22 Des 2017 10:04
Yang Tersisa dari Banjir 16 Desember

Lumpur Setinggi Lutut, Belum Ada Bantuan

MyPassion

Hampir sepekan pasca banjir menerjang Manado, 16 Desember lalu. Namun di Kelurahan Tanjung Batu, Lingkungan I, Kecamatan Wanea masih seperti baru terjadi banjir.

 

Laporan: Ayurahmi Rais

MEMASUKI lorong di lingkungan I terlihat beberapa peralatan rumah tangga dan tempat tidur berserakan di sepanjang jalan. Lumpur dan genangan air juga masih ada. Sejumlah warga tampak memindahkan lumpur yang setinggi lutut di samping jalan.

“Di sini masih belum terlalu parah, di belakang sana yang memang hancur,” ungkap Sami Welang, salah satu warga kepada Manado Post, kemarin (21/12).

Menurutnya, pemerintah kurang perhatian pasca terjadi banjir. Bahkan hingga kemarin belum ada bantuan. Entah itu bantuan makanan ataupun medis. “Banyak anak-anak yang sudah jatuh sakit. Namun pemerintah belum juga memberikan bantuan obat-obatan dan juga dokter. Padahal di sini (Tanjung Batu, Red) banjirnya sangat parah,” keluhnya sambil sesekali dia menunjuk beberapa rumah yang memang sudah hancur.

Dari sekian banyak rumah di sana, salah satu yang rusak parah milik Rony Rumongkoy (45). Rumah papan berukuran kurang lebih 5x6 meter itu hampir semua barang berserakan. Seperti alat dapur, tempat tidur, lemari dan kursi. Semua juga nampak rusak.

Di dalam kamar terdengar tangisan bayi. Bayi bernama Alisya Rumongkoy yang baru berumur tiga bulan itu ternyata sendirian. Dia ditinggal ibunya, Deivy Suwawa (35), yang mengantri sembako.

Hampir sejam, Deivy akhirnya tiba di rumah. Menurutnya, dia terpaksa meninggalkan bayinya karena tidak ingin melewatkan bantuan. Bantuan itu berupa 12 bungkus mie instan dan dua liter air mineral.

“Tadi anak saya sedang tidur. Jadi saya tinggal sebentar karena orang yang antri banyak, takut kehabisan,” ujarnya.

Sembari menyusui bayinya, dia menceritakan banjir yang menghantam rumahnya Sabtu (16/12) lalu. Menurutnya air naik pukul 17.00 saat itu dan langsung masuk ke dalam rumah. Padahal rumahnya berada cukup tinggi. Sehingga tidak terpikir mengangkat barang-barang penting. Lanjutnya, rumahnya rusak parah. “Ini sudah lumayan. Karena kemarin (lumpur, Red) sudah diangkat,” katanya sambil menunjuk tumpukan tanah basah di samping rumah.

Ibu tiga orang ini juga mengaku belum ada bantun pemerintah untuk membersihkan lumpur juga medis. Dia berharap, pemerintah turun langsung memberikan bantuan. “Ini sudah mau Natal. Tapi kondisi masih seperti ini. Semoga pemerintah akan memberikan bantuan. Yang kami lebih butuhkan saat ini adalah tim medis dan juga obat-obatan,” jelasnya.

Deivy dan juga warga lain mengaku tidak akan meninggalkan Tanjung Batu, walaupun sering menjadi sasaran banjir. “Dari kecil kami sudah di sini, jadi apapun yang terjadi kami akan tetap tinggal dan mencintai Tanjung Batu,” ujar warga yang lain. (***)

Kirim Komentar