06 Feb 2018 10:09
Kalau Rujuk, Kerja Sendiri-Sendiri

Hubungan Bupati dan Wabup Tolitoli setelah Nyaris Adu Jotos

MyPassion
BERSELISIH: Mohammad Saleh Bantilan (kanan) dan Abdul Rahman H Buding. Foto: Moh Sahar/Radar Sulteng/JPG

Meski sudah berusaha didamaikan sejumlah pihak, perselisihan bupati dan wakil bupati Tolitoli belum sepenuhnya padam. Pemicu awalnya diduga adalah bupati menolak mengganti kepala dinas transmigrasi yang diusulkan wakil bupati.

 

MUCHSIN SIRADJUDIN, Tolitoli

FOLLY AKBAR, Jakarta

BUPATI Tolitoli Mohammad Saleh Bantilan tak pernah merasa ada masalah dengan sang wakil Abdul Rahman H Buding. Karena itu, sampai sekarang dia juga tak paham apa yang melatarbelakangi insiden pada Rabu lalu (31/1).

”Waktu dia datang, saya sampai ucapkan selamat datang. Tapi, tiba-tiba tendang meja dan sebagainya,” ujar Saleh ketika ditemui Jawa Pos (Grup Manado Post) di kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Jumat (2/2) lalu.

Pertengkaran yang nyaris berakhir adu jotos antardua pemimpin tertinggi di kabupaten yang terletak di Sulawesi Tengah tersebut terjadi di Gedung Wanita, Tolitoli. Saat itu tengah dilaksanakan pelantikan pejabat eselon II serta ratusan kepala sekolah dasar.

Seperti ditulis Radar Sulteng (Grup Manado Post), ketika itu, pada awalnya seluruh proses berjalan lancar. Namun, di pengujung acara, Abdul Rahman yang baru datang dari Palu, Sulawesi Tengah, langsung menuju podium tempat bupati dan Sekkab Mukaddis Syamsuddin duduk.

Wabup lantas menanyakan sesuatu kepada Mukaddis yang kemudian memanggil Gusti Saudah selaku kepala seksi kepegawaian. Tujuannya, Gusti diminta menjelaskan sesuatu yang tertera dalam beberapa lembar kertas yang dipegang wabup. Tak lama kemudian, kertas yang dipegang tersebut disobek wabup.

Wabup kemudian berdiri dan langsung menendang salah satu sisi meja sambil berteriak. Itu terjadi saat Saleh Bantilan akan mulai membacakan sambutan. Atas tindakannya itu, Saleh pun melaporkan sang wakil ke polisi.

Lalu, setelah beberapa hari berlalu, bagaimana hubungan kedua pemimpin tertinggi di Pemkab Tolitoli itu? Tampaknya, bara belum sepenuhnya padam. Saleh, misalnya, bahkan mengaku terus terang tidak betah lagi berpasangan dengan Abdul Rahman. Sebab, dia merasa sudah tidak cocok.

Kalaupun pemerintah pusat menginginkan keduanya rujuk, pria kelahiran 5 Juli 1958 itu siap-siap saja. Hanya, proses hukum harus tetap berjalan.

Menurut dia, apa yang sudah dilakukan wakilnya itu sudah masuk kategori arogan dan mengacaukan. ”Kalau rujuk, ya sudah masing-masing saja. Saya kerja sendiri, dia kerja sendiri,” kata Saleh yang belum berniat mencabut laporan ke polisi.

Abdul Rahman pun merasa lebih tahu tentang Tolitoli ketimbang sang bupati. Sebab, Saleh disebutnya terlalu sering meninggalkan wilayah yang dipimpin.

”Saya lebih tahu bagaimana pegawai yang ada di Kabupaten Tolitoli. Dia mana tahu, dua hari di Tolitoli, satu minggu tinggalkan lagi,” katanya.

Karena itu, kalau Kemendagri memanggilnya untuk memberikan keterangan, dia siap. ”Saya akan menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.

12
Kirim Komentar