08 Mar 2018 10:13

Pengaruh Lingkungan dan Pergaulan

MyPassion

MANADO—Pelaku tindak kriminal tidak lagi memandang usia. Tak hanya orang dewasa, juga rawan tindak kriminal melibatkan anak di bawah umur.

 

Berdasarkan data Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Sulut, jumlah tahanan anak sebanyak 16 orang. Sedangkan narapidana anak 37 orang.

"Itu data terakhir sepanjang 2018. Itu semua jumlah keseluruhan dari semua Lapas dan Rutan di Sulut," ungkap Kadiv Pemasyarakatan Prasetyo.

Dia menambahkan, kebanyakan napi dan tahanan anak ditahan karena kasus berbeda. "Kebanyakan kasus mabuk hingga penganiayaan. Ada juga pembunuhan dan pencurian. Juga ada beberapa karena bawa senjata tajam dan cabul," bebernya.

Prasetyo mengatakan, ada perlakuan khusus untuk anak dalam penjara. Salah satunya pemotongan masa tahanan. “Anak itu dipisahkan dengan orang dewasa. Juga untuk masa pidana dan tahanan itu separuh dari orang dewasa. Seperti contohnya putusan pidana 10 tahun, untuk anak-anak dipotong setengahnya jadi lima tahun,” tukasnya.

Terpisah, pengamat hukum Toar Palilingan menilai, beberapa kasus dan peristiwa pembunuhan yang dilakukan anak di bawah umur merupakan murni kejahatan, bukan lagi kenakalan remaja. "Sehingga menjadi peringatan bagi orang tua maupun guru-guru disekolah agar lebih memberi perhatian kepada anak yang memiliki perilaku kenakalan yang berlebihan," ungkapnya kemarin.

Dia juga menyorot pergaulan anak-anak yang salah satu menjadi pengaruh tindak kriminal. "Perlu binaan sejak dini soal pergaulannya. Agar ketika mereka berinteraksi dengan pergaulan di luar sekolah bisa tidak terpengaruh. Tentunya perlu dibangun komunikasi intens antara pihak sekolah dan keluarga," ujarnya.

Menurutnya, biasanya pelaku berawal dari kenakalan remaja. Kemudian karena pengaruh pergaulan dan lingkungan yang salah, sehingga melakukan kejahatan. “Akhirnya anak-anak berhadapan dengan ancaman hukuman pidana badan," katanya menambahkan.

Peran pemerintah juga dianggap Palilingan, sangat penting, terutama dalam hal pembinaan. "Bisa lewat Karang Taruna, organisasi pemuda maupun LSM," lanjutnya.

Tambah Palilingan, organisasi keagamaan sebenarnya sangat efektif untuk mengambil peran dalam pembinaan. Namun lembaga pemuda remaja keagamaan lebih sering orientasi kegiatannya hanya kepada anak baik saja. “Yang nakal kadang terkesan kurang diikutsertakan serta tidak ada upaya secara serius untuk melibatkan mereka terutama pada peran-peran tertentu agar mereka juga ikut merasa bertanggung jawab dalam kehidupan sosial kemasyarakatan," pungkasnya.

Di sisi lain, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Sulut Adv EK Tindangen mengatakan, masih kurang sosialisasi pemerintah untuk menyampaikan pemahaman UU pidana kepada anak. "Juga undang-undang Perlindungan Anak patut orang tua tahu. Itulah tugas pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota," sorotnya.

Untuk kepolisian, Tindangen menambahkan, harus lebih gencar melakukan sosialisasi di sekolah dan masyarakat. "LPAI juga sudah banyak melakukan sosialisasi terkait ini. Jadi bisa juga kepolisian bekerjasama dalam kegiatan sosialisasi," katanya.

Dia mengimbau bagi orang tua untuk selalu mengawasi anak-anak agar tidak terpengaruh dengan aksi kekerasan. "Pengawasan juga dalam menonton film yang tidak sesuai atau yang mengandung kekerasan. Juga akses situs-situs internet yang ada kekerasannya. Itu sangat mempengaruhi perkembangan anak yang akan mencontohi apa yang mereka lihat," tukasnya.

Terpisah, Kapolresta Manado Kombes Pol FX Surya Kumara mengatakan, ada perlakuan khusus dalam penegakan hukum untuk anak-anak. "Pada dasarnya memang penangannanya beda dengan orang dewasa. Dan untuk menekan kasus kriminal anak-anak, kita akan meningkatkan razia. Tiap Senin atau upacara 17-san, kita akan koordinasi dengan sekolah untuk jadwalkan menjadi pembina upacara. Dengan itu sekalian kita memberi imbauan dan arahan bagi anak-anak langsung di sekolah mereka masing-masing," pungkas Kumara.

Sebelumnya, Kepolisian Resort (Polresta) Manado berhasil melakukan penangkapan delapan pelaku pembunuhan terhadap korban Shadam Polapa (25) warga Kelurahan Calaca Kecamatan Wenang, yang terjadi Senin (5/3) lalu.

Dari delapan pelaku, enam di antaranya masih anak-anak. Kedelapan pelaku antara lain TS alias Dito (19), JL alias Jeremi (16), JT alias Jon (15), RF alias Rifal (16), NM alias Novri (17), dan AP alias Alfi (16), AL alias Asmar, RR alias Ale (31), TS alias Dito (19).

Pelaku JL (16) saat diwawancarai mengaku menyesal telah terlibat. "Saya menyesal karena saat itu saya hanya membantu teman saya yang katanya dicegat korban. Jadi saya bantu," ungkapnya saat diinterogasi di lobi Mapolresta Manado.

Sementara pelaku JT (15) mengaku kalau itu dia tidak sadar melakukan penganiayaan. "Saya juga menyesal, karena selain terbawa emosi juga karena sudah sedikit terpancing minuman," akunya. (ran/can)

Kirim Komentar