10 Jan 2018 10:06

Perusahaan Harus Siap Hadapi FinTech

MyPassion

MANADO—Perkembangan ekonomi digital tak hanya didukung oleh lembaga jasa keuangan yang telah ada. Seperti perbankan, pasar modal, asuransi, dan perusahaan pembiayaan lain. Namun juga oleh para perusahaan pemula yang secara inovatif memanfaatkan teknologi untuk menyediakan layanan keuangan atau disebut Financial Technology (FinTech).  Dampak pada lembaga pembiayaan, perbankan dan keuangan lainnya pun perlu diperhatikan.

Pengamat ekonomi Sulut Dr Victor Lengkong menuturkan, secara mendasar setiap era ada tren bisnisnya.  “Saat ini dengan berhasilnya program laku pandai, program keuangan inklusif, sehingga membuat tingginya akses perbankan untuk semua lapisan masyarakat. Hal ini membuat perusahaan perlu mendesain produk-produk perbankan seperti ekspansi ke asuransi dan pembiayaan,” ucap Lengkong.

Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Manado ini menjelaskan, hal yang dikuatirkan atau menjadi pertanyaan umum apakah para pegawai akan tergantikan atau berimplikasi dengan hadirnya layanan perbankan di setiap tempat. “Misalnya seperti membayar pulsa, rekening, transfer, tunai, pembayaran non tunai dan lain-lain,” imbuhnya.

Untuk menghadapi ini, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsrat ini menuturkan, perbankan perlu memperkuat lembaga training centre dan research and development centre khusus mengenai IT. “Hal ini untuk mengakomodir kepentingan layanan produk perbankan yang terus berinovasi,” tambahnya.

Dia menuturkan, kemampuan dan kapasitas pegawai yang ada pun perlu ditingkatkan. “Hal tersebut untuk berbagai bentuk produk investasi keuangan (wealth management),” kuncinya.

Senada, Prof Dr David Saerang SE MCom mengungkapkan kemajuan teknologi itu adalah suatu keniscayaan. “Mau tidak mau, suka tidak suka segala proses transaksi akan masuk kesitu,” ujarnya. Hal ini akan makin mengefisienkan kinerja perusahaan tersebut. “Hanya tergantung kesiapan sumber daya dan sarana prasarana dari perusahaan yang terlibat,” ungkapnya.

Dalam jangka panjang, menurutnya, hal ini akan tercapai juga. “Hanya dalam waktu yang singkat ini akan ada sebagian yang tidak siap, tapi pasti harus kesana karena bisnis proses ini kan harus dibidang teknologi,” tegasnya. Kedepan, dia melanjutkan, hal ini akan mempengaruhi karyawan. “Kemungkinan jumlah karyawan akan tidak banyak lagi diperlukan,” ungkap Saerang.

Kecuali, dia menekankan, karyawan tersebut meningkatkan kemampuan digital teknologinya. “Karena memang tidak ada jalan lain,” katanya. Jadi, menurutnya infrastruktur merupakan hal pokok yang harus dibenahi perusahaan dan kemudian menyiapkan orang-orang untuk melaksanakan itu. “Tahun 2018 kedepan suatu keharusan mempersiapkan diri untuk menghadapi fenomena ini kalau tidak ingin ketinggalan, karena semua sekarang perlahan-lahan mulai menggunakan digital teknologi,” tutup Ketua Program Doktor Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis (FEB) Unsrat tersebut. (ctr-01/fgn)

Kirim Komentar