27 Jan 2018 09:44

E-Learning Tuai Pro dan Kontra

MyPassion
Ilustrasi

MANADO – Metode pembelajaran jarak jauh atau e-learning cukup banyak resiko jika dilakukan. Hal ini menuai pro dan kontra  dari pengamat pendidikan di Sulawesi Utara (Sulut).

 

Menurut Dosen Management Dr Ramon Tumiwa, sejak 2007 hal ini sudah diberhentikan pihak kementerian karena banyak kendala yang terjadi. “Tapi jika ini bisa diterapkan lagi kenapa tidak. Tapi kita pikirkan lagi bagaimana resiko kedepannya. Mungkin saja kita membuka diri dengan e-learning tapi kita tidak bisa sepenuhnya menerapkannya,” ujarnya. “Artinya tidak sekaligus harus diterapkan e-learning semuanya ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan,” sambungnya.

Dia mengatakan, kendala yang terjadi jika kuliah tidak tatap muka terjadi lagi yaitu banyak kecurangan yang terjadi, di mana yang bersangkutan tidak kuliah dengan benar. “Kemudian resiko mendapat ijazah palsu cukup besar, mendidik mahasiswa tidak sepenuhnya, tidak bisa membentuk karakter mahasiswa yang sesungguhnya,” tutur Tumiwa.

Untuk wacana seperti ini dikatakannya, kiranya dapat dipertimbangkan lagi. Harus ada sosialisasi kepada masyarakat sekitar. Kebijakan seperti ini harus lebih ketat dan efisien. Karena yang terpenting adalah mendidik dan membentuk karakter mahasiswa dengan langsung. “Sebab, jika ada mahasiswa yang mempunyai kepintaran yang sangat luar biasa tapi budi pekertinya kurang. Itu tidak ada artinya,” sebutnya.

Senada juga dikatakan Dosen IPDN Djouhari Kansil. Dia mengatakan, kuliah tidak tatap muka jika di zaman sekarang mengapa tidak. Tapi harus melihat kondisi mahasiswa. Artinya bisa dilakukan tapi tidak serta merta sepenuhnya secara online. “Seharusnya dalam segi pendidikan yang terpenting kuliah tatap muka. Karena mendidik mahasiswa secara langsung sangatlah berharga dibanding secara online,” bebernya.

Ditegaskannya, sangat berisiko jika kuliah tidak tatap muka. Apalagi hanya bisa melihat dilayar monitor itu tidak bisa menjanjikan mendidik anak-anak. “Aneh kan jika hanya pribadi sendiri di rumah terus berbicara dengan dosen di layar monitor. Mahasiswa pasti akan merasa tidak bisa menanyakan kepada teman lainnya,” ujarnya. “Bisa saja jika menggunakan dengan fasilitas yang memadai. Tapi balik lagi apakah kita semua mampu memilikinya. Jadi intinya dalam segi pendidikan lebih baik kuliah tatap muka,” tegas Kansil.

Sementara itu, Jubir Rektor Unsrat Hesky Kolibu mengatakan, pihaknya masih akan mempelajarinya seperti apa. Mengingat dunia sekarang sudah zaman teknologi tentu pihaknya mendukung. “Kami akan selalu mendukung jika kedepannya seperti apa. Tapi kita lihat lagi apakah semua mempunyai fasilitas yang memadai atau tidak,” ujarnya. “Apalagi beberapa dosen juga ada yang belum mengerti dengan konsep e-learning seperti itu,” tambahnya.

Dikatakannya, menjadi persoalannya mahasiswa siap tidak menggunakan modul e-learning seperti itu. “Siapkah mereka untuk kuliah tatap muka seperti itu. Sedangkan sering tatap muka saja yang diterapkan susah untuk kuliah, apalagi menggunakan konsep seperti itu,” tukasnya. (ela/ite) 

Kirim Komentar