09 Jan 2018 09:59

Selaraskan DUDI dan Pendidikan

MyPassion
AG Kawatu

MANADO—Pendidikan dan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI) seperti sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Namun, saat ini masih ada ketidak sesuaian antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Hingga banyak yang belum mendapatkan pekerjaan karena tidak sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan.

 

Kepala Dinas Pendidikan Daerah Provinsi Sulut, AG Kawatu SE MSi mengatakan, saat ini penyesuaian pendidikan dengan kebutuhan DUDI memang harus selaras. "Karena sekolah tidak dapat lagi kita pikirkan sebagai suatu lembaga sosial yang berdiri sendiri. Sekolah harus kita pandang sebagai suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat lokal, daerah maupun nasional," katanya, Senin (8/1) kemarin.

Lanjutnya, ada dua peran yang dapat menyelaraskan pendidikan dan DUDI. "Yakni peran sosial ekonomi dan peran sosial budaya. Khusus pendidikan vokasional yakni SMK itu sudah disiapkan terjun ke dunia kerja," katanya.

Selanjutnya pelaksanaan pendidikan di DUDI disebut praktik kerja industri sedangkan pelaksanaan pendidikan sekolah adalah proses belajar mengajar dengan jam-jam pelajaran yang telah ditentukan.

Yang menjadi permasalahan diakui Kawatu, banyak yang masih tidak memiliki pekerjaan. "Saat ini masih cukup banyak yang belum memiliki pekerjaan. Sementara di saat yang sama, dunia usaha mengalami kesulitan untuk merekrut tenaga kerja terampil yang sesuai dengan kompetensi dibutuhkan dan siap pakai," tukasnya.

"Ini menunjukkan bahwa antara dunia industri dengan ketersedian tenaga terampil di Indonesia. Ini penting, sebab di era MEA, serbuan tenaga kerja asing akan meminggirkan dan mempensiundinikan tenaga kerja. Untuk itu, kita harus memperbaiki dan menyempurnakan kurikulum di sekolah yang harus mampu menjawab masalah ini," pungkas Kawatu.

Sementara itu, Pengamat Pendidikan Dr Ferry Mandang MPd membenarkan pendidikan dan DUDI tidak bisa dipisahkan karena melihat perkembangan yang sampai saat ini semakin maju. “Ketika industri semakin maju itu mencerminkan negera tersebut sudah masuk pada capaian yang diharapkan. Bagaimana kosekuensinya harus terus terpelihara dan berlangsung,” imbuhnya.

“Pada prinsipnya tingkat pendidikan berada di atas. Memang ada sekolah kejuruan ketika tamat langsung bekerja. Pada sebagian besar masuk ke perguruan tinggi dan itu memiliki kepuasan tersendiri bisa digunakan ketika bekerja,” tambah Kaprodi S2 Bahasa Indonesia Unima.

Dibeberkannya sekolah pada umumnya hanya dapat memberikan berbagai keterampilan dan pengetahuan dalam bentuk simulasi sehingga tidak mungkin diharapkan untuk menghasilkan tenaga kerja yang profesional. “Oleh karena itu, diperlukan suatu kerjasama yang erat antara sekolah dan industri, baik dalam perencanaan dan penyelenggaraan, maupun dalam pengolalaan pendidikan,” bebernya. (ela/ria)

Kirim Komentar