09 Jan 2018 10:05
Kadiv Imigrasi: Tak Berpengaruh di Sulut

Sistem Paspor Online Diretas

MyPassion
Ilustrasi

MANADO—Sistem pengajuan paspor secara online milik Imigrasi mengalami gangguan setelah diserang peretas. Akibatnya para calon pemohon paspor yang hendak mengajukan permohonan pendaftaran online menjadi bermasalah. Bagaimana di Sulut?

 

Persoalan tersebut tak ditampik Kepala Divisi Keimigrasian Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (KemenkumHAM) Provinsi Sulut Dodi Karnida. Tapi, menurutnya masalah itu tak sampai berdampak ke tanah Nyiur Melambai. “Iya, sampai sejauh ini tidak berpengaruh terhadap sistem pelayanan paspor di Sulut,” kata Karnida, ketika dikonfirmasi Selasa (8/1) kemarin.

Hal tersebut katanya karena volume permohonan penerbitan paspor relatif kecil di daerah ini. “Tidak seperti di daerah-daerah di Jawa yang permohonannya relatif tinggi,” pungkasnya.

Diketahui, Kepala Bagian Humas dan Umum Ditjen Imigrasi KemenkumHAM RI Agung Sampurno mengatakan, setidaknya ada 20 akun yang melakukan pendaftaran sekitar 4.000 kali. ”Pendaftaran sebanyak itu tentu tidak wajar,” tandasnya.

Pada akhir September hingga Desember 2017, misalnya,  terjadi antrean pemohon, sehingga belum bisa terlayani hingga Januari 2018. Hasil investigasi intelijen Ditjen Imigrasi menemukan seseorang yang sengaja mengganggu sistem aplikasi antrean pendaftaran paspor. ”Hasil investigasi menunjukkan adanya permohonan fiktif yang datanya mencapai 72 ribu lebih,” ujar Agung. ”Betul itu masuk kategori kejahatan siber,” tambah dia.

Agung menjelaskan, modus yang dilakukan pelaku adalah dengan mengajukan pendaftaran online dengan berkali-kali hingga mencapai 4.000 kali. Hal tersebut membuat kuota pendaftaran yang tersedia langsung habis. “Ada top 20 oknum yang melakukan pendaftaran antara 1.000-4.000 kali, akun dan ID device yang bersangkutan (kini, Red) diblok dan di-black list,” imbuhnya.

Pihak Imigrasi terus menyelidiki temuan tersebut. Mereka masih mengumpulkan bukti-bukti sebelum diserahkan kepada penyidik kepolisian. ”Karena untuk mengungkapnya diperlukan expert atau keahlian,” kata pria kelahiran Malang, Jawa Timur itu.

Soal gangguan terhadap sistem aplikasi antrean paspor, sejak 25 Desember 2017 Ditjen Imigrasi telah melakukan pengembangan dan penyempurnaan aplikasi. Ditargetkan pada Februari aplikasi dengan performa baru akan diimplementasikan. ”Terlebih dahulu didaftarkan di google apps,” kata Agung.(gnr)

Kirim Komentar