27 Des 2017 14:07

Yasti Geram Soal Tapal Batas

MyPassion
Yasti Soepredjo Mokoagow

LOLAK--Bupati Bolaang Mongondow (Bolmong) Dra Hj Yasti Soepredjo Mokoagow dibuat geram terkait permasalahan tapal batas antara Kabupaten Bolmong dan Bolsel. Dirinya bahkan bersih keras, akan  terus akan memperjuangkan yang diyakininya sebagai hak masyarakat.

Bupati perempuan ini menjelaskan, batas  pemekaran di dalam undang-undang pemekaran, harus ditentukan oleh kedua belah pihak. Seharusnya pada saat datang yang namanya Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakorsutanal) atau namanya Geospasial, itu diorder ia tidak tahu.  "Yang pasti Bolmong tidak mengorder itu. Saya tidak tahu siapa yang order itu. Dan siapa yang menunjuk titik koordinat," tegasnya.

Menurutnya yang perlu diketahui, jika terjadi kesalahan pada titik koordinat akan berakibat pada kesalahan awal titik yang sudah ditentukan secara adat pada saat pemekaran kabupaten Bolsel. Karena, Ada titik yang ditetapkan oleh hukum adat, yang namanya intum-intum yang seharusnya itu yang dipakai.

"Oleh sebab itu, pada saat pemekaran, itu tadi saya katakan, saya tidak tahu siapa yang order. Dan menyampaikan bahwa titik koordinat itu di mana saya tidak tahu. Penyampaian titik itu seharusnya dihadiri oleh kedua belah pihak. Tidak boleh sepihak," tandasnya.

Selanjutnya, Yasti menyentil jika terbit permendagri, itu menurutnya cacat hukum, karena pemerintah Bolmong tidak dilibatkan. Kalau dilibatkan, seharusnya ada MoU antara pemerintah Bolsel dan Bolmong. "Kita bisa lihat, adakah MoU antara pemerintah Bolsel dan Bolmong. Harusnya ada perjanjian antara pemerintah Bolmong dan Bolsel, terkait batas-batas yang ditandatangi oleh bupati Bolsel dan Bolmong tentunya. Kalau tidak ada itu kan, atas dasar apa permendagri terbit. Insya Allah akan kami PTUN kan," tegas Yasti.

Yasti pun beberapa kali menegaskan, yang sementara diperjuangkan adalah hak-hak Bolmong. Dirinya bahkan menyentil tentang dana bagi hasil 2013-2016, Bolmong itu awalnya ditandatangani oleh sekjen ESDM Rp 28 miliar sekian dari Rp 46 miliar.

“Tetapi di injuri time saya tidak tahu siapa lagi yang main. Tiba-tiba Bolmong dapat surat. Bolsel dapat Rp 28 miliar. Bolmong Rp 5 miliar. Yang awalnya Bolsel 5 miliar dan Bolmong Rp 28 miliar. Nah ini kan hak rakyat Bolmong. Jadi saya perjuangkan hak rakyat Bolmong,’ tutupnya.(tr-01/gnr)

Kirim Komentar