08 Jan 2018 10:17
Bersua dengan Jemmy Mokolensang, Lawyers Yang Multitalenta

Sempat Bercita-cita Jadi Seorang Pendeta

MyPassion

TAK hanya diakui dalam bidang politik dan kenegaraan. Putra-putra Sulut juga sukses di berbagai bidang. Salah satunya dalam dunia hukum sebagai seorang pengacara. Jemmy Mokolensang, putra sulut kelahiran desa Kolongan Minahasa Utara ini salah satunya. Dia putra sulut yang sukses di dunia advokat dan lawyers.

 

Lahir di desa kolongan 14 Januari 1966, Jemmy menamatkan pendidikannya hingga smp di desa kolongan dan berlanjut mengenyam pendidikan di SMA Negeri 1 Manado. "Setelah lulus SMA saya masuk Unsrat dan mengambil fakultas Hukum. Meski awalnya saya ingin menjadi seorang pendeta, namun mungkin bukan kehendak Tuhan, jadi saya tetap fokus kuliah di hukum. Saya pikir tanpa harus diatasi mimbar pun saya masih tetap bisa melayani," ungkapnya saat ditemui di daerah Kuningan, Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Lulus dan mendapatkan gelar sarjana hukum, dirinya merantau ke ibukota untuk mengadu nasib. Meski besar di keluarga yang berkecukupan, namun sosok Jemmy tidak mau bergantung pada keluarga. Dirinya mengaku mengagumi sosok sang ayah yang kerap mengajarkan dirinya kerja keras agar tahu hidup susah. "Orangtua saya selalu mengajarkan untuk hidup susah, artinya tidak bergantung dengan harta orangtua namun berusaha untuk kerja dan belajar," ujarnya.

Figur sang ayah sangat menginspirasinya. Mengajarkannya untuk hidup berusaha dan menuntut ilmu serta berserah kepada Tuhan. Mokolensang sempat diberikan tawaran bekerja di Departemen Luar Negeri. Namun sadar akan kemampuannya saat itu, dirinya mengambil langkah untuk mundur. "Awal ke Jakarta tahun 1990 bertujuan untuk kerja di Departemen Luar negeri. Tapi kemudian saya sadar diri, karena waktu itu saya kurang menguasai bahasa Inggris akhirnya saya tidak melanjutkan," cerita ayah dua orang anak ini.

Sebelum terjun di dunia lawyers, Mokolensang sempat berjuang diberbagai dunia pekerjaan di Jakarta. Mulai dari agen asuransi, jualan catering, hingga jadi debt kolektor. "Di Jakarta saya bekerja di sebuah asuransi jadi sales sambil saat itu saya jual katering makanan sampai masuk ke kantor-kantor. Saat itu saya pikir yang penting saya kerja halal dapat duit, tidak perlu gengsi jadi semua saya kerjakan. Bahkan saya juga sempat menjadi Debt Collector," tegas salah satu ketua bidang di Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) ini.

Selanjutnya, di tahun 1991 dirinya mengambil pendidikan advokat selama 6 bulan. "Tahun 1992 saya sudah dapat penempatan dan sudah mulai praktek sebagai advokat. Sambil terus menjalankan sebagai sales asuransi dan menjual katering," Sebutnya sambil mengenang.

Pengalaman itu memberikannya banyak pelajaran hidup di kerasnya ibukota. Perjuangannya pun tak sampai di situ. Karirnya sebagai agen asuransi saat itu terbilang bagus. Dia sempat dipercayakan sebagai Agency Area Maneger dan membidangi empat kepala cabang yang ada di Jakarta. "Jadi saat itu saya sempat mengerjakan tiga pekerjaan sekaligus. Sebagai sales asuransi, jual katering dan pengacara. Di asuransi saya sudah sampai di posisi General Manager tapi saya berpikir saya harus fokus di satu jalur, dan saya memilih fokus menjadi lawyer," ceritanya.

Memperdalam ilmu hukumnya, Mokolensang akhirnya menjadi advokat dan konsultan hukum. Profesi ini pun terus ditekuninya hingga saat ini. "Kebetulan saya juga dapat berkat dari seorang saudara yang diberkati dan saya diberikan kantor dan Puji Tuhan sampai saat ini terus berkembang," ujar suami dari Coinsco Grace Sumolang ini.

Berbagai kasus pun ditanganinya dengan baik, termasuk beberapa perkara yang cukup menarik perhatian publik. "Saya juga pernah menjadi kuasa hukum beberapa artis. Salah satunya Julia Peres, sewaktu almarhum berseteru dengan Dewi Persik," katanya.

Namun ada kasus lain yang diakuinya membawa banyak pelajaran baginya. "Itu kasusu pertama yang saya tangani. Saat itu saya membela seorang pemulung yang dituduh melakukan kasus pembunuhan. Tim kami sudah buktikan saat itu dengan bukti-bukti yang ada bahwa bukan si pemulung itu pelakunya. Tapi kejadian saat itu, majelis panggil saat itu dan sampaikan bahwa harus menyiapkan sejumlah uang supaya bisa memenangkan perkara. Saya saat itu langsung bergumul dan berserah kepada Tuhan. Saya mengambil pelajaran dari kasus pertama itu  dan saya tetap survive sampai saat ini. Itulah proses yang saya hadapi," cerita salah satu  ketua Persekutuan Karyawan Kristen Oikumene di Jakarta ini.

Mokolensang pun berpesan untuk generasi muda sulut untuk tetap mengandalkan Tuhan dalam segala pekerjaan. "Mau pekerjaan apapun, asalkan dengan mengandalkan Tuhan pasti bisa berkembang dan sukses. Intinya berserah pada rencana Tuhan dan jangan andalkan kemampuan diri sendiri," pungkas anggota aktif Indonesia Lawyers Club ini.(rangga)

Kirim Komentar