23 Mar 2018 14:24
Mengunjungi Jemaat GMIM Agape Bojonegoro Minsel

Hanya Lima KK, Tanpa BPMJ dan Tetap Aktif

MyPassion
BUTUH PERHATIAN: Bangunan GMIM Agape Bojonegoro di Kabupaten Minahasa Selatan. Jemaatnya kini tersisa 14 orang. foto diambil Kamis (22/3). Foto: Jendri Dahar/MP

Keterbatasan anggota tak menjadi halangan pertumbuhan iman Jemaat GMIM Agape Bojonegoro, Kecamatan Maesaan. Mereka tidak pernah absen melaksanakan ibadah setiap Minggu.

 

Laporan: Jendri Dahar, Revliando Abdilah

 

SEPERTI namanya. Desa ini mayoritas ditinggali warga keturunan Bojonegoro, Jawa Timur. Mereka berpindah dari Tondano, lokasi transmigrasi masyarakat Jawa mula-mula di Sulut. Hadirnya tempat pemakaman warga di pintu masuk dan keluar desa sedikit menimbulkan suasana angker.

Namun seketika masuk, suasana ramah langsung diterima dari warga yang mayoritas Muslim itu. Hampir tak nampak bangunan dua lantai apalagi terkesan mewah berdiri di sana. Masyarakat tampak sederhana. Di desa inilah berdiri gereja dengan jumlah jemaat paling sedikit di Sinode GMIM.

Euforia jelang perayaan kebangkitan Kristus tak nampak di sana. Jauh berbeda dibanding beberapa jemaat tetangga yang terlihat sibuk menghiasi kompleks rumah mereka dengan ornamen khas Paskah. Gereja yang dibangun sejak Januari 2009 silam itu, terlihat sepi. Bukan tanpa sebab, sejak diresmikan Pdt Herry Plangiten mewakili sinode, jumlah jemaat terus merosot seiring dinamika yang terjadi. Sebagian lebih memilih bergereja di jemaat tetangga.

Semula jumlah anggota ada 39 kepala keluarga (KK) tapi kemudian sebagian lebih memilih bergereja di jemaat tetangga sehingga tersisa 19 KK. Setelah itu, terus berkurang dan akhirnya tinggal lima KK aktif. "Jemaat pun kini tinggal 14 orang," ungkap Karel Lolowang, salah seorang tokoh pendiri gereja.

Pria 77 tahun ini bercerita, awalnya dia menginisiasi pembangunan gereja karena lokasi mereka bergereja saat itu terlalu jauh. Kerinduannya pun akhirnya diamini beberapa jemaat lain. Semula mereka bergereja di GMIM Penabur Liningaan, ada juga yang di GMIM Maranatha Tambelang.

Setelah itu, izin didapat dari Ketua Wilayah GMIM Tompaso II kala itu, Pdt Sengkey. Pembangunan gereja dimulai dengan dana seadanya. Lolowang kemudian mengibahkan sebidang tanah berukuran 14x24 meter persegi untuk dijadikan lokasi pembangunan gereja. "Kami menjalankan proposal dan berjualan. Dana awal yang kami miliki hanya 200 ribu," kenangnya.

Lanjutnya, perhitungan pembangunan gereja semula mencapai Rp 400 juta. Topangan Tuhan begitu terasa. Sumbangan datang silih berganti dari berbagai pihak, termasuk kalangan Muslim yang notabene merupakan mayoritas di desa itu. Mereka bahu membahu hingga gereja selesai dibangun. "Ternyata kita hanya butuh anggaran 167 juta, meski belum sepenuhnya tuntas. Bantuan dari Pemprov 15 juta dan pemkab saat itu 5 juta. Sisanya kami dapat dari Sonder dan Bolmong," tuturnya.

Dia mengakui, hingga kini BPMJ belum juga terbentuk. Sebab tidak ada lagi pelayan khusus aktif. "Semua sudah mengundurkan diri karena dinamika yang terjadi. Makanya tidak ada pelsus lagi di sini," ungkapnya.

Meski begitu, sang istri Lely Suak (67) mengungkap, setiap pekan ibadah tetap dilaksanakan walaupun hanya berapapun jemaat yang hadir. "Jemaat secara bergantian memimpin ibadah. Kalau minggu ketiga pendeta dari wilayah bergantian memimpin," tuturnya. Kini, pembangunan menyisakan pembuatan plafon dan penyempurnaan di beberapa titik. Pemerintah diminta hadir memberikan bantuan. "Sudah banyak pendeta dari sinode datang memberikan topangan dan bantuan dana. Tapi dari pemerintah yang sekarang belum pernah," bebernya.

Hukum Tua Idrus Gumer menceritakan, desa ini ada sejak 1928. Kala masyarakat Jawa Tondano, transmigran dari Bojonegoro memilih mencari tempat tinggal baru. Dia mengatakan, penduduknya terbilang sedikit. Hanya 137 Warga yang terbagi di dua jaga. Selama dia memimpin, hampir tidak pernah ada gesekan antar warga meski masjid dan sejumlah gereja antar denominasi berdiri berdekatan. "Mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani aren dan jagung. Kerukunan sangat dihormati antar umat di sini," tukasnya.

Sementara itu, ditemui di sela-sela SMS ke-79 GMIM di GKIC, Plt Ketua Jemaat Agape Pdt DH Marentek STh menceritakan, diresmikan sekira 12 Oktober 2008, Jemaat Agape akan menginjak usia satu dekade tahun ini. "Sebenarnya awal didirikan ada sekira 19 KK. Seiring berjalannya waktu, sempat menjadi 7 KK," ungkapnya.

Tak melalui tahapan pemekaran layaknya jemaat mandiri lainnya, Jemaat Agape terbangun dari proses iman jemaat. "Walaupun di sana ada sekira 200 KK. Namun memang dominannya adalah warga agama lain. Pun dengan iman percaya jemaat, akhirnya berdirilah Jemaat Agape pada 2008 silam. Pun tanpa Pelsus dan BPMJ, karena tidak memenuhi persyaratan jumlah kolom, pelayanan jemaat tetap berjalan," terangnya.

Lanjut lulusan UKIT angkatan 98 ini, adalah sukacita melayani di Jemaat Agape. "Pelayanan, penggembalaan, kunjungan dan ibadah rutin jalan. Puji Tuhan, hampir di setiap peribadatan, kehadiran rata-rata 100 persen. Dibandingkan dengan jemaat besar, yang tingkat kehadirannya sekira 50 persen dari anggota jemaat. Ini yang harus disyukuri. Sebab bagi saya, dengan keterbatasan jemaat, ketaatan beribadah, patut diangkat jempol. Walaupun kecil dari sisi jumlah, mereka saling memperhatikan," katanya bangga.

Dalam persekutuan jemaat tersebut, tambah Marentek, ada beberapa jemaat yang memiliki kekurangan fisik. "Jadi saat ini ada sekira 2 bapak, 3 ibu, 2 pemuda dan remaja 2 anggota serta 3 anak sekolah minggu. Di tiap KK, ada anggota jemaat yang berkekurangan. Ada yang janda serta buta. Juga seorang pemuda yang menderita disabilitas. Serta ada ibu yang mengalami sakit berkepanjangan. Namun semangat melayaninya, patut diacungi jempol," tegasnya.

Menjelang satu dekade HUT jemaat, bangunan fisik gereja sudah hampir rampung. "Jadi memang waktu saya masuk, bangunan gereja hanya beratapkan genteng, tanpa memiliki dinding gereja. Dengan ukuran sekira 8x6 meter. Berkat bantuan dari donatur, baik pribadi keluarga dan pemerintah serta organisasi gereja. Semenjak tahun 2013 lalu, mulai membangun gedung gereja permanen sekira 9x14 meter. Menjelang HUT jemaat ke-10 tahun ini,  tinggal membuat plafon dan menara," katanya yang memang hanya ditugaskan dengan SK wilayah.

"Memang penugasan saya  dari sinode ke Wilayah Tompaso Baru 2 ini, adalah pendeta jemaat GMIM Penabur Liningaan. Namun lewat SK wilayah, karena di Jemaat Agape belum ada ketua jemaat, maka saya ditugaskan menjadi plt ketua pada 1 Februari 2012 silam," ungkapnya, menyatakan saat ini sudah sekira 6 tahun melayani di sana.

Dia berharap, BPMS yang baru, akan memberikan perhatian. Baik soal tata gereja, penempatan pendeta dan pelayanan jemaat. "Ketika dibawa dengan iman, makan akan terasa enjoy. Dan yang perlu diperhatikan, karena sudah diresmikan sebagai jemaat mandiri, maka harus segera ditempatkan ketua jemaat (pendeta) dengan SK sinode. Kedua, membantu selesaikan pembangunan gereja. Pun perhatian lebih dari sinode, mulai dari pelayanan dan program sinode ke depan," pintanya.

"Kalau boleh, harus ada aturan khusus untuk jemaat kecil. Misalnya, ada aturan khusus tentang pelsus dan BPMJ. Nanti di agenda renstra akan saya suarakan," tutupnya.(***)

Kirim Komentar