09 Des 2017 08:09
Bersua dengan dr Murniyati Legrans SpPD

Ingin Kembali Mengabdi di Sitaro

MyPassion
TERUS MELAYANI: dr Murniyati Legrans SpPD bersama keluarga.

Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) patut berbangga. Ada salah satu dokter perempuan sukses di Jakarta. Dialah dr Murniyati Legrans SpPD, spesialis penyakit dalam yang kini memegang IGD RS Tebet, Jakarta.

 

Laporan: Rangga Mangowal

DOKTER Murniyati sudah malang-melintang di dunia medis. Sudah sering dia dipercaya menjabat kepala unit di rumah sakit besar di Jakarta. Sosok perempuan asal Sitaro ini, gigih meraih cita-citanya. Mulai dari mengambil jurusan Kedokteran di UKI, spesialis penyakit dalam di Filipina, dan makin memperdalam ilmunya di Universitas Indonesia.

"Saya lahir di Sitaro, 54 tahun lalu. Ayah dan ibu asli Sitaro, bekerja sebagai PNS. Tapi PNS dulu susah. Belum seperti sekarang," ungkapnya kepada Manado Post saat ditemui di RS Tebet, Jakarta.

Dokter Wanny, sapaan akrabnya mengungkapkan, dirinya berkerinduan menjadi dokter sejak kecil. "Dari SD suka main dokter-dokteran. Di sisi lain juga, waktu itu kami di kepulauan mengalami masa sulit. Hidupnya susah, terlebih kalau ada di antara kami sakit. Zaman itu tidak ada dokter di daerah kami. Hanya mantri," ujarnya.

Selain itu, zaman dahulu proses pengobatan masih tergolong tidak higienis, sehingga membuatnya bertekad menjadi dokter. "Suatu kengerian bagi saya waktu itu kalau sakit dan pergi ke mantri, tidak diberikan obat seperti biasanya. Tapi dikasih obat dengan jarum suntik. Jarum suntik sekarang kan sekali pake buang. Kalau dulu itu yang dari besi. Itu yang membawa trauma bagi kami di daerah saat itu," ceritanya.

Berkembangnya zaman, ketika Wanny beranjak remaja, di daerahnya dokter umum dari Manado sudah mulai masuk. "Sudah agak baik saat itu karena sudah ada dokter, meski hanya dokter umum. Kemudian terbesit di pikiran saya, bagaimana kalau nanti ada yang sakit berat dan tidak ada dokter yang bisa menangani lebih dalam. Akhirnya timbul cita-cita jadi dokter, terlebih dokter spesialis," katanya.

Keinginannya sangat menggebu-gebu untuk menjadi seorang dokter. Dirinya sempat pesimis karena melihat keadaan hidup yang bisa dikatakan susah. "Karena kami hidup di saat itu dalam kondisi susah. Saya berpikir saat itu, wah, tidak mungkin dengan keadaan yang tidak memungkinkan ini. Tapi karena kegigihan orangtua saya yang adalah seorang guru, mereka punya pandangan ke depan untuk anak-anak yang harus sekolah dan sukses. Segala berkat yang Tuhan berikan, kami bersaudara empat dikirim keluar oleh orangtua dari Sitaro. Harapannya untuk sekolah dan berhasil. Saya dan kakak saya berdua ke Manado. Kedua kakak lain, paling tua itu langsung ke Jakarta jadi pelaut," cerita ibu dua orang anak ini.

Di Manado, Wanny giat belajar hingga akhirnya menamatkan SMA. "Setelah saya lulus SMA saya juga kembali mengingat cita-cita saya yang mau jadi dokter. Saya sampaikan itu kepada kakak saya yang pelaut melalui surat dan akhirnya dia suruh saya ke Jakarta. Dengan berkat yang Tuhan beri akhirnya saya bisa ke Jakarta dan kuliah di Universitas Kristen Indonesia (UKI). Setelah lulus dokter Umum di UKI, mulai bekerja di RS Tebet Jakarta," Syukurnya.

Perjalanan karirnya sebagai dokter umum selalu diberkati Tuhan. Karena sejak masih berkuliah hingga kerja dirinya juga aktif di pelayanan sebagai seorang guru sekolah Minggu. "Saya dipercayakan yang punya rumah sakit memegang unit-unit dan juga pernah menjadi kepala bidang umum. Suatu kali saya punya kerinduan untuk menjadi seorang dokter spesialis. Saya bergumul dengan Tuhan dan menyampaikan kerinduan saya itu. Tuhan menjawab doa saya. Saya diberikan kesempatan lanjut sekolah spesialis penyakit dalam dan dibiayai rumah sakit. Ambil spesialis itu juga bukan di Jakarta, tapi di Filipina. Pulang dari sana saya harus adaptasi juga di Universitas Indonesia selama setahun lebih," ungkapnya.

Selama berkarir menjadi dokter, dirinya mengakui selalu disertai Tuhan. Sehingga semua tugas berjalan dengan baik. Bahkan dirinya juga sudah dipercayakan praktek di Tiga Rumah sakit berbeda. "Saya bekerja di tiga rumah sakit. Di RS Satria Medika juga RS Kartika Husada. Tapi waktu saya lebih lama di RS Tebet ini sebagai Kepala Unit IGD. Selama saya menjadi dokter, sebelum bertugas saya selalu berdoa.

Saya minta kepada Tuhan untuk selalu memberkati saya sebagai alat untuk bisa menyembuhkan pasien. Tapi kembali lagi pasien itu punya Tuhan jadi Tuhan yang berkehendak. Dan puji Tuhan selama saya bertugas sebagai dokter spesialis penyakit dalam tidak ada hambatan sama sekali karena Tuhan yang pakai saya," ungkap istri dari Pendeta Michael Lumanauw ini.

Asli dari Sulut, Wanny juga berkerinduan untuk kembali dan melayani sebagai dokter di Sulut. Terlebih ke daerah asalnya sendiri di Sitaro. "Tentunya saya sangat berkerinduan kembali ke daerah dan melayani sebagai dokter di Sulut. Khususnya di daerah saya di Tagulandang karena keluarga banyak di sana. Di desa Molengen dan Balehomara. Hanya saja suami saya adalah pendeta yang pegang jemaat, jadi itu yang buat saya belum bisa kesana. Tapi pastinya kerinduan untuk balik ke sana itu pasti ada," harapnya.(***)

Kirim Komentar