30 Des 2017 08:20
Polda Warning Distributor Kembang Api dan Petasan

Uang 8 Miliar Terbakar

MyPassion
DISERBU: Jelang pergantian tahun baru 2018 banyak penjual petasan mulai berjualan di sepanjang Jl. Balaikota, Komo Luar (29/12). Mereka mulai berjualan jam 6 sore sampai jam 11 malam. Foto: Lumentinus Arko/MP

MANADO—Pergantian tahun baru identik dengan pesta kembang api dan bunyi petasan. Masyarakat rela merogoh kocek cukup besar, hanya untuk membeli dua benda yang masuk kategori bahan peledak kategori rendah tersebut. Saat ini, di Sulut sendiri ada 8 distributor (penyalur, red) resmi.

 

Menurut informasi salah satu distributor, ketika momen Natal dan tahun baru, keuntungan mereka bisa berlipat ganda dengan menyentuh angka maksimal Rp 1 miliar. Perhitungan sederhananya, jika ada 8 penyalur, lalu keuntungan masing-masing memiliki rata-rata satu miliar, maka ada sekira Rp 8 miliar uang warga Sulut yang ‘terbakar’, ketika pesta kembang api maupun petasan.

Kembang api yang dijual di Nyiur Melambai beraneka bentuk dan jenis. Harganya pun bervariasi. Berdasarkan pantauan koran ini, Jumat kemarin, di Manado dan sekitarnya banyak pedagang Kembang Api terlihat di pinggir jalan sampai di depan ruko-ruko. Namun yang paling banyak berjualan di sekitar pusat kota dan pasar 45.

Salah satu karyawan pria, distributor kembang api di sekitar Pelabuhan Manado yang enggan namanya dikorankan mengatakan, di toko tersebut terdapat banyak jenis kembang api beserta ukurannya. “Harga yang paling murah 10.000 rupiah. Yang paling mahal 5.200.000 rupiah,” bebernya ketika diwawancarai kemarin.

Ia pun mengungkapkan, sejak memasuki Natal hingga menjelang tahun baru, sudah banyak kembang api yang laku terjual. “Tapi, biasanya kebanyakan terjual jelang tahun baru,” ungkapnya. Lanjutnya, pengalaman tahun sebelumnya semua stok kembang api yang ada habis terjual. “Uang tunai hasil jual kembang api ini sekitar 500 juta. Jika ramai jelang tahun baru malah bisa lebih. Bisa 1 miliar lebih. Maklum pembelinya melonjak,” tuturnya.

Distributor resmi lainnya yang ada di Seputaran Sario juga mengaku demikian. “Iya, keuntungan kami bisa satu miliar lebih kalau momen tahun baru datang. Maklum pembeli yang datang,” singkatnya seorang karyawan sembari meminta namanya dirahasiakan.

Seorang pengunjung toko Risandy Tangkuna, warga Lingkungan II Desa Apela menuturkan, perayaan malam tahun baru memang identik dengan kembang api. “Jika tidak ada kembang api dan petasan, rasanya ada yang kurang,” katanya. Dirinya pun mengaku rela merogoh kocek hingga lebih dari 5 juta untuk membeli kembang api. “Hari ini, yang habis karena membeli kembang api hanya empat juta dua ratus ribu rupiah,” tandasnya.

Pengunjung lain Dita Dindahati, warga Jaga I Desa Sea Dua mengungkapkan, setiap tahun ia selalu memiliki persediaan kembang api jika malam tahun baru tiba. “Saya biasa membeli untuk dihadiahkan kepada keponakan-keponakan saya. Untuk saat ini, bujet yang saya sediakan kurang lebih 1,5 rupiah,” tandasnya.

Sementara itu, Polda Sulut mengeluarkan warning bagi distributor maupun penjual kembang api. Hal ini dilakukan guna mencegah terjadinya hal-hal yang merugikan ketika perayaan malam tahun baru. Disebutkan Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Ibrahim Tompo, penjualan kembang api mempunyai batasan untuk penggunaannya.

Yang bisa digunakan yaitu bunga api mainan berukuran kurang dari 2 inci. Tidak menggunakan izin pembelian dan penggunaan. Kemudian bunga api untuk pertunjukan (show, red) berukuran dari 2 inci sampai 8 inci. “Tidak diizinkan menjual kembang api berupa peledak. Hanya boleh yang berbentuk bunga api. Itu pun punya kriteria, yaitu kembang api yang mempunyai diameter di bawah dua inci,” beber Tompo, Jumat (29/12).

Mantan Wadireskrimsus Polda Maluku Utara ini menjelaskan, pasti sudah ribuan kembang api habis terjual sejak memasuki hari raya Natal. Jelang tahun baru, ia kembali menegaskan para distributor untuk tidak sembarangan menjual kembang api. “Apalagi jika yang di jual tidak sesuai dengan batasan yang diberikan. Jika kedapatan, tentunya akan ada sanksi tegas yang menanti para distributor dan penjual,” tegasnya.

Tak hanya distributor, masyarakat pengguna juga mendapat peringatan terkait penggunaan kembang api. “Jangan digunakan untuk melukai orang lain. Maksudnya, ketika dengan sengaja mengarahkan kembang api kepada orang lain dan menimbulkan risiko maka akan segera ditindaki,” lanjutnya.

Untuk itu, Tompo mengimbau masyarakat agar menyadari bahaya kembang api bila tidak ada pengawasan. Risiko yang dimaksud berupa kebakaran. Juga kesehatan sangat rentan dalam penggunaan kembang api. Kerawanan-kerawanan seperti ini seharusnya disadari masyarakat. “Untuk itu, penggunaan kembang api ini perlu adanya pengawasan, terlebih jika dimainkan anak-anak,” pungkas perwira polisi berpangkat tiga melati. (vanly/gnr)

Kirim Komentar