29 Des 2017 09:18
Hasil UKG di Ranking 25 Dari 34 Provinsi

Guru Sulut Tertinggal Dari Guru di Gorontalo

MyPassion
Ilustrasi Guru

MANADO—Dunia pendidikan Sulawesi Utara (Sulut) belum mencapai angka standar. Dari data yang dirilis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional RI, hasil uji kompetensi guru (UKG), Sulut masih berada di ranking 25 dari 34 provinsi di Indonesia dengan nilai rata-rata 51,65. Tertinggal jauh dari peraih ranking pertama DI Jogjakarta 67,02. Guru di Sulut pun masih tertinggal jauh dari Gorontalo yang menduduki ranking 21 dengan nilai 52,31.

 

Kepala Dinas Pendidikan Sulut Asiano Gemmy Kawatu saat dimintai tanggapan mengatakan, dari tahun ke tahun Gorontalo memang selalu berada di atas Sulut. “Kita sedang membenahi sektor pendidikan. Apalagi baru tahun ini kewenangan SMA sederajat dilimpahkan ke provinsi,” tutur Kawatu.

Menurutnya, Pemprov terus mendorong kabupaten/kota rutin melakukan bimbingan pada guru-guru. “Misalnya di provinsi, kami mengadakan bimtek untuk 400 guru matematika, kimia, fisika, dan bahasa Inggris. Karena di mata pelajaran inilah kompetensi para guru kurang,” sebutnya.

Pihaknya juga sudah menyurat ke kabupaten/kota terkait hal tersebut. “Nilai kompetensi kabupaten/kota berada di bawah rata-rata. Namun tahun ini terjadi peningkatan dibandingkan tahun lalu. karena itu Dinas Pendidikan berharap dengan ikut Bimteknya 400 guru, tahun depan uji kompetensi dari guru kian naik,” papar Kawatu.

Tak hanya soal bimtek, Kawatu menyinggung mengenai alokasi anggaran. Setahu di Gorontalo untuk pendidikan masih lebih tinggi dibandingkan Sulut yang hanya 3,7 persen rata-rata untuk kabupaten/kota. “Di Gorontalo sekira tujuh persen alokasinya. Baru itu saja berbeda. Ini ibaratnya Sulut jalan cepat, Gorontalo sudah lari,” ujarnya.

Pemerintah kabupaten/kota, kata Kawatu, harus memperhatikan hal tersebut dan mendukung anggaran untuk pendidikan. “Khusus APBD Sulut 2018, alokasi untuk belanja pendidikan 31,93 persen dari total belanja. Ini tanda pemerintah provinsi memberikan perhatian khusus. Ini harus diikuti kabupaten/kota,” tegasnya.

Di sisi lain, pemerhati pendidikan Dr Ferry Mandang MPd menilai, salah satu faktor penyebab minimnya nilai UKG di Sulut jika dibandingkan dengan Provinsi Gorontalo yaitu perhatian pemerintah. “Perhatian pemerintah di Gorontalo terhadap guru-guru sangat besar, jika dibandingkan dengan Sulut. Beasiswa di Sulut untuk menunjang profesi guru masih kurang. Kalau pun ada, kadang tidak terlalu dipublikasikan,” sebutnya.

Lanjutnya, perhatian ini terlihat dari dana-dana yang disediakan pemerintah untuk kelanjutan studi dari guru-guru. ”Karena hal itu, guru-guru termotivasi. Mereka berpacu. Karena dana-dana yang dipersiapkan pemerintah sangat menunjang profesi mereka,” jelasnya.

Mandang melanjutkan, hasil UKG tersebut harus jadi pelecut dunia pendidikan di Sulut untuk membenahi diri. “Jangan berpuas dengan berbagai capaian. Karena cerminan pendidikan di Sulut ada pada kualitas guru-guru. Kalau kompetensinya seperti ini terus, para murid akan tidak respect lagi,” ujarnya.

Pendapat lain datang dari Prof Dr Fietje Ontoe MPd. Menurutnya, salah satu penyebab kurangnya nilai UKG guru ini karena minat baca dari guru-guru tidak dijadikan tradisi. “Guru hanya membaca buku yang ada. Sehingga terkesan tidak ada ‘reading minded’ dalam membaca,” tuturnya.

Ontoe menambahkan, pengetahuan guru bukan hanya didapat karena mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. “Tetapi, guru harus terus menimba pengetahuan dari berbagai sumber,” tutupnya.(ctr-03/ctr-08/gel)

Kirim Komentar