23 Jan 2018 09:33

Euforia Pilkada dan Mencari Pemimpin Ideal

MyPassion
Dr. AUDY R.R PANGEMANAN

SEBUAH pesta demokrasi, baik pemilihan presiden maupun kepala daerah, pada dasarnya adalah sebagai wahana untuk menghasilkan pemimpin yang ideal. Gelaran pemilihan kepala daerah (pilkada) seketika selalu berubah menjadi platform bagi siapa saja warga Negara Indonesia yang memenuhi syarat legal-formal dan dukungan politik untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin bagi suatu daerah.

Orang kemudian berlomba-lomba untuk menjadi kandidat yang –merasa dirinya— paling pantas dan mampu sebagai pemimpin daerah. Bicara soal kepemimpinan, Sunindhia dan Ninik Widiyanti, dalam buku Kepemimpinan dalam Masyarakat Modern mengatakan terdapat tiga teori yang menonjol tentang munculnya seorang pemimpin. Pertama, “pemimpin itu dilahirkan dan bukan dibentuk”  (teori genetik).

Dalam realitas, teori ini biasanya dapat terjadi di kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja, karena orang tuanya menjadi raja maka seorang anak yang lahir dalam keturunan tersebut akan diangkat menjadi raja. Kedua, pemimpin dibentuk bukan dilahirkan (teori sosial). Setiap orang dapat dididik, diajar, dan dilatih untuk menjadi pemimpin. Ketiga, pemimpin yang dihasilkan dari faktor keturunan, pembentukan, serta lingkungan (teori ekologik).

Selain ketiga teori tersebut, muncul pula teori kontigensi atau teori tiga dimensi, yang mengatakan bahwa ada tiga faktor yang berperan dalam proses perkembangan seseorang menjadi pemimpin, yaitu (1) bakat kepemimpinan; (2) pengalaman pendidikan dan latihan kepemimpinan; serta (3) kegiatan sendiri untuk mengembangkan bakat kepemimpinan. Bertolak dari teori ini, seseorang dapat menjadi pemimpin jika memiliki bakat, kepribadian, lingkungan pembentuk, kesempatan, motivasi dan minat.

Terkait dengan pilkada, kita mungkin dapat menyandingkan keempat teori tadi dengan teori kepemimpinan Ordway Tead, yang mengatakan bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin karena membentuk diri sendiri, dipilih oleh golongan dalam hal ini konstituen, atau ditunjuk (dipercaya atau disetujui pihak atasannya). Euforia pilkada seperti sekarang ini mendorong orang untuk membentuk diri sendiri sebagai pemimpin (self constituded leader, self mademan) karena merasa dirinya bisa menjadi pemimpin atau telah terlahir sebagai pemimpin (born leader).

Selanjutnya, pilkada juga mendorong orang untuk menjadi pemimpin karena dapat dipilih berdasarkan jasa-jasanya, kecakapannya, keberanian, dan kontribusinya kepada kelompok atau organisasi. Dorongan untuk menjadi pemimpin juga muncul karena dengan basis dukungan partai politik, seseorang dapat ditunjuk, disetujui/dipercayai menjadi calon kepala daerah.

Fenomena membentuk diri sendiri sebagai pemimpin, “menabur” jasa, dan memiliki dukungan partai, bukanlah kunci utama menjadi kepala daerah yang ideal dan sukses. Idealnya menjadi kepala daerah yang sukses bukanlah pada pemenuhan syarat-syarat pencalonan, tetapi lebih dari itu pengaktualisasian komitmen, konsistensi, integritas, ilmu pengetahuan, wawasan dan pengalaman, serta kesadaran terhadap konsekuensi dari kepemimpinan pada saat menerima mandat rakyat melalui proses demokrasi pilkada.

123
Kirim Komentar