09 Mar 2018 09:27

Wah! 812 Kasus Kekerasan Perempuan

MyPassion

MANADO–Kasus kekerasan terhadap perempuan di Sulut masih tergolong tinggi. Sesuai data LSM Swara Parangpuan, data tiga tahun terakhir (2015-2017) menujukkan, telah terjadi 812 kasus kekerasan terhadap perempuan.

 

Kordinator Advokasi Swara Parangpuan Sulut Nurhasanah mengatakan, tren kasus kekerasan dipantau LSM-nya lewat media dari 2015 hingga 2017. ''Jumlah kasus dalam tiga tahun terakhir berbeda terjadi naik turun. Yang tertinggi dari pantauan kita ada di tahun 2016 berjumlah 345 kasus. Begitu juga yang melapor ke kita terjadi turun naik dimana tahun 2016 juga jumlah tertinggi sebesar 72 kasus,'' sebutnya.

Dia mengatakan, bentuk kekerasan pada perempuan juga masih didominasi perkosaan yang disusul kekerasan fisik. Untuk tempat kejadian banyak terjadi dalam rumah. Yang banyak menjadi korban adalah anak pererempuan.

''Dari data yang kita miliki kaus kekerasan yang terjadi pada anak usia 13-18 tahun di tahun lalu terjadi sebanyak 20 kasus. Dan usia 25-40 sebanyak 20 kasus. Ini terlihat anak perempuan rentan menjadi korban kekerasan,'' urainya.

Dia mengungkapkan, Swara Parangpuan telah merekomendasikan agar tidak lagi terjadi kasus kekerasan. Untuk itu, perlu ada ada kebijakan nasional dan daerah dalam perlindungan terhadap perempuan dan anak. “Serta juga perlu ada penegakan, kebijakan yang responsif terhadap perempuan dan anak terutama kelompok miskin yang jauh dari jangkauan,” katanya.

Terpisah, Kepala Bidang Perlindungan Hak Perempuan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Sulut Vonny Pangalila mengatakan, pihaknya mendata 2016 ada 160 kasus terjadi.

''Kasus seksual yang terjadi di luar lingkup keluarga di tahun 2016 sangat banyak terjadi pada anak perempuan sebanyak 27 kasus. Penelantaran terhadap anak perempuan juga menjadi kasus kedua terbanyak di tahun yang sama,'' ungkapnya.

Untuk 2017, kasus kekerasan terhadap anak perempuan masih tinggi, sebanyak 69 kasus.

''Di tahun 2017 kasus berhasil ditekan, namun kasus kekerasan terhadap anak dengan bentuk kekerasan seksual masih mendominasi. Karena itu kami bersama dengan beberapa lembaga terus memantau kasus kekerasan seksual ini. Kami menggandeng beberapa pihak untuk mencegah juga merehabilitasi. Kalau ada kekerasan fisik kita juga ada tim untuk menangani,'' ucapnya.

Dia menambahkan, untuk 2018 ini, dari Januari sampai Maret sudah ada 31 kasus yang berhasil didata. Itu sebutnya, masih akan berpotensi naik. Jadi akan ada program yang diluncurkan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak untuk lebih menekan angka kekerasan terhadap perempuan.

''Jadi dengan banyaknya LSM yang bergabung dengan kita untuk menekan angka kekerasan pada anak dan perempuan, saya berharap semua pihak dapat sadar dan peduli dengan orang di sekitar kita. Bersama melindungi akan lebih baik, dan akan dengan cepat menekan angka kekerasan tersebut di tahun ini,'' pungkasnya. (tr-02/can)

Kirim Komentar