04 Jan 2018 09:02
Pastor yang Ngefans Agnes Mo

Pater Al Gesu, Rohaniwan Indonesia yang Bertugas di Israel

MyPassion
MELAYANI: Pater Al Gesu bersama wartawan Jawa Pos.

Panggilan untuk menjadi gembala umat itu baru dia dengar pascagempa Jogja 2006, saat menjadi salah seorang relawan di sana. Kini, bekerja di jalan-Nya, Pater Al Gesu justru berkarya jauh dari kampung halaman.

 

INDRIA PRAMUHAPSARI, Nazareth

 

KALAU kamu sungguh-sungguh ingin bersekolah di sana, hanya satu kuncinya. Saat ditanya apa cita-citamu, maka kamu harus menjawab: menjadi pastor.”

Itulah kalimat Maria Goreti Du'e yang tidak pernah bisa dilupakan Erens Albertus Novendo Gesu. Berkat kalimat itu, impian Al Gesu –sapaannya– untuk bersekolah di SMP Seminari St Yohanes Berchmans, Mataloko, Ngada, Nusa Tenggara Timur, tercapai.

Di daerah tempat tinggalnya, SMP Seminari itu biasa disebut seminari kecil. Selama tiga tahun, Al Gesu bersekolah di sana.

Rabu (27/12), di Hotel Rimonim, Nazareth, Israel, Al Gesu mengatakan bahwa sebenarnya motivasi bersekolah di seminari kecil bukanlah untuk menjadi rohaniwan. Dia hanya ingin punya banyak teman pria. Dengan permainan-permainan khas lelaki. Lebih menantang.”Saya ini sulung dari lima bersaudara. Adik saya yang nomor dua perempuan. Tiap kali pulang sekolah dan sampai rumah, maka saya terpaksa bergaul dengan teman-teman adik saya yang semuanya perempuan. Sebab, anak-anak tetangga kami kebetulan perempuan semua,” ungkap lelaki yang berulang tahun tiap 15 November tersebut.

Karena SMP Seminari St Yohanes Berchmans merupakan bagian dari kompleks SMP-SMA dengan nama yang sama, Al Gesu melanjutkan SMA di sana. Jadilah pemuda yang kini berumur 30 tahun itu bersekolah di seminari selama enam tahun. Yakni seminari kecil dan seminari menengah.

Sebagaimana para siswa seminari yang lain, Al Gesu pun seperti punya beban untuk melanjutkan pendidikannya di seminari. Tepatnya seminari tinggi. Sekolah calon pastor.

Tapi, sebelum itu, para lulusan seminari menengah punya kesempatan untuk menimbang-nimbang panggilannya sebagai rohaniwan dalam masa postulat. Masa pengenalan awal pada kehidupan calon rohaniwan.

Pada 2005, Al Gesu menjadi postulan. Postulan adalah sebutan bagi para lulusan seminari menengah yang sedang menjalani masa postulat. Ketika itu, dia melewati masa penting tersebut di Postulat OFM Papringan di Jogjakarta.

Sebagai postulan, Al Gesu juga wajib melewati masa live-in. Yakni hidup bersama komunitas masyarakat tertentu dan membaur di sana. Seperti seorang mahasiswa yang mengikuti KKN (kuliah kerja nyata), dia pun menginap di kediaman salah seorang warga dan menjalani kehidupan normal layaknya keluarga di rumah tersebut.

Ketika itu, dia live-in di rumah seorang penderita kusta di Pati, Jawa Tengah. Pada masa itu, Al Gesu mulai dihadapkan pada pertentangan batin. Meski jalannya menuju seminari tinggi mulus, karena sudah menjadi siswa seminari kecil dan seminari menengah, ternyata dia juga menyimpan keinginan untuk menjadi mahasiswa biasa. Artinya, tidak melanjutkan pendidikan ke seminari tinggi.

”Ketika itu, saya sudah mendaftar ke UPN Veteran dan cari kos di daerah sana juga,” ujar Al Gesu. Tapi, di tengah pergolakan batinnya itu, Jogjakarta diguncang gempa.

Putra Anselmus Waja itu pun langsung tergerak. Dia menjadi sukarelawan di kota pelajar tersebut. Saat itu juga, dia merasa seperti mendapatkan jawaban. Yakni, bahwa dia memang terpanggil untuk menjadi pelayan Tuhan. Sebab, jauh di dalam lubuk hatinya, dia memang selalu suka melayani. 

Karena itu, setelah menuntaskan lakon hidupnya sebagai sukarelawan di Jogjakarta, Al Gesu melanjutkan proses menjadi pastor. Pada 2006, dia menjadi novis (siswa di masa pendidikan awal) di Novisiat OFM, Depok, Jawa Barat.

Tahun berikutnya, dia mantap melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Empat tahun kemudian, lelaki yang suka guyon tersebut menjalani TOP (tahun orientasi pastoral) di Seminari Stella Maris, Kota Bogor, Jawa Barat.

12
Kirim Komentar