12 Mar 2018 14:48

Tingkat Pengangguran SMK Tertinggi

MyPassion
Ilustrasi

JAKARTA–Kualitas Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dipertanyakan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Sabtu (10/3), menunjukkan 11 persen dari 7 juta penganggur di seluruh Indonesia adalah siswa lulusan SMK.

 

Prosentase tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan lulusan dari SD, SMP, SMA umum, Diploma, bahkan sarjana. Pada rilis Februari 2017, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) SMK masih berada di angka 9,2, lantas pada survei Agustus 2017, jumlahnya meningkat menjadi 11,41 persen.

”Jika kita lihat, hanya SD yang mengalami tingkat penurunan TPT,” kata Dirjen Binalattas Kemnaker Bambang Satrio Lelono di Bandung, Sabtu (10/3).

Bambang menyebut, TPT tertinggi dimiliki oleh lembaga-lembaga pendidikan yang khusus mempersiapkan lulusannya bekerja. Yakni  SMK, SMA dan Politeknik. ”Ini aneh kenapa lulusan SMK kok nganggur. Padahal disiapkan untuk langsung kerja. Politeknik juga untuk kerja. Artinya pendidikan kita belum siap pakai," kata Bambang.

Solusi dari permasalahan ini kata Bambang adalah membuat lulusan SMK memiliki ketrampilan lebih. "Dan salah satunya jalan dengan memberikan pelatihan," kata Dirjen Bambang.

Bambang mengungkapkan, pada 2019, Kemnaker telah merancang kegiatan-kegiatan peningkatkan kualitas SDM melalui program pemagangan dengan bekerja sama dengan industri untuk 400 ribu orang.

Menurut Bambang, semua harus bersiap dan mengikuti tren perubahan yang berkembang cepat. Pemerintah siap memfasilitasi kebutuhan tenaga kerja yang berubah, akibat digitalisasi dan perkembangan teknologi melalui program pelatihan di Balai Pelatihan Kerja (BLK).

Perkembangan industri yang cepat, kata Bambang, menghendaki BLK juga memiliki skema transformasi industri ke depan dan pemetaan pasar kerja. "Kalau industri berubah tentu dibutuhkan pekerjaan baru, pekerjaan lama akan hilang. Konsekuensinya dibutuhkan skill yang baru," katanya.

Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (PSMK) Kemendikbud, M. Bakrun membenarkan data BPS tersebut. Namun ia meyakinkan bahwa sampai saat ini perbaikan-perbaikan terus dilakukan. “Data BPS tidak bisa langsung diubah, karena yang di survei lulusan SMK yang usianya 15 sampai 55 tahun,” katanya kemarin (11/3). 

Memang, Bakrun mengakui bahwa sejak awal lulusan SMK dipersiapkan untuk bekerja. Namun menurutnya tidak boleh dilupakan bahwa saat ini juga terjadi banyak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). ”Kemungkinan itu penyebabnya juga, karena yang kami survei, penganggur lulusan SMK 55 persen pernah bekerja,” jelas Bakrun.

Sistem ketenagakerjaan yang ada saat ini, kata Bakrun belum mensyaratkan bahwa orang yang bekerja harus punya sertifikat/kompetensi tertentu. Jenis pekerjaan masih bisa diisi oleh semua yang jenis lulusan.

”Selain itu peta kebutuhan tenaga kerja juga belum terlihat dengan jelas. Maka sekarang kita mencoba mengarahkan siswa-siswa SMK untuk mengembangkan wirausaha,” pungkas Bakrun. (jpg/can)

Kirim Komentar