELAYANAN PERDANA: Ketua BPMS Pdt Hein Arina, saat memimpin ibadah di Jemaat Yudea Paal Dua, Minggu (25/3). Foto: Revliando Abdilah/MP

MANADOPOST-Ketua BPMS Pdt Hein Arina resmi dilantik Sabtu (24/3) pekan lalu. Saat ditemui usai dilantik pendeta kelahiran Langowan ini terkenang masa kecilnya. “Sewaktu membacakan pernyataan di depan ribuan peserta sidang, saya terharu. Terbayang masa kecil,” ungkapnya pelan.

“Saya besar dalam keluarga tradisional. Papa saya seorang guru jemaat. Saya tinggal di negeri (Desa Temboan, Langowan) yang tidak punya SD. Jadi harus sekolah di negeri (Desa Atep, Langowan) lain. Setiap hari, jalan kaki sekira sembilan kilometer. Pergi pulang menempuh 18 kilometer. Papa saya tidak pernah sekolah SD. Tidak tahu membaca. Nanti saya lahir, dia baru tahu membaca Alkitab pertama kali,” ungkapnya.

Rasa harunya kian memuncak saat teringat sosok orang tuanya. “Terharu. Karena papa dan mama saya sudah meninggal. Papa pernah jadi guru jemaat. Saya besar dari keluarga 11 saudara. Dua diantaranya pendeta. Itu yang membuat saya terharu. Apalagi ketika saya terpilih menjadi Ketua Sinode GMIM ke-14,” terang Pdt Arina yang dalam beberapa kesempatan break sidang, tak henti-hentinya melayani permintaan foto dari peserta lainnya selama enam hari persidangan tersebut. 

Ketika melakukan pelayanan pertamanya sebagai Ketua Sinode GMIM di mimbar Jemaat GMIM Yudea Paal Dua, Pdt Arina bernostalgia tentang kesaksian hidupnya di depan jemaat. “Waktu saya SMP, papa saya meninggal. Jadi kakak saya mencari nafkah di kebun sekira 7 tahun untuk saya sekolah. Sampai saya menyelesaikan kuliah (teologi). Setelah saya menjadi pendeta di Tomohon, giliran saya yang membiayai dia (kakak) sekolah. Ini menjadi kesaksian iman saya kepada jemaat,” ungkap pendeta energik tersebut.

Masa kecilnya, kata Pdt Arina, kerap membantu sang papa yang menjadi ketua jemaat. “Dulu belum ada kostor. Lantai gereja juga masih tanah. Jadi harus bolak balik mengambil air menggunakan bambu dengan kakak saya untuk menyiram lantai gereja menjelang ibadah,” kenangnya. “Akhirnya saya dan kakak menjadi pelayan Tuhan sekarang. Menjadi pendeta,” kesaksian iman Arina ke jemaat.(cw-03)

Kirim Komentar