16 Des 2017 09:23
Waspada Banjir dan Longsor

SULUT SIAGA BENCANA BESAR

MyPassion
CUACA EKSTREM: Tinggi gelombang laut di perairan Manado menc­apai 1-2 meter. Warga diimbau lebih berh­ati-hati khususnya bagi para nelayan. Fo­to diambil di kawasan Megamas, Jumat (15­/12). (Reza Mangant­ar/ Manado Post)

MANADO- Sulawesi Utara (Sulut) siaga bencana. Tingginya curah hujan dan angin puting beliung patut diwaspadai. Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sulut hingga Januari 2018, hujan dengan intensitas sedang dan lebat masih akan mengguyur beberapa kabupaten/kota di Sulut.

 

Kasie Observasi dan Informatika BMKG Sam Ratulangi Manado, Sutikno MSi mengatakan, menjelang Natal, potensi terjadinya hujan masih tetap ada. “Kalau berdasarkan analisis peluang untuk terjadinya hujan di Hari Natal tetap ada,” aku Sutikno.

Dirinya menambahkan bukan hanya hujan, akan tetapi angin puting beliung harus diwaspadai. Terkait Tornado yang terjadi di Atas Teluk Manado, kemarin, Sutikno menjelaskan, fenomena tersebut terjadi karena adanya perbedaan suhu di awan dan permukaan air yang sangat ekstrim. Sebab, keadaan cuaca Manado siang ini (kemarin, red) cukup terik. Sehingga, mengakibatkan kondisi air laut menjadi hangat.

Sementara itu, proses terjadinya angin puting beliung sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan awan CB.  Perbedaan tekanan yang sangat besar antara area lokal perairan laut dan darat inilah yang mengakibatkan angin dengan kecepatan 60-90 Km/Jam dengan durasi 5-10 menit terjadi. “Hal tersebut sering dikenal dengan pancaran air (water spot, red). Saya sangat bersyukur, fenomena tersebut terjadi di atas permukaan air, jika di darat akan memakan korban jiwa dan juga banyak bangunan yang rusak,” jelasnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulut Noldy Liow menegaskan pemerintah pusat dan daerah memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan penanggulangan bencana. UU 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan, implementasi penanggulangan bencana adalah sebuah rangkaian kegiatan yang mencakup pengembangan kebijakan dalam bidang risiko bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat dan rehabilitasi.

Menurutnya juga, BPBD juga telah melakukan koordinasi dengan kabupaten/kota untuk terus siap siaga dengan keadaan sekarang. “Memasuki musim penghujan ini, BPBD Sulut mengimbau agar masyarakat Sulut berhati-hati dengan segala potensi bencana yang bisa saja terjadi, apalagi mereka yang tinggal di bantaran sungai atau pun di sekitar gunung yang rawan longsor,” saran Liow sembari menambahkan, BPBD Sulut selalu menginstruksikan pasukan agar selalu siap siaga dengan segala yang kemungkinan terjadi. Lanjutnya, bila ada kejadian bencana alam segera melapor ke pos resmi dan lebih berhati-hati.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sulut Sri Intan Montol menambahkan, menghadapi cuaca tidak menentu, diimbau agar terus waspada dengan bencana. “Masyarakat yang tinggal di bantaran sungai ataupun di sekitar daerah rawan longsor agar terus mempersiapkan diri serta persiapan yang lain seperti baju dan makanan.

Yang terpenting, yaitu surat-surat agar diletakkan di tempat yang aman jauh dari air ataupun longsor,” urainya sembari menambahkan, bidang kesiapsiagaan selalu memantau lokasi di semua sungai besar di  Kota Manado. “Juga alat-alat selalu disiapkan BPBD guna melayani masyarakat dari semua hal ataupun resiko bencana,” tambahnya.

Sementara itu, pantauan harian ini, angin kencang disertai gelombang pasang yang terjadi sejak beberapa hari terakhir ini, membuat masyarakat yang bermukim di lokasi pinggiran pantai mulai panik. Apalagi Kamis (14/12) lalu, tiga rumah milik warga di Kelurahan Santiago, Kecamatan Tahuna hanyut.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sangihe, Ir Reintje Tamboto membenarkan, rumah yang hanyut akibat diterjang gelombang pasang yang mencapai 4-5 meter. Selain tiga rumah yang dinyatakan hanyut, Tamboto juga mengatakan, di lokasi sama terdapat enam rumah rusak berat karena diterjang ombak.

“Dengan adanya cuaca ekstrem, gelombang pasang yang sangat tinggi di Kepulauan Sangihe, kejadiannya di Kelurahan Santiago, ada tiga warga yang terkena dampak gelombang pasang yang rumahnya hanyut dan 17 rumah lainnya terkena dampak,” beber Tamboto.

123
Kirim Komentar