19 Des 2017 11:37

11 Nelayan Filipina Terdampar di Talaud

MyPassion
WASPADA: 11 nelayan Filipina yang terdampar di Desa Batumbalango Kecamatan Essang Selatan Kepulauan Talaud. Foto lain; perahu yang ditumpangi.

TALAUD—Cuaca ekstrem yang terus terjadi di lautan antara Filipina dan Talaud mengakibatkan 11 nelayan asal Filipina terdampar di Desa Batumbalango Kecamatan Essang Selatan Kepulauan Talaud.

Selain badai, perahu yang ditumpangi 11 warga negara tetangga tersebut dikatakan rusak hingga mereka harus segera menepi. Kapolsek Essang Iptu Hibor Tandea mengatakan, nelayan tersebut terdampar sejak Jumat (15/12) malam. “Informasi dari masyarakat setempat, ada pump boat dari Filipina yang terdampar di Desa Batumbalango. Personel Bhabinkamtibmas langsung menuju ke lokasi untuk memastikannya,” ujarnya.

Saat berada di lokasi, kata Tandea, pump boat penangkap ikan bernama Melati itu, terdampar dengan kondisi mesin rusak. Hingga Sabtu (16/12) pagi, nelayan Filipina turun dari kapal untuk melaporkan diri kepada pemerintah desa serta kepolisian.

Kapten Kapal Romel Dela Cruz menerangkan, mereka berangkat dari Tawi-tawi Filipina. Jumlah penumpang 13 orang dengan tujuan mencari ikan. “Dalam perjalanan kembali ke Filipina, 12 Desember 2017, kapal diterjang badai, mengakibatkan mesin kapal rusak dan tidak bisa diperbaiki. Hingga akhirnya terseret sampai di wilayah perairan Indonesia,” terang Dela melalui Kapolsek.

Ditambahkan nakhoda kapal, saat itu mereka sudah berada di jarak sekira 35 mil laut dari daratan Filipina. Sehingga diputuskan dua orang ABK turun dari pump boat lalu menaiki perahu kecil untuk mencari bantuan. “Namun kedua ABK tersebut sampai saat ini tidak diketahui nasibnya,” jelasnya.

Kejadian ini telah dilaporkan kepada petugas Kantor Imigrasi untuk dikoordinasikan dengan Konsulat Jenderal Filipina di Manado, terkait teknis pemulangan 11 nelayan tersebut.

Hal serupa dilakukan petugas Imigrasi di Miangas, yang berkoordinasi dengan Philippine Liaison Officer di Miangas, jika mereka (nelayan) akan dikembalikan dengan kapalnya semula. “Tentunya pemulangan melalui jalur laut dinilai sangat praktis dan efisien, baik segi biaya maupun waktu. Apalagi ini masalah kemanusiaan, yakni nelayan yang terdampar karena cuaca buruk dan bisa terjadi kepada siapa saja,” tandas Kapolsek.(fik/ria)

Kirim Komentar