29 Des 2017 14:21
Penyelesaian Hanggar Kapal Pemusnah Eceng Gondok Dikebut

Pembersihan Danau Tondano Terus Diseriusi

MyPassion
MUSUH BERSAMA: Eceng gondok merupakan masalah klasik yang menjadi pekerjaan rumah semua pihak. Pemkab pun terus berupaya melalukan pembersihan dengan mengerahkan beberapa alat berat.

MINAHASA—Pembersihan Danau Tondano dari gulma eceng gondok terus diseriusi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa. Selain berbagai upaya pengangkatan melalui Ekskavator, kini pembersihan akan menggunakan tiga kapal pengangkut. Karenanya, penyelesaian hanggar tempat berlabuh kapal pengangkut dikebut. “Sementara dikerjakan oleh kontraktor. Ini proyek kerjasama juga dengan Pemerintah Provinsi,” kata Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Minahasa Jeffry Korengkeng.

Digandengnya Pemprov untuk menyelesaikan eceng gondok, katanya, dikarenakan pelestarian Danau Tondano juga di bawah tanggung jawab Pemprov Sulut. “Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa jalan operasionalnya,” harap Korengkeng.

Dia melanjutkan, proses pengerjaan proyek tersebut menelan anggaran sebesar Rp 13 miliar. Kata dia, proses pengendalian enceng gondok memiliki sisi dilematis. Pasalnya, enceng gondok ini nantinya diperlukan menjadi bahan baku salah satu pabrik pupuk di Minahasa. “Anggarannya Rp 9 miliar dari provinsi, sisanya dari kabupaten. Memang, penyelesaian enceng gondok ini butuh waktu yang tidak singkat. Bertahap, di bawah enceng ini juga menjadi tempat kembang biak ikan air tawar, perlu pertimbangan semua aspek,” urainya.

Senada, Kepala Bapelitbangda Donald Wagey mengatakan, upaya pemerintah pusat pun ikut ambil bagian dalam proses penyelesaian dan normalisasi Danau Tondano.  “Terus kita lakukan evaluasi bersama lintas kementerian, sinkronisasi program nasional, provinsi dan daerah ditegaskan dengan adanya SK bersama yang ditandatangani Presiden. Mesin Water Master telah kita coba beberapa waktu lalu,” ujar Wagey.

Pihaknya juga telah mengusulkan kedepannya Danau Tondano bakal dipusatkan menjadi sentra pariwisata daerah. “Wacana tersebut juga terkendala karena kelangsungan usaha nelayan setempat. Banyak kerambah yang harus dipindahkan, semua aspek juga harus diperhatikan. Padahal prospeknya sangat baik. Jadi pusat wisata air di Minahasa ada di Danau Tondano,” tutupnya. (cw-01/fgn)

Kirim Komentar