18 Des 2017 08:48
Kerugian Banjir-Longsor Ditaksir 200 Miliar

Sulut Berduka

MyPassion

MANADO—Sulut Berduka. Bencana alam besar hantam beberapa wilayah di Sulawesi Utara, akhir pekan lalu. Mulai dari banjir, tanah longsor hingga angin puting beliung.

 

Dari pantauan, hujan deras yang mengguyur Kota Manado, Sabtu (16/12), mengakibatkan beberapa kecamatan dan kelurahan tergenang banjir. Data diperoleh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Utara, sebanyak 4.000 rumah warga tergenang air, dengan jumlah kepala keluarga 4.354.

 

Kepala BPBD Manado Maxmilian Julius Tatahede menyebutkan semua warga yang rumahnya tergenang air langsung diungsikan. Meskipun tak menampik, ada beberapa warga yang memilih masih tinggal di rumah masing-masing. Ada juga beberapa tempat pengungsian sudah disiapkan pasca banjir.

“Aula, sekolah, masjid dan juga gereja, menjadi tempat pengungsian sementara. Kami tidak bisa mendirikan tenda karena terkendala dengan becek,” akunya, sembari memastikan pihaknya terus memberikan bantuan pada masyarakat yang menjadi korban.

Menurutnya, jumlah kerugian akibat banjir dan longsor sangat besar. Karena merusak fasilitas publik. Seperti jalan dan drainase. Juga pemukiman warga. Karena, banyak barang milik warga yang terendam banjir. “Memang hitungannya belum ada berapa kerugian. Tetapi secara kasat mata kita bisa prediksi kerugian akibat bencana banjir dan longsor mencapai Rp 200 ratusan miliar lebih,” tandasnya.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara bekerja sama dengan TNI dan Polda Sulut langsung menetapkan tanggap darurat bencana. Pemerintah provinsi melalui Plh Sekprov Jhon Palandung dan Asisten III Roy Roring, Kepala BPBD Noldy Liow beserta beberapa kepala dinas, langsung melakukan rapat koordinasi menangani bencana. Dalam rapat, sejumlah bantuan mengalir seperti 5.000 dos air mineral, 5.000 mie instan, 200 karung beras, 15.000 makanan siap saji, serta 500 paket ikan kaleng. Ada juga selimut dan makanan untuk balita.

Menurut Gubernur Sulut Olly Dondokambey dalam video call dengan Plh Sekprov Sulut Jhon Palandung, diperintahkan semua instansi harus secepatnya bergerak. Data yang dimiliki harus cepat dikabarkan secepatnya. “Kalau kurang bantuan kemanusiaan langsung kabarkan saya dan akan secepatnya saya suruh mengantarkan bantuan pada besok pagi (hari ini, red). Karena itu, sekarang harus segera laporkan bagaimana situasinya,” tegas Gubernur.

Menurut Plh Sekprov Jhon Palandung, semua instansi diperintahkan secepatnya bergerak. Tindakan provinsi mulai dari penanganan, penanggulangan sampai pasca bencana. “Bantuan tersebut adalah awal, masih ada lagi yang akan menyusul. Kami juga secara bersama langsung turun bekerja dengan tim,” ucap Palandung sembari menambahkan pemerintah akan terus melakukan pengecekan.

Sementara itu, pantauan harian ini semalam, tempat yang dikunjungi seperti Taas lingkungan VI, warga mengungsi di SD Inpres 107 Taas, ada sekitar 20 pengungsi. Juga di Jemaat Yarden Dendengan Dalam. Kemudian, dilanjutkan di Masjid Al-Ihsan Dendengan Dalam dan Mesjid At'tamir Paal 4 Lingkungan II, dengan 64 KK pengungsi. Ada juga pengungsinya di Jemaat GMIM Abraham Sario dan Kelurahan Sario Utara Lingkungan II.

Kepala BPBD Sulut Noldy Liow menyebutkan, perkembangan kondisi sekarang sudah aman terkendali. Air sudah surut dan semua kelihatan normal. Pintu Air Tondano juga selalu dikontrol. “Yang menjadi korban di Malendeng telah ditemukan namun dengan keadaan tidak bernyawa. Kalau banjir sudah tidak ada. Diperkirakan yang terkena banjir sebanyak 3.500 orang di sekitar 15 kelurahan,” tandasnya.

Di Minahasa, Sabtu pekan lalu, bencana longsor juga melanda wilayah ini. Dua kecamatan, Pineleng dan Tombulu adalah yang terparah. Data BPBD Minahasa, ada 11 titik longsor di dua kecamatan ini. Dan sebanyak 48 keluarga terdampak. “Terpantau ada 11 titik longsor. Kemudian ada dua daerah terendam banjir di Kecamatan Pineleng tepatnya Kelurahan Winangun Atas dan Kelurahan Pineleng II,” beber Kepala BPBD Minahasa Johanes Pesik.

Dia melanjutkan, akibat bencana ini, sedikitnya 200 jiwa terdampak. “Bahkan ada yang harus mengungsi karena rusaknya tempat tinggal. Longsor juga merusak sejumlah fasilitas umum,” katanya. Untuk kerugian, dia menuturkan, pihaknya sedang mengkalkulasi. “Kurang lebih Rp 500 juta kerugian material dikarenakan bencana ini,” katanya.

Dijelaskan Pesik, keluarga terdampak paling banyak di Desa Tikela Kecamatan Tombulu. “Ada 33 KK terdampak dan total 116 jiwa. Di desa Kali juga ada satu rumah rusak berat. Saat ini kita terus berkoordinasi dengan pemerintah setempat, Dinsos Provinsi dan Kabupaten, PMI, Kepolisian dan TNI guna pembersihan material longsor di semua daerah yang terdampak,” urainya.

123
Komentar
  • MyPassion

    Kunj86
    19 Des 2017 19:48

    The whole website have a lot of articles which have discussed different educational topics and these articles deserve topreviewstars because these full of informative and very helpful for the students to make their study easy.
Kirim Komentar