13 Jan 2018 08:45
Harga Menjanjikan

PETANI CENGKIH PANEN BESAR

MyPassion

MANADO—Dua tahun terakhir, petani cengkih hanya bisa gigit jari. Walaupun harga sempat naik hingga di atas Rp 100 ribu per kilogram (kg), namun banyak petani cengkih yang gagal panen. Akibatnya, jumlah produksi cengkih selang dua tahun terakhir berkurang.

Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Sulut mencatat, untuk produksi cengkih tahun 2015 yaitu 20 ribu ton. Sedangkan untuk tahun 2016 turun menjadi 50 ribu ton. Tahun 2017, naik sedikit sekira lima persen. Atau hanya ketambahan 1.000 ton menjadi 16 ribu ton.

Namun, tahun ini, petani cengkih bakal tersenyum. Panen besar menanti. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan melalui Kasubag Perencanaan Yohannis Pandey menuturkan, untuk tahun ini, produksi akan naik. “Jika cuaca tidak berubah, kemungkinan panen cengkeh akan terjadi sekira bulan Juli dan Agustus,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, cengkih berada dalam masa berbuah yang paling bagus saat musim panas. “Karena, jika diawali dengan musim panas maka ia akan menjadi bakal cengkih. Namun perlu diantisipasi, jika cuacanya berubah menjadi curah hujan tinggi. Jika sudah menjadi bakal cengkih, maka akan jatuh jika dihantam hujan,” jelasnya.

Sementara terkait data produksi cengkih, Pandey menuturkan, untuk angka tetap tahun 2017 nanti ditetapkan pada bulan April. Karena angka sementaranya, mesti dikoordinasikan dengan pusat dahulu.  “Namun untuk kenaikannya tahun 2017 hanya naik kecil dari tahun 2016. Sekira 5 persen,” tandasnya.

Sementara, terkait penyebaran komoditas cengkih di Sulut, Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan Sulut Drs TH Siregar mengatakan, data terakhir menunjukan, untuk tahun 2016 total lahan perkebunan cengkih di Sulut mencapai 76 ribu Hektare (Ha). “Sedangkan untuk produksi cengkih, di tahun 2016 mencapai 15 ribu ton. Paling banyak di Minahasa sebanyak 5 ribu ton, disusul Minahasa Selatan 3 ribu ton,” beber Siregar.

Dia pun berujar, cengkih masih dapat mensejahterakan petani Sulut.  “Cengkih masih sangat menjanjikan bagi petani Sulut, sekarang harga pasarannya sudah mulai menanjak naik,” paparnya. Sementara untuk pasar luar negeri, dia melanjutkan, masih sangat menjanjikan. Khususnya, jika produksi ditingkatkan. “Kita akan coba ekspor cengkih ke Asia dan Eropa, kualitas cengkih kita kan sangat baik,” ujarnya.

Dia pun berharap, para petani dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan dapat mengolah cengkih yang ada menjadi produk jadi. Misalnya, minyak cengkih dan rempah-rempah. “Jangan hanya dibawa di pabrik rokok saja,” harapnya sembari menegaskan produksi cengkeh tahun ini akan meningkat.

Penurunan produktifitas cengkih sesuai dari tahun 2015, turut diakui Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulut Jenny Karouw. Menurutnya, beberapa tahun produksi cengkih di Sulut mengalami penurunan, dan tidak sesuai yang diharapkan.

“Produksinya sangat jauh dari target, karena memang kondisi musim hujan yang terlalu berkepanjangan,” ujarnya. Bahkan, dirinya membeberkan, beberapa tahun ini Sulut sudah tidak mengekspor cengkih. “Saat ini, ekspor Sulut sudah didominasi produk kelapa dan bahan lainnya. Tak ada lagi cengkih,” sesalnya.

123
Kirim Komentar