23 Des 2017 09:09
Pusat Perbelanjaan Supersesak, Arus Lalulintas Lumpuh

Baju-Kue Rasa 1 Triliun

MyPassion

MANADO—Fantastis. Triliunan rupiah bakal terkuras saat merayakan Natal 2017, lusa. Jika dihitung, dari jumlah penduduk Sulawesi Utara (Sulut) sebanyak 2.771.159, sekira 1.884.000 umat nasrani menghabiskan uang Rp 1.083.300.000.000. Tiap orang rata-rata berbelanja Rp 575.000. Untuk membeli kebutuhan ‘primer’. Yakni, baju, sepatu, kue dan minuman. Terbukti, di sejumlah pusat perbelanjaan diserbu pembeli.  

 

Ci Glady salah satu pedagang pakaian di MTC Mega Mall Manado mengungkapkan, setiap Natal, kebutuhan pakaian meningkat drastis. “Bahkan meningkat hingga 3 kali lipat. Ini terjadi karena setiap warga pasti membeli pakaian untuk satu keluarga. Bahkan, satu orang bisa sampai dua atau tiga pasang pakaian,” beber Glady.

Lanjut wanita cantik ini, karena kebutuhan banyak. Dirinya harus memesan pakaian sebulan sebelum Natal. Bahkan, saat Natal juga sempat memesan kembali karena kehabisan stok. “Tahun lalu, H-5 saya sempat tambah membeli pakaian karena stok kehabisan,” ungkapnya.

Senada, Steven salah satu karyawan sepatu yang berada di Mantos mengakui, mereka kadang tidak ada waktu lagi istirahat karena melayani pembeli non stop. “Rata-rata pembeli, membeli sepatu sepasang, baik bapak, ibu maupun anak-anak,” tukasnya.

Terpisah, Sherly pedagang kue natal dadakan di Pasar 45 mengaku dirinya menjadi penjual kue saat memasuki bulan Desember. “Setiap hari bisa sampai ratusan toples terjual. Karena kue yang saya jual enak dan murah. Apalagi walaupun saya menjual kue saat Natal, tetapi sudah bertahun-tahun menjual disini,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Badan Pekerja Majelis Wilayah (BPMW) Manado Tenggara Pdt Djefry Saisab mengungkapkan merayakan Natal tidak perlu dengan berlebihan. “Justru perayaan Natal itu, bagaimana rohani umat kristiani yang memiliki iman percaya akan kelahiran Tuhan Yesus yang memaknainya dengan kesederhanaan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, karena sejatinya Yesus lahir dengan kesederhanaan. Dan, sebagai umat harusnya mencontohi kesederhanaan itu dengan merayakan Natal tanpa paksaan. Apalagi, karena gengsi harus menyiapkan segala sesuatu yang mewah dan berlebihan. Kalaupun ada yang lebih tidak mengapa. Tetapi, jika tidak ada jangan memaksa. Apalagi harus pinjam uang demi gengsi. “Karena Yesus hadir di dunia untuk menyelamatkan kita dengan cara yang sederhana. Rayakan Natal dengan hal-hal positif. Kalau pun ada kelebihan maka kita mensyukurinya,” tandasnya.

Sementara Wakil Sekretaris Majelis Daerah GPdI Sulawesi Utara Pdt Hanny Awuy mengatakan, perayaan Natal dimaknai dengan meningkatkan kualitas rohani dan mengedepankan karya keselamatan Allah yang telah lahir mati dan bangkit serta naik ke surga untuk manusia. “Bukan dengan pesta pora. Tetapi milikilah sikap dewasa dalam rohani dengan kembali mengintrospeksi diri dan merubah segala sifat yang buruk untuk menjadi lebih baik lagi,” katanya.

Lanjutnya,merayakan Natal dengan ucapan syukur dan sesuai kemampuan. Karena yang diperlukan Tuhan, hati setiap orang percaya yang selalu bersyukur. “Banyak atau sedikit yang disediakan di perayaan Natal nanti haruslah tetap bersukacita,” ucapnya.

12
Kirim Komentar