30 Des 2017 09:45

Sangihe Koleksi 11 Kasus Gizi Buruk

MyPassion

SANGIHE—Sepanjang 2017, tercatat sebanyak 11 anak penderita gizi buruk di Kepulauan Sangihe. Diungkapkan Kasie Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Noortje Kaemba AMd Kep, 11 anak tersebut ditangani oleh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang tersebar di Sangihe (lihat grafis, red).

 

"Ada dua kasus dari tahun 2016 yang masih ditangani hingga 2017 yakni penderita gizi buruk asal Kampung Kuma dan Manalu. Ini dikarenakan penderita juga mengalami keterbatasan fisik sejak lahir sehingga ketika dirawat gizinya sudah membaik tapi tiba-tiba kembali menurun," jelas Kaemba saat dikonfirmasi Manado Post, Jumat (29/12) kemarin di ruang kerjanya.

Lanjutnya, dalam satu kasus penderita gizi buruk mendapat bantuan sebesar Rp 4,5 juta. Bantuan ini nantinya diberikan kepada Puskesmas yang memasukkan pengajuan kasus gizi buruk.

"Jadi bantuan Rp 4,5 juta ini tidak diberikan tunai bagi penderita tetapi dibelanjakan bahan makanan untuk menunjang gizi penderita. Bantuan ini untuk makanan satu bulan dan nanti petugas gizi yang akan memasak makanan setiap hari untuk diantar ke rumah penderita," tandasnya.

Tetapi kebanyakan penderita di bawah ke Puskesmas dan dirawat selama tiga bulan agar perkembangan gizinya dapat terus dipantau petugas gizi, pihak Puskesmas dan Dinkes.

"Jika bulan berikutnya gizinya belum stabil maka penderita tersebut masih akan menerima kembali bantuan. Namun dari 9 kasus di tahun 2017 ini pasca mendapat perawatan hanya satu bulan langsung sembuh. Terakhir kami memberikan bantuan September untuk 1 kasus di Puskesmas Tamako. Sedangkan untuk 2 kasus diantaranya berdasarkan laporan sudah membaik. Namun kami terus melakukan pemantauan," tutur Kaemba.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Kesehatan Jefry Gagahana menjelaskan gizi buruk tersebut terjadi salah satunya karena pola makan yang diberikan orang tua tidak teratur bahkan tanpa pola. "Banyak orang tua tidak memperhatikan pola makan anaknya serta kebutuhan gizi tidak terpenuhi," ungkapnya.

Selain itu, disebabkan karena sakit bawaan juga sakit jantung. Menurutnya, yang sulit disembuhkan penyakit penyerta atau penyakit bawaan. "Seperti berat bayi lahir rendah (BBLR) dengan berat badan di bawah normal 2,7 kg," imbuhnya.

Ditambahnya, pemberian makanan tidak berpola misalnya makanan untuk orang tua diberikan kepada anaknya, padahal bukan makanan khusus untuk balita. Bahkan, banyak ditemukan di masyarakat, bayi dibawah usia enam bulan sudah diberi makan.

"Banyak ibu-ibu yang mempunyai kesadaran sangat rendah, sehingga masih malas untuk memberi makanan khusus untuk balitanya," tutup Gaghana. (tr-08/ria)

Kirim Komentar