10 Jan 2018 10:31

Gawat! Seminggu, Tiga Warga Gantung Diri

MyPassion
Ilustrasi

MANADO—Fenomena gantung diri awal tahun ini bikin gempar warga Sulut. Hanya seminggu berjalan, sudah tiga kasus terjadi. Yang terbaru, korbannya Yustus (44), warga Desa Kuyanga Jaga I, Kecamatan Tombatu Utara, Kabupaten Minahasa Tenggara. Ia ditemukan tewas gantung diri di rumahnya, Senin (8/1) sekira pukul 19.30 Wita.

 

Korban ditemukan pertama kali oleh saudarinya, Jein (47), warga desa setempat, saat mengantar makanan. Diketahui, korban selama ini hidup seorang diri. Korban malam itu didapati tergantung pada seutas tali nilon yang terikat di tiang dapur rumahnya. Kapolsek Tombatu, Iptu Wensy Saerang membenarkan adanya kejadian tersebut. Hasil pemeriksaan tim medis, lanjutnya, korban diperkirakan meninggal dunia sudah empat hari. Polisi menduga, korban mengalami depresi karena belum juga menikah, sehingga nekad mengakhiri hidupnya.

Sebelumnya, serupa juga terjadi di Minahasa Selatan. AM alias Aldi (20), warga Desa Boyong Atas, Kecamatan Tenga, nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di lokasi pengeringan kelapa perkebunan Desa Boyong Atas, Sabtu (6/1). Jasadnya pertama kali ditemukan Eden Lengkong dalam kondisi tergantung. Kapolsek Tenga Iptu Muhammad Amri menjelaskan, dari keterangan beberapa kerabat dekatnya, diketahui korban memiliki masalah dengan pacarnya. “Adapun saran otopsi yang kita ajukan telah ditolak keluarga dengan alasan telah menerima peristiwa ini sebagai musibah,” tandasnya.

Selanjutnya gantung diri juga hebohkan wilayah Nusa Utara. di Kepulauan Sangihe tepatnya di Kampung Kendahe I, digegerkan penemuan mayat dengan korban Herson Pedorongan (45), warga setempat. Berdasarkan keterangan saksi yang juga istri korban, Mariana Janis (50), saat itu korban yang sudah mengkonsumsi minuman keras (miras), bertengkar dengan dirinya. “Jumat pekan lalu, sudah tiga kali terjadi pertengkaran. Kira-Kira pukul 18.00, kami hendak pergi beribadah, namun karena ibadah sudah dimulai kami kembali ke rumah,” terang Mariana kepada kepolisian.

Tiba di rumah, kembali terjadi pertengkaran diantara mereka. Saat itulah istri korban keluar rumah dan duduk di halaman rumah. Kemudian korban langsung mengunci semua pintu rumah dari dalam. Semua pintu dipasang paku. Lalu semua lampu dipadamkan. “Saat itu saya sempat berkata untuk membukakan pintu, jika tidak akan melapor ke kepolisian. Namun dia tidak menghiraukan dan berkata tidak usah lapor polisi, saya sudah mau mati,” ungkapnya. Mendengar pernyataan suaminya, saksi berjalan memutar dari arah pintu samping, kemudian mendobrak pintu utama dan menyalakan lampu. Saat itu masuk ke ruang tamu, ia melihat suaminya sudah berdiri di atas kursi plastik yang disusun untuk dijadikan pijakan kaki.

Kapolres Sangihe, melalui Paur Humas Ipda Nuryani Kampungbae mengatakan sudah menjelaskan akan dilakukan otopsi mayat guna mengetahui penyebab kematian korban. Namun, keluarga sepakat tidak melakukannya. Menurut Psikolog Hanna Monareh, seseorang rentan bunuh diri karena ada perasaan dalam diri korban merasa tidak berharga, tidak bahagia, tidak bernilai dan merasa hidup sia-sia. “Misalnya mereka kehilangan perasaan senang, sukacita, dan bahagia dalam diri. Jangan biarkan mereka sendiri ketika sedang dalam masalah atau depresi. Sendiri, membuat seseorang semakin terpuruk dengan kesedihan. Dan akan berpikiran pendek,” tandasnya.(gnr)

Kirim Komentar