04 Jan 2018 10:05
Pengamat: Petani Sulut Relatif Konsumtif

NTP Bukan Ukuran Kesejahteraan

MyPassion

MANADO—Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut merilis data Nilai Tukar Petani (NTP) Sulut untuk bulan Desember. Tercatat, NTP Sulut untuk Desember mengalami peningkatan. Yaitu, untuk Desember 2017, NTP Sulut berada di angka 96,16. Naik 1,30 persen secara year on year (YoY) dengan bulan yang sama tahun lalu yaitu 93,94 (lihat grafis, red).

Pengamat pertanian Sulut, Deddy Tooy menjelaskan, NTP dipengaruhi oleh pendapatan dan kebutuhan utama atau biaya hidup dari petani atau konsumsi rumah tangganya. “Meman secara angka, petani nanti dikatakan sejahtera jika NTP di atas 100. Artinya biaya produksi masih lebih rendah di banding nilai jual komoditas pertanian,” jelasnya.

Dosen Fakultas Pertanian Unsrat ini membeberkan, petani Sulut memang relatif konsumtif. Dia menjelaskan, indeks konsumsi rumah tangga dikelompokkan menjadi bahan makanan, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, perumahan; sandang, kesehatan, pendidikan, rekreasi dan olahraga,transpor serta komunikasi.

“Nah, konsumsi makanan jadi dan bahkan komunikasi seperti pulsa atau handphone bahkan kegiatan yang sifatnya sosial dan kemasyarakatan seringkali menjadi penyebab tingginya konsumsi petani,” katanya.

Bila kesejahteraan petani dinilai dari NTP, lanjut Tooy, maka dengan harga-harga barang dan jasa relatif lebih tinggi dari produk pertanian yang harganya relatif tetap, maka NTP memang masih akan terus di bawah 100.  “Jadi kata relatif konsumtif tidak selalu berkonotasi negatif, karena bila dikaitkan dengan penggunaan pulsa untuk mengetahui perkembangan informasi atau penggunaan uang untuk kegiatan sosial kemasyarakatan itu malah berdampak positif,” sebut Tooy.  “Untuk daya adaptasi petani Sulut yang memang tidak mau ketinggalan jaman,” pungkasnya.

Di sisi lain, Pengamat Ekonomi Oldy Rotinsulu menyatakan, peran pemerintah mendorong kesejahteraan petani, penting dilakukan. Bila hal ini hanya menjadi perhatian satu dinas saja, menurutnya,  mungkin beberapa tahun ke depan profesi petani punah. “Karenanya, teknologi dan skill para petani perlu ditingkatkan terebih dahulu. SDM-nya ditingkatkan,” sebutnya.

“Teknologi juga perlu di-upgrade. Produktivitas dan keterampilan petani wajib ditingkatkan,” ungkapnya. “Bukan aneh lagi sekarang anak-anak muda bahkan orang tua di pedesaan tidak mau lagi jadi petani. Karena profesi ini kurang menjamin masa depan. Ini penting harus segera diseriusi,” pungkas Rotinsulu. (fgn)

Kirim Komentar