08 Jan 2018 12:07
2017, Sudah 40 Toko Ditutup

Bisnis Ritel di Sulut Belum Mati

MyPassion

MANADO—Bisnis ritel secara nasional mulai mengkhawatirkan. Terbukti, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mencatat, secara nasional tahun lalu ada sekira  30 sampai 40 toko yang tutup.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menuturkan, untuk skala nasional memang mengalami penurunan yang cukup signifikan. “Memang usaha ritel secara nasional ada sedikit mengalami penurunan dibanding tahun yang lalu. Ya, sekitar 10 sampai 12 persen untuk minat beli masyarakat di pasar ritel modern,” ungkapnya.

Berdasarkan data Aprindo, semester I 2017 industri ritel hanya mengalami pertumbuhan 3,7 persen sedangkan tahun sebelumnya masih di atas 10 persen. Namun untuk semester II 2017, dia optimis akan ada pertumbuhan. “Kami optimis ritel secara utuh akan ada pertumbuhan, meskipun lambat,” katanya.

Terkait banyak usaha ritel yang tutup, seperti beberapa toko Matahari dan 7-eleven, dirinya tidak banyak memberi komentar. “Sudah biasa kalau tutup, mungkin di tempat itu sudah tidak banyak peminat dan pindah ke tempat lain,” terangnya.

Sementara, menurut pandangan Aprindo Sulut, kondisi 2017 terjadi anomali. Ketua Aprindo Sulut Andy Sumual melalui Sekretaris Robert Najoan mengungkapkan, secara data ekonomi, pertumbuhan ekonomi, daya beli dan indikator lain menunjukkan hal positif. “Walau faktual yang kami alami sedikit berbeda.  Telah terjadi 'disruption' atau pola bagaimana orang berbelanja,” kata dia.

Dia menuturkan, kompetisi kian ketat.  “Transmart buka tapi ada juga supermarket yang tumbang. 'Kue' akan terbagi-bagi, banyak tantangan, tapi ini juga peluang. Kita berharap dan optimis bisnis ritel ini akan lebih cerah,” ungkapnya optimis.

Terpisah, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut Soekowardojo menjelaskan, pesatnya perkembangan bisnis ritel di Sulut, karena tingginya tingkat konsumsi masyarakat. Sehingga banyak investor di bidang ritel tak ragu menanamkan investasinya di daerah ini. Hal tersebut ditopang kondusivitas dan stabilitas perekonomian Sulut sebagai jaminan utama.

“Daya konsumsi warga Sulut cukup baik bagi pertumbuhan bisnis ritel. Bisa kita lihat, tenant fashion, aksesori, maupun handphone terus bertambah. Ini membuktikan daya beli masyarakat di sini cukup baik bagi jalannya bisnis ini,” ujarnya.

Dia menjelaskan, dikaitkan dengan PE di tahun 2017, walaupundi triwulan I dan II melambat, namun masih bertumbuh. Sedangkan untuk faktor pendukung pertumbuhan ekonomi, kata Soekowardojo, sektor pertanian, perkebunan dan pertanian masih menjadi motor penggerak. “Termasuk masuknya sejumlah bisnis ritel di Sulut,” tukas Soekowardojo. (fgn)

Kirim Komentar