03 Jan 2018 09:15

Kemiskinan Turun, Sulut Makin Sejahtera

MyPassion

MANADO—Warga Sulawesi Utara (Sulut) kian sejahtera. Pertumbuhan ekonomi Sulut makin baik, bahkan melebihi nasional. Terbaru, data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut mencatat, untuk data penduduk miskin di Sulut, per bulan September 2017, berada di angka 7,9 persen. Atau sebanyak 194 ribu warga dari total warga Sulut sebanyak 2,4 juta jiwa.  “Persentase penduduk miskin di Sulut pada September 2017 sebesar 7,9 persen. Turun 0,2 persen dibandingkan kondisi Maret 2017 yang sebesar 8,1 persen,” beber Kepala BPS Sulut Muhamad Edy Mahmud.

 

Secara nasional, lanjut Mahmud, tingkat kemiskinan Sulut pada September 2017 dibandingkan dengan 34 provinsi lainnya di Indonesia, berada di peringkat ke-16 terendah. Namun di wilayah Pulau Sulawesi, Sulawesi Utara terbaik. Garis kemiskinan di bawah rata-rata.

Dia menjelaskan, penduduk dikatakan miskin jika memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Karenanya, besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi garis kemiskinan. “Semakin tinggi garis kemiskinan, semakin banyak penduduk yang tergolong sebagai penduduk miskin, jika tidak terjadi peningkatan pendapatan penduduk,” terangnya.

Pengamat Ekonomi Sulut Dr Victor Lengkong mengungkapkan, secara nasional, selang waktu dua dasawarsa  terakhir selepas krisis moneter hingga 2017, jumlah dan prosentase kemiskinan trendnya menurun. “Demikian juga dengan Sulut,” ujar Lengkong. Dia menambahkan, pada tahun 2006, 2013 dan 2015 memang sedikit mengalami kenaikan. “Namun, turun lagi sampai dengan akhir 2017,” katanya. Lanjutnya, kondisi kemiskinan masyarakat secara umum  sangat dipengaruhi pemenuhan kebutuhan bahan pokok. “Tapi secara khusus kemiskinan masyarakat Sulut sangat dipengaruhi kebutuhan makan dan minum,” tandasnya.

Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Sulut itupun menambahkan, baik nasional maupun Sulut, kemiskinan menurun. Ditunjang karena tidak terjadi inflasi, khususnya pada barito. “Selain itu, UMR di atas nasional, gaji buruh bangunan, pemanjat kelapa, tukang cuci harian, tukang kebun yang diupah perhari di atas seratus ribu rupiah dengan frekuensi lebih dari tiga kali seminggu mendapatkan order,” urainya.

Ia  melanjutkan secara nasional program nawacita cukup berhasil. Infrastruktur telah menjadi pemicu aktivitas ekonomi dan pertumbuhan pusat-pusat ekonomi baru di daerah-daerah. “Termasuk daerah terpencil, terdalam dan terluar endemik kemiskinan,” ujarnya. Hal ini menurutnya bersinergi dengan program ODSK dengan penguatan pada kestabilan harga-harga komoditas, yang cukup berhasil menekan inflasi dan aktivitas kepariwisataan. “Selain berhasil dengan sejumlah proyek dan investasi,” tandasnya.

12
Kirim Komentar