18 Des 2017 15:24
Bugti: Jika Berhasil, 400 Nyawa Dalam Bahaya

Bawa Bom 15 Kg, Teroris Nyaris Ledakan Gereja di Pakistan

MyPassion

PAKISTAN - Tekad pelaku bom bunuh diri di Quetta, Pakistan, sudah bulat. Meski terluka karena tembakan, dia tetap berusaha masuk ke dalam gereja yang jadi sasarannya.

Dan, persis di depan pintu masuk utama, dia meledakkan rompi bom bunuh dirinya, Minggu (17/12).

’’Tuhan berkehendak. Jika saja para teroris itu berhasil melaksanakan rencananya (dengan masuk ke gereja), lebih dari 400 nyawa dalam bahaya,’’ ujar Menteri Dalam Negeri Provinsi Balochistan Sarfraz Bugti sebagaimana dilansir Reuters.

Sebab, pelaku teror di Bethel Memorial Methodist Church kemarin tersebut, dan seorang lainnya yang tewas tertembak di dekat gerbang, membawa masing-masing bom 15 kilogram.

Itu belum termasuk dua pelaku lainnya yang melarikan diri dan dikejar. Polisi menduga para pelaku bermaksud menjadikan jemaat gereja sebagai sandera.

Dengan bom yang meledak di depan pintu saja, delapan nyawa jemaat gereja terenggut dan 45 lainnya terluka. Daftar korban jiwa bisa bertambah karena kondisi sembilan di antara keseluruhan korban luka kini kritis.

’’Semua dokter dan staf paramedis harus berjaga dan berupaya sekuat tenaga untuk merawat korban luka.’’ Demikian bunyi pernyataan pemerintah Provinsi Balochistan sebagaimana dilansir Pakistan Today.

Adu tembak antara petugas keamanan dan pelaku serta bom itu terjadi selama 16 menit. Ketika di dalam gereja tengah berlangsung misa

’’Saat itu benar-benar kacau. Peluru mengenai orang-orang di dalam ruang utama yang tertutup,’’ kata Aqil Anjum, salah seorang korban luka, seperti dilansir Associated Press.

Jumlah korban bisa ditekan karena pemerintah Pakistan memang meningkatkan pengamanan gereja menjelang Natal. Sebab, gereja dan umat Kristiani di Pakistan memang beberapa kali menjadi sasaran teror kelompok radikal (lihat grafis). Demikian pula muslim dari kelompok minoritas seperti Ahmadiyah dan Syiah.

Hingga berita ini selesai ditulis pukul 23.30 WIB tadi malam, polisi baru bisa menyebutkan bahwa kedua pelaku berusia 16–20 tahun.

Belum ada pula kelompok yang mengaku bertanggung jawab. Namun, mengutip Reuters, biasanya serangan-serangan semacam itu dilakukan faksi-faksi Taliban.

12
Kirim Komentar