03 Mar 2018 09:20
Dari Perayaan Cap Go Meh di Pecinan, Manado

Hujan Lebat, Ribuan Warga Tetap Bertahan

MyPassion
MERIAH: Perayaan Goan Siau Cap Go Meh memukau masyarakat Manado dan sekitarnya, Jumat (2/3). Selain parade kendaraan hias, warga dihibur dengan aksi-aksi dari para Tang Sin di kawsawan Pecinan Manado. Foto: Reza Mangantar/ MP

Rangkaian kegiatan Tahun Baru Imlek telah selesai. Ditutup dengan perayaan Suci Goan Siao atau yang dikenal masyarakat dengan Cap Go Meh. Sudah menjadi rutinitas setiap tahunnya, masyarakat Sulut menikmati perayaan Cap Go Meh.

 

Laporan: Rangga Mangowal, Marcella Makasili

SEKIRA pukul 09.00, umat Tridharma mulai melaksanakan sembahyang. Tang Sin mulai pergi mengunjungi tokoh-tokoh dan rumah di sekitar Pencinan, Kelurahan Calaca, Kecamatan Wenang. Tang Sin melakukan Tiam Hio ke tokoh dan rumah yang menyediakan persembahan syukur di meja suci.

"Maknanya, roh suci untuk memberkati, menyelamatkan kehidupan umat Tridharma. Nantinya persembahan yang ada bisa di makan dan minum. Bahkan untuk air yang di Tit (memberkati, Red) Tang Sin boleh digunakan untuk mandi," tutur Wakil Ketua Klenteng Kwan Kong Johan Rawung, kemarin (2/3).

Semakin siang, kampung Pencinan terpantau semakin ramai. Sekira ribuan orang memenuhi pinggiran jalan trotoar. "Sudah tak sabar ingin melihat tapikong. Setiap tahun memang selalu, tapi saya tetap penasaran dengan para Tang Sinnya," ujar Loni Mandak yang datang bersama keluarga.

Pukul 13.00, awan tebal mulai tampak. Masyarakat yang sejak pagi terkumpul mulai kelihatan was-was. Namun, tak sedikit yang sudah dalam persiapan. Payung telah digenggaman.

Dari semuanya, yang paling terlihat resah panitia. Mereka yang sedari pagi, bersama para pengurus kelenteng melakukan persaiapan, mulai menampakan wajah penuh harap agar tidak hujan. Masih ada tiga jam jelang acara, Sekertaris Panitia Raymond Tulenan terlihat sibuk. Dalam persiapan, sesekali dia menengadah ke atas menatap langit. “Mudah-mudahan tidak hujan keras,” katanya.

Tang Sin dari beberapa Kelenteng terlihat lalu lalang. Ada yang sudah dirasuki roh suci, beberapa masih dalam persiapan dan meditasi di dalam kelenteng. Warga sekitar yang melihat tampak makin antusias, meski atraksi sesungguhnya belum dimulai.

Pukul 14.30 di depan Mapolsek Wenang, ratusan polisi berkumpul. “Semua sudah punya tempat dan posisi penjagaan. Jadi, lakukan pengamanan dengan baik dan tertib. Laksanakan !” seru Kapolres Manado Kombes Pol FX Surya Kumara dengan lantang, sambil membubarkan barisan.

Bubarnya para polisi, disertai dengan curah hujan yang cukup keras saat itu. Beberapa warga langsung mengambil langkah seribu untuk berteduh. Namun kebanyakan telah menyiapkan payung. Suasana imlek yang kental dengan warna merah, kini jadi penuh warna-warni dengan payung.

Pukul 15.00, curah  hujan masih cukup keras. Terlihat ribuan warga sudah terkumpul di sekitar panggung utama. Jein Posumah, warga Teling, sudah sejak pukul 11.00 berdiri di sana. “Kalau datang pas jam empat, nanti tidak dapat tempat bagus,” katanya sambil menenteng dua anaknya laki-laki di tangan kirinya dan tangan kanannya memegang payung.

Pukul 15.45, tamu undangan telah terkumpul di panggung utama. Tepat pukul 16.00, Gong dibunyikan oleh Gubernur Provinsi Sulut Olly Dondokambey dan Wali Kota Manado GS Vicky Lumentut. Bertanda perayaan Cap Go Meh dimulai.

Perayaan Cap Go Meh, disampaikan Dondokambey, bertujuan melestarikan budaya Tionghoa di Sulut. "Dengan adanya perayaan ini juga turis semakin banyak datang berkunjung ke Sulut," ucapnya.

Menurut Lumentut, iven ini juga telah mengisi kalender pariwisata Manado. Dia berjanji akan membuatkan tempat khusus para penonton agar lebih nyaman menyaksikannya. "Ini sudah menjadi terobosan yang luar biasa untuk Sulut khususnya Manado. Kunjugan turis pun semakin banyak akhir-akhir ini. Tahun depan rencana akan dibuatkan tribun khusus para penonton mereka boleh duduk dengan nyaman saat menyaksikan Cap Go Meh," janjinya.

Apresiasi juga diutarakan Andrey Angow. Selaku Ketua Panitia Cap Go Meh, dia mengapresiasi warga Manado yang dengan antusias datang menyaksikan perayaan ini. "Ini merupakan puncak rangkaian Hari Raya Imlek. Kami seluruh umat Tridharma mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Manado boleh menyempatkan menyaksikan perayaan ini," ungkapnya.

Usai sambutan-sambutan, tamburan dan musik khas barongsai dimainkan. Tandanya atraksi Cap Go Meh yang sedari pagi ditunggu dimulai. Diawali dengan barisan non ritual diikuti lainnya.

Intensitas curah hujan masih tidak stabil. Namun itu tidak menyurutkan semangat masyarakat menonton. Rasa lelah bercampur dinginnya air hujan sontak hanyut ketika ribuan pasang mata melihat atraksi kedelapan Tang Sin.

Awalnya terlihat para Tang Sin melakukan gerakan menghunus pedang ke kiri dan kanan. Kemudian pedang mulai mereka layangkan keras ke punggung masing-masing.

Mata mereka yang tidak terlihat pupilnya menambah kesan ngeri. Terlihat beberapa orang tua menutup mata anak mereka ketika adegan memotong tangan diperagakan Tang Sin.

Beberapa bahkan berteriak histeris ketika melihat Tang Sin melakukan atraksi tusuk pipi dengan benda tajam. Semakin histerislah penonton ketika seorang Tang Sin menancapkan pedang ke dalam mulutnya.

Meski awalnya terlihat agak susah. Namun sang Tang Sin berhasil menancapkan sebilah pedang ke dalam mulutnya. Memang terlihat ekstrim dan ngeri. Namun masyarakat menyambut aksi tersebut dengan tepuk tangan meriah.

Di antara padatnya masyarakat yang menonton, terlihat beberapa turis juga hadir. Sambil memegang kamera yang ditutupi dengan plastik, seorang turis asal Australia bernama Georges asik mengabadikan moment tersebut. "Sangat tertarik dan suka melihat perayaan ini. Unik. Ini ketiga kalinya saya menonton Cap Go Me," kata turis yang fasih berbahasa Indonesia itu.

Di tempat yang lain, sepasang turis terlihat sedang asik berteduh. Di samping mereka ada seorang pria yang belakangan diketahui seorang tour guide bernama Febri. Sepasang turis tersebut memasang wajah serius sambil tangan menunjuk ke arah arak-arakan Tang Sin.

Melalui Febri, sepasang turis asal Jerman bernama Ralph dan Amanada itu diketahui baru pertama kali datang menonton perayaan Cap Go Meh di Manado. "Mereka bilang sebelumnya pernah melihat adegan seperti itu tapi tidak sampai menusuk-nusuk wajah. Mereka terkesan dengan atraksi itu. Katanya kalau ada kesempatan mereka akan sering datang lagi ke Manado. Orang Manado katanya friendly," ujar Febri menerjemahkan Ralph dan Amanda.

Perayaan Cap Go Meh berlangsung kurang lebih dua jam lamanya. Meski hingga gelap dan diguyur hujan yang cukup deras. Banyak masyarakat masih tetap tinggal menunggu rombongan Tang Sin balik ke kelenteng.

Ketua Walubi Kota Manado Sufandy Fang, mengucapkan terima kasih kepada Pemkot Manado dan Pemprov Sulut yang sudah berpartisipasi. "Terlebih bagi masyarakat Manado yang sudah penuh antusias menonton perayaan ini," ucapnya.

Sementara, Klenteng Ban Hing Kiong yang tidak menurunkan Tang Sin tetap merayakan Cap Go Meh. "Kami tetap melakukan sembahyang meski tidak sampai keluar (Tang Sin). Semua umat ikut memberi diri. Masakan masyarakat Manado memberi diri untuk menonton tapi kami sesama umat tidak. Jadi kita tetap melakukan perayaan suci Cap Go Me ini dengan penuh sukacita," tukas Rohaniawan Kelenteng Ban Hing Kiong, Ferry Sondakh. (***)

Kirim Komentar