08 Feb 2018 08:29

Siswa SD di Sulut Gantung Diri, Begini Reaksi Kak Seto

MyPassion
Seto Mulyadi

MANADO—Kasus bunuh diri Nathan Turangan jadi perhatian. Pasalnya, ia jadi anak dengan usia termuda di Indonesia, yang melakukan tindakan nekad itu.

 

Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak (LPAI) Seto Mulyadi pun menyorot penyebab kematiannya. Kata Kak Seto, jika benar Nathan di-bully di sekolah kemudian depresi hingga bunuh diri, maka pelaku harus ditelusuri.

“Tentu harus diusut sampai tuntas. Karena hal itu dengan jelas menghancurkan moril dan psikologis anak hingga bisa sampai pada kejadian itu,” ujarnya, saat dihubungi semalam (7/2).

Seharusnya, semua orang dalam berbagai aspek, harus melindungi anak-anak. Itu yang terus dia gencarkan dalam seminar di Kantor Gubernur Sulut belum lama ini. “Di mana semua orang dengan tegas dan wajib melindungi anak dalam segala aspek. Dilindungi oleh guru-guru di sekolah, dilindungi oleh keluarga di rumah, dilindungi oleh kepolisian dalam aspek hukum serta dilindungi oleh lingkungan dalam bermasyarakat,” ungkapnya.

Dia menambahkan, pihak sekolah harus ambil langkah untuk menekan hal serupa terjadi. “Banyak cara, salah satunya dibentuk satgas khusus untuk bullying ini. Satgas itu bertugas untuk melakukan pengawasan dan pencegahan bullying di lingkungan sekolah,” sebut Kak Seto.

Dalam kasus ini lanjutnya, jika memang setelah ditelusuri pelaku bully tersebut adalah teman sebayanya, tentu proses hukum tetap harus berlanjut. “Sekolah bisa memberi sanksi-sanksi akademik. Harus tegas,” tambahnya.

Terakhir, Kak Seto berharap pemerintah Sulut  menggencarkan program melawan bullying. “Karena anak-anak adalah kader-kader cemerlang pemimpin negara di masa yang akan datang, yang juga perlu dilindungi dan diberi naungan,” pungkasnya.

Sementara itu, Psikolog Sulut Hanna Monareh mengatakan, bunuh diri sangat berkaitan dengan kondisi mental psikologis seseorang. Kasus tersebut bisa terjadi di usia anak-anak, remaja bahkan dewasa. Artinya bayangan bunuh diri bisa datang, meskipun pada usia yang masih anak-anak.

Menurut Monareh, banyak faktor pemicu terjadinya bunuh diri. “Masalah keluarga, sekolah, percintaan, keuangan, dan lain sebagainya. Saat seseorang tidak mampu menghadapi semua masaalah yang datang maka dirinya akan cenderung memilih mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri,” jelasnya.

Seorang anak, lanjut Monareh, sangat rentan dengan hal tersebut. Karena psikologis mereka lemah dan ketidakmampuan menghadapi masalah sekitar. Tantangan anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Cara menyikapi masalah yang datang pun berbeda-beda.

“Seorang anak yang masih berusia 10 tahun ke bawah, bisa saja melakukan bunuh diri. Karena merasa disisihkan, tidak berharga, tidak bahagia, tidak bernilai, dan merasa hidupnya sia-sia,” ungkapnya.

Monareh menegaskan, anggapan tentang anak-anak hanya memikirkan bermain dan santai dalam menjalani hidup adalah hal yang salah. Karena setiap anak mempunyai karakter yang berbeda. “Jika seorang anak tidak menemukan sukacita dan kebahagiaan dalam hidupnya dan tidak ada yang memperdulikannya, maka tidak heran jika bunuh diri adalah jalan yang dia ambil,” tambahnya.

Selain itu juga, faktor lingkungan ikut mempengaruhi tindakan bunuh diri.  Anak-anak memiliki sifat pengikut. Jika dirinya sering mendengar kata bunuh diri yang diucapkan oleh lingkungan sekitar dan juga sering melihat tayangan yang berkaitan dengan hal tersebut, maka lama-kelamaan hal itu akan tersugesti. “Peran orang tua dalam hal ini sangat diperlukan,” pesan Monareh.

Dirinya pun mengimbau kepada semua orang tua jangan membiarkan anak-anaknya menyendiri, menekan, dan memberikan perhatian yang lebih terhadap anak- anak. “Jangan pernah membiarkan anak merasa tidak dibutuhkan. Berkomunikasilah dengan sang anak, agar semua masalah yang ia alami bisa diketahui dan berikan solusi dan pemahaman yang baik,” tutupnya. (tr-01/ran)

Kirim Komentar