29 Des 2017 09:46
Liputan Khusus

Rumah Baru Menanti Dihuni, Rumah Lama Menanti Digusur

MyPassion
Foto: Lamentius Arko/MP

Sejak selesai dibangun, 1.000 unit rumah di Kelurahan Pandu Kota Manado belum juga dihuni. Rumah bantuan khusus korban bencana tahun 2014 sudah punya pemilik. Siapa pemiliknya? Mereka antara lain korban banjir Sabtu dua pekan lalu yang masih menetap di rumah lama.

 

Laporan: Ayurahmi Rais, Manado

MANADO—Rumah bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Pusat itu bagai rumah hantu. Dari 1.000 unit yang siap ditempati, hanya 200 yang dihuni. Dari pantauan koran ini, kawasan pemukiman baru itu tak bedanya dengan perumahan komersil tipe 36. Bangunan permanen sudah memiliki dua kamar, ruang tamu, dan kamar mandi. Jalan utama telah diaspal sementara jalan di tiap blok full paving stone. Akses menuju kawasan di lereng bukit itu pun sangat mudah. Hanya sekira 40 menit dari Tugu Adipura Kecamatan Mapanget, Manado. Dengan luas tanah 9 M x 12 M, penghuninya masih diberikan space untuk taman dan membangun dapur.

Untuk membuat kesan pemukiman yang penuh warna, cat atap masing-masing blok dibuat berbeda. Merah, biru, dan silver. Pemerintah juga telah selesai membangun Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pemerintah juga menyiapkan rumah ibadah. Masjid telah selesai dibangun dan gereja akan diselesaikan tahun depan.

Beberapa warga yang telah tinggal di situ bersyukur mendapatkan hunian. Seni Tawas (40-an), warga kompleks blok B yang sebelumnya tinggal di Kelurahan Ranotana Weru mengungkapkan, kebersamaan masyarakat di situ terbina baik. Begitu juga disampaikan Ayu Gilano. Warga blok D dari Paal IV ini ikut menyebut, saat pertama kali menetap, dia mendapatkan bantuan uang tunai senilai Rp3 juta. “Uang tersebut dipakai membeli semua keperluan. Tempat tidur, kursi, dan alat masak yang hanyut terbawa banjir,” sebutnya.

Adapun pembangunan rumah tahap I itu telah menghabiskan anggaran Rp40 miliar. “Rumah diperuntukkan bagi warga korban banjir tahun 2014 di DAS Tondano, Sawangan, Sario, dan Malalayang,” ungkap Kepala BPBD Kota Manado Maxmilian Tatahede.

Dia mengatakan,  kunci rumah sudah diberikan kepada penerima bantuan. Sebagian sudah tinggal. Yang belum tinggal, alasannya belum ada listrik. Menurut Tatahede, PLN akan memasang meteran listrik jika rumah sudah dihuni. Kekhawatiran PLN, jika meteran dipasang di rumah tak berpenghuni, rawan dicuri. Lanjutnya, rumah yang dibangun pemerintah dengan nilai Rp40 juta, dindingnya tanpa diplester, tanpa plafon, dan keramik.

Rumahnya juga masih kosong. ”Nantinya kalau masyarakat tinggal mereka yang akan meneruskan mempercantik rumah tersebut dengan plester dan sebagainya. Yang pasti pemerintah telah menyediakan rumah yang layak untuk ditempati,” ungkapnya.

Sementara itu, beberapa titik banjir dua pekan lalu belum juga tuntas dibenahi. Lumpur masih mengotori tempat tinggal. Banyak rumah yang rusak dihantam arus air. Bahkan, ada warga yang telah meninggalkan rumah dan tinggal di tempat saudara atau kost.

Sebanyak 5.052 rumah terkena banjir. Di antara 7.320 KK korban adalah mereka yang telah menerima kunci rumah di Perumahan Pemukiman Relokasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana. Tahun depan, pemerintah akan melanjutkan pembangunan 1.054 unit di lokasi yang sama di Pandu. Penerimanya harus melalui pendataan dari pemerintah.(*)

Kirim Komentar