13 Mar 2018 09:12
Pelayanan Pendeta, Kesehatan, dan Pendidikan Prioritas

Ini Tantangan BPMS GMIM Periode 2018-2022

MyPassion

MANADO—Pemilihan Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM periode (2018-2022) pekan depan. Periode baru akan dimulai. Tantangan lebih besar pun siap menyambut struktur BPMS yang baru. Hal ini diakui Ketua BPMS periode 2014-2018 Pdt HWB Sumakul. Reformasi GMIM harus dilakukan di berbagai sektor pelayanan.

Di antaranya sektor pendidikan dan kesehatan. “Masih banyak yang harus diselesaikan BPMS berikut. Khusus pendidikan, wajib dilakukan pendataan kembali sekolah yang berada di lingkup GMIM. BPMS berikut melalui yayasan, harus membuat strategi lebih jitu menjawab kebutuhan zaman,” sebut Sumakul.

Sebab katanya, berbicara tentang pendidikan adalah kompetitif atau bersaing dengan yayasan lainnya. Apalagi sekolah negeri. “Ini lebih diseriusi, bukan sekadar yang penting sudah jalan. Harus ada strategi tertentu. Sehingga itu bisa jadi sumbangan GMIM untuk bangsa dan negara, terutama di Sulut,” katanya.

Harus diakui, lanjut Sumakul, sekolah yayasan di luar GMIM masih diminati daripada yayasan GMIM. Bahkan oleh warga GMIM sendiri. “Memang harus diakui, saat ini yayasan sekolah pendidikan GMIM masih kalah dengan yayasan lainnya. Jadi perlu pendataan dahulu kondisi relevan di lapangan. Jangan berspekulasi, kemudian dibuat strategi bagaimana sekolah GMIM berkompetisi dengan sekolah lainnya,” terang Sumakul.

Namun untuk yayasan kesehatan, ditegaskan Sumakul, sudah berjalan baik di periode ini. Telah ada pemulihan dan peningkatan semua rumah sakit (RS) di bawah naungan GMIM. “Ini juga menjadi tantangan periode berikut untuk lebih meningkatkan pelayanan kesehatan,” jelasnya.

Sumakul menambahkan untuk warga GMIM yang lebih memilih pelayanan di RS lainnya menjadi hal wajar. “Tapi ini tidak masalah, sebab juga berkompetisi. Kalau memang lebih banyak ke negeri, tidak apa-apa. Fasilitas kesehatan adalah milik warga masyarakat umumnya,” terangnya.

Sumakul berharap, ke depan mekanisme pengelolaan di yayasan GMIM, baik kesehatan maupun pendidikan ditangani profesional. “Mau eksternal GMIM yang profesional atau pendeta, intinya harus mempunyai komitmen tinggi. Kalau misalnya sudah ditangani tenaga profesional tapi tidak punya komitmen, sama juga. Untuk saat ini hanya pucuk pimpinan pendeta. Di bawahnya tenaga expert di bidang masing-masing,” tegasnya.

Paling krusial yang harus dibenahi adalah persoalan mutasi pendeta. “Untuk periode berikut banyak sekali PR, apalagi personalia. Dari seluruh bidang, ini dikatakan paling parah. Jadi harus ada orang yang kompeten. Kalau tidak berat di kemudian hari,” sebutnya.

Sumakul mengatakan, dari sistem penempatan pendeta GMIM belum maksimal. Tuntutan regulasi mutasi dan musim mutasi pendeta, masih ketinggalan zaman. Kedepannya, diharapkan orang yang duduk di situ bukan hanya sekadar menempati posisi tersebut. Namun berwawasan luas dan punya strategi memperbaiki sistem mutasi. “Sebab yang menentukan mutasi pendeta adalah orang yang duduk di posisi tersebut,” pintanya.

Sumakul berharap, BPMS periode 2018-2022 tetap menjaga kesinambungan program. “Jangan dulu ganti-ganti, sebagaimana apa yang telah diupayakan saat ini. Tapi juga dituntut jitu dan tanggap melihat apa yang harus dibenahi. Sebab di setiap periode, ada tantangan sendiri, berbeda-beda. Harus lebih lincah lagi di waktu akan datang, agar sumbangsih GMIM, baik bagi gereja juga pemerintah dan bangsa lebih maksimal,” tukas Sumakul.

123
Kirim Komentar