22 Des 2017 10:29
Renungan Natal 2017

Jadilah Terang

MyPassion
Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu, MSC Uskup Keuskupan Manado

ln lumine Tuo, videmus lumen

PERTAMA-tama disampaikan ‘Selamat Merayakan Natal’, memperingati Hari Kelahiran Yesus. Dalam perayaan syukuran yang sering kita ikuti, yang kita katakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kelahiran. Pasti kita sudah sangat terbiasa dengan perayaan seperti ini.

Kita mengalami suasana yang berbeda, sesuai dengan status, jabatan, pekerjaan, dari si yubilaris. Yang pasti adalah ada santapan rohani dan jasmani: ada doa dan puji-pujian yang dirangkai dalam ibadat, dan ada menu makanan dan minuman yang dirangkai dalam resepsi. Kebahagiaan pasti mewarnai ruang acara ditambah lagi dengan suasana persaudaraan dan kekeluargaan yang tercipta antara si yubilaris, keluarga, dan undangan.

Sukacita yang sama hendak 'kita bangun, rasakan dan bagikan sepanjang perayaan Natal. Mengalami semuanya itu, sepertinya kita melihat terang sedang bersinar, menerangi masa lampau, hari ini, dan masa depan kehidupan kita. 

 

Terang itulah yang sekarang kita jadikan sebagai tema renungan Natal 2017. 

 

Dalam Kitab Kejadian 1:34 dikisahkan demikian: 'Berfirmanlah Allah: Jadilah Terang. Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang Itu baik, lalu dipisahkanNyalah terang itu dari gelap”. Itulah kejadian hari pertama. Penciptaan terang mengawali penciptaan lainnya. Betapa pentingnya terang itu. Terang itu dipisahkan dan dibedakan dari gelap. Terang dan gelap dikaitkan juga dengan praktek hidup manusia, sehingga muncullah pembedaan antara anak-anak terang atau anak-anak siang, dan orang-orang malam atau orang-orang kegelapan (l Tes. 5:5). Yesus sendiri mengutus murid-muridNya untuk menjadi "terang dunia” (Mat. 5:14). Fungsi utama dari terang itu adalah untuk ”bercahaya di dalam kegelapan” (Yoh. 1:5), dan tugas utama dari terang adalah untuk ”membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rm. 12:2). Terang itu menghalaukan kegelapan. Terang itu membawa sukacita. Terang itu membuka masa depan. 

 

Dalam Kitab Mazmur 36:10 dituliskan oleh si pemazmur: ”Sebab padaMu ada sumber hayat, di dalam terangMu, kami melihat terang. Terang itu menjadi sandaran manusia untuk bertahan hidup, untuk melihat masa depan, untuk mendapatkan kesejahteraan dalam hidup “hari ini”. Bertitik tolak dari realitas dan pengalaman 'hari ini', kita suka menatap ke depan dan merancang masa depan yang lebih baik. Untuk itu, kita terus menerus membutuhkan bantuan terang, untuk menguatkan kita terhindar dari kemungkinan-kemungkinan salah jalan. Terang itulah yang sekarang kita syukuri sambil kita menyambut Dia yang lahir untuk kita, karena “Dialah Jalan dan Kebenaran dan Hidup" (Yoh. 14:6) kita. 

Dalam injil Mat. 2:2 dituliskan kesaksian orang-orang majus dari Timur: "Kami telah melihat bintangNya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia”. Ada bintang yang sudah menerangi pikiran, hati dan hidup mereka, untuk memulaikan suatu perjalanan mencari Yesus. Yesus sungguh sudah menjadi bintang bagi mereka dan menarik perhatian mereka sedemikian rupa sampai menumbuhkan minat yang sangat serius untuk berjumpa dengan Dia. Di kala merekapun mulai ragu dan kehilangan pegangan di tengah jalan, bintang itu terus bercahaya dan mengarahkan lagi perjalanan mereka. Bintang itulah yang menuntun mereka sampai kepada Yesus. Merayakan Natal berarti kita membuka horizon hidup dan iman kita untuk terus menerus mencari Dia dan berjumpa denganNya dalam persekutuan anak-anak Allah. 

Dari pengalaman para majus dari Timur kita mendapatkan kesaksian bahwa sebesar apapun modal yang mereka miliki, modal itu berlumlah cukup menjamin keselamatan mereka. Mereka sudah punya modal sebagai sarjana, yaitu ilmu pengetahuan. Modal lain yang mereka boleh banggakan adalah kerajaan dan kekayaan. Tetapi cahaya bintang menuntun mereka untuk menyadari suatu kenyataan, bahwa apapun modal yang sudah mereka miliki, mereka masih harus mencari yang satu ini, yaitu Yesus. Pengetahuan yang mereka miliki belum mampu menjawab seluruh pertanyaan.

Kerajaan yang mereka duduki belum menjadi jaminan untuk masuk dalam Kkerajaa Surga. Kekayaan yang mereka nikmati belum memuaskan dahaga mereka akan harta surgawi. Mari berjalan terus bersama sang Terang dan kita menjadi terang untuk sesama.(*)

Kirim Komentar