09 Jan 2018 09:56

Harga Cengkih, Kopra dan Vanili Tak Stabil

MyPassion

MANADO—Mengawali tahun ini, harga dan komoditi unggulan Sulut, cengkih, mengalami penurunan. Tahun harga jual relatif murah dibandingkan tahun lalu. “Tahun lalu harganya bisa menyentuh Rp 100 ribu per kilogram (kg), namun awal tahun ini mengalami penurunan.  Per kilonya menjadi Rp 98 ribu,” ucap Boy Palit, pedagang cengkih di bilangan pasar Karombasan, kemarin.

Sementara untuk kopra, lanjutnya, berkisar di Rp 9 ribu sampai Rp 10 ribu per kilogram. “Harganya masih belum stabil. Apalagi sekarang musim hujan, itu cukup berpengaruh pada pasokan barang,” ungkapnya.

Pedagang lain, Yopi, menamnbahkan semenjak membuka kiosnya dirinya hanya membeli kopra saja. “Saat ini masih kopra. Per kilonya saya ambil dengan harga Rp 9 ribu. Kalau vanili masih belum, karena kosong.  Apalagi baru selesai libur panjang, jadi harganya masih penyesuaian. Saya belum mendapatkan harga yang jelas mengenai penjualan cingkeh dan vanili,” bebernya.

Dirinya pun berharap pasokan vanili akan segera terpenuhi kembali. Karena saat ini semua stok vanili sudah dikirim keluar daerah, sehingga untuk Sulut kehabisan stok. “Semoga tahun ini stok vanili normal kembali. Karena dua tahun lalu banyak petani Sulut yang menanam vanili semoga tahun ini pasokannya cukup banyak,” dia berharap.

Terpisah pengamat ekonomi Sulut Dr Ventje Ilat SE MSi menilai, ketidak adaan pasokan vanili di beberapa tempat secara tidak langsung bisa berdampak pada perekonomian. “Meskipun tidak terlalu besar, tapi cukup membuat perekonomian Sulut lesu. Hal ini dikarenakan vanili merupakan salah satu hasil pertanian yang memberikan retribusi besar untuk pendapatan daerah,” katanya. “Jadi amat disayangkan jika awal tahun ini pasokannya berkurang ataupun kosong,” sorot Ilat.

Dirinya pun mengimbau pada para petani, agar mampu memanfaatkan lahan yang ada untuk menanam vanili, sehingga ketersediaan vanili di Sulut, tidak perlu lagi di impor dari luar. Karena, dirinya menilai Sulut merupakan daerah yang cukup mampu mengakomodir kebutuhan masyarakatnya. “Vanili ini merupakan bahan makanan yang sangat diperlukan. Seharusnya stoknya tidak bisa kosong. Pemerintah juga harus mengatur hal tersebut, agar ketersediaan vanili tetap ada, di tahun ini,” pungkasnya.

Pengamat pertanian Sulut Ir Dedie Tooy MSi PhD mengatakan, selain sebagai komoditi unggulan, cengkih bisa dijadikan program strategis jangka panjang.  “Perlu diingat cengkeh bila dikaitkan dengan program rempah nasional merupakan komoditi yang nilai jualnya tinggi,” ujarnya.

Dia menambahkan, prospek pasar cengkih saat ini masih besar di industri rokok. “Nilai tambahnya menjadi tinggi jika kemudian dapat diolah menjadi minyak asiri seperti parfum dan di sektor farmasi,” ujarnya. Terkait ekspor, ekspor cengkeh menurutnya Sulut masih belum mampu.

“Masih perlu ada dana rehabilitasi tanaman cengkeh di sektor hulu,” ucapnya. Sektor hilir perlu pendampingan pemerintah.  “Bila dijadikan program strategis maka cengkih akan dikeroyok tidak hanya Kementerian Pertanian tapi juga kementrian lain yang terkait,” pungkas Tooy. (ctr-02/fgn)

Kirim Komentar