15 Feb 2018 07:47
Lolos dari Lubang Maut Aorta Dissection (6)

Hampir Saja Skenario By Pass di Leher

MyPassion
Dahlan Iskan

TIDAK ada jalan lain. Tindakan harus segera dilakukan. Pecahnya pembuluh darah utama saya harus segera diatasi. Saya pun bertanya. Kapan dokter James Wong melakukan tindakan. Saya sudah siap. Baik skenario 1 maupun skenario 2.

James Wong terdiam sesaat. “Besok (hari Minggu) saya harus ke Myanmar sampai Selasa. Saya bisa lakukan Rabu,” ujarnya.

Bagi saya, demikian juga Robert Lai, teman baik saya itu. Rabu itu terlalu lama. Saya ingin dilakukan sesegera mungkin. Kalau perlu saat itu juga (Sabtu). Tapi CT scan khusus yang lebih detil masih harus dilakukan. Paling cepat hari Minggu besok.

Jadwal James Wong ke Myanmar gak bisa ditawar. Robert terpaksa menghubungi teman baik saya yang lain. Orang penting Singapura. Terpaksa.

Saya sebut dia mentor saya di banyak hal. Beliau sudah beberapa kali membantu saya keluar dari krisis. Beliau pun bergegas menjenguk saya di RS. Sambil menyalahkan mengapa tidak sejak awal menghubunginya.

Beliau pun telepon sana-sini. Akhirnya ditemukan ahli saluran darah terkemuka di Singapura. Namanya: Benjamin Chua. Prakteknya di Mount Elizabeth. Tapi berkat wibawa sang beliau, dokter Benjamin bersedia datang ke RS Mount Alvernia. Melakukan pemeriksaan. Dan memerintahkan dilakukan CT scan khusus keesokan harinya (Minggu).

Satu persatu beberapa bagian tubuh saya di scan. Otak, leher, dada atas, jantung, perut dan entah apalagi. Dua jam penuh saya menjalaninya di ruang CT Scan yang dingin. Serasa beku. Dari sinilah akan ditentukan nasib saya. Apakah harus menjalani operasi terbuka di leher. Untuk membuat bypass saluran darah ke otak kanan. Atau ada cara lain.

Siangnya dokter Benjamin melihat hasil CT Scan. Dia tersenyum. “Tidak perlu bypass,” katanya. Alhamdulillah. Saya pun amat lega. Tapi, katanya, harus dilihat sambil jalan nanti. Apakah cukup memasang stent di sepanjang saluran darah utama, atau harus ditambah dengan pembuatan cerobong ke arah saluran darah otak.

Dokter Benjamin berusia 44 tahun. Bulan lalu. Dia baru saja sukses menurunkan berat badannya. Dari 112 kg ke 96 kg. Masih ingin turun lagi lima kilogram. Dia lulusan Duke University di Virginia, AS. Saya pernah ke kampus ini dua tahun lalu. Tim basketnya juara NCAA. Kami pun punya bahan ngobrol tentang almamaternya itu. Dokter Benjamin masih memperdalam lagi ilmu saluran darahnya di Melbourne, Australia.

Baju dan celananya tampak kebesaran. Kedodoran. Kepalanya dicukur gundul. Kacamatanya cukup tebal. Dia tahu bajunya sudah tidak cocok dengan ukuran badannya now. “Kenapa tidak ganti baju?” tanya saya. “Nanti saja. Sekalian setelah turun lagi lima kilo,” katanya. “Kalau ganti sekarang istri saya bisa mengira saya punya pacar baru,” guraunya.

Kami pun kembali bicara serius. Tentang tindakan cepat untuk mengatasi rantasnya pembuluh darah utama saya.

“Saya akan lakukan tindakan Senin besok sore,” katanya. Apakah material yang akan dipasang di sepanjang saluran utama darah saya sudah siap? “Sudah,” katanya.

“Yes, Sir. I am ready,” jawab saya.

Dijelaskannya kemungkinan akan dipasang stent di sepanjang saluran utama pembuluh darah saya. Stent yang bagian atas terbuat dari bahan yang beda dengan stent bagian bawah. Panjangnya, total, sekitar 50 cm. Mulai dari belokan paling atas sampai dekat pusar di perut.

Di belokan yang letaknya sekitar 20 cm dari jantung itulah aorta saya retak. Dinding paling dalam di saluran darah itu pecah. Darah mengalir di luar jalur.

12
Kirim Komentar