05 Des 2017 13:53

Sinterklaas dan Santa Claus, Serupa Tapi Tak Sama

MyPassion

Oleh: Pdt. David H. Tulaar

Pendeta GMIM Yesus Memberkati, Citraland, Manado

Koordinator Pelayanan Fungsional di Kota Manado

SANTO Nicholas pasti tidak pernah menyangka pada masa hidupnya di awal abad ke-4, bahwa namanya kemudian dilestarikan lewat perayaan Sinterklaas dan Santa Claus. Semulanya, perayaan ini menjadi populer di Negeri Belanda. Di sanalah nama Santo Nicholas lalu diubah menjadi Sinterklaas. Tradisi ini kemudian dibawa oleh para kolonis Belanda ke New Amsterdam (sekarang New York) pada abad ke-17. Dengan beberapa penyesuaian, nama dan tradisi Sinterklaas diubah oleh para penduduk asal Inggris di wilayah itu menjadi Santa Claus.

Baik Sinterklaas maupun Santa Claus mempunyai misi yang sama. Ia masuk ke rumah-rumah melalui atap, lewat cerobong asap tungku pemanas ruangan, dan membagikan hadiah kepada anak-anak dengan menaruhnya di sepatu dan kaos kaki. Namun demikian, figur Sinterklaas di Negeri Belanda berbeda dengan tokoh Santa Claus di Amerika Serikat. Di Negeri Belanda Sinterklaas adalah personifikasi seorang uskup gerejawi yang berkegiatan pada setiap tanggal 6 Desember. Tradisi Sinterklaas di Negeri Belanda tidak ada kaitan dengan penghayatan Minggu-minggu Adven maupun perayaan Natal Yesus Kristus. Menurut legenda, Sinterklaas datang dengan mengendarai seekor kuda setelah berlayar lewat laut dari Spanyol. Ia selalu didampingi oleh Zwarte Piet (Petrus Hitam).

Para penduduk asal Inggris di New York yang mulai mengaitkan Santa Claus dengan perayaan Natal Yesus Kristus. Namun demikian, mereka menampilkan Santa Claus bukan sebagai seorang uskup, seperti halnya di Negeri Belanda, melainkan sebagai satu sosok sekuler yang mengendarai kereta salju dan ditarik oleh delapan ekor rusa kutub (reindeer) yang sanggup terbang.

Sebenarnya, pada masa hidupnya di awal abad ke-4 Santo Nicholas adalah seorang uskup gereja di Mira, di Provinsi Lucia (sekarang bagian dari Turki). Latar belakang hidupnya tidak banyak diketahui. Tetapi ada banyak legenda yang muncul di sekitar tokoh Santo Nicholas ini. Ada kisah tentang penyelamatan sejumlah pelaut. Ada pula cerita mengenai tiga orang dara yang hendak dijual oleh ayah mereka menjadi pelacur. Mereka kemudian tertolong dan bisa menikah dengan layak berkat pundi-pundi emas yang diberikan oleh Santo Nicholas. Menurut legenda juga, santo ini dilahirkan di tengah satu keluarga yang kaya raya di Parara, di Asia Kecil. Ia kemudian membagikan kekayaannya itu kepada orang-orang miskin. Hubungan Santo Nicholas dengan anak-anak pun bermula dari sebuah legenda, ketika ia menghidupkan kembali tiga orang anak yang dibunuh dan yang tubuhnya telah direndam dalam air asin.  

Harus diakui bahwa baik Sinterklaas maupun Santa Claus telah berkembang menjadi dua tradisi perayaan yang berbeda. Kalau Sinterklaas tetap merupakan tradisi di Negeri Belanda, yang dirayakan tidak hanya bagi anak-anak tetapi juga untuk orang dewasa, di Amerika Serikat tradisi Santa Claus bertumbuh sebagai satu kebiasaan sekuler. Di daerah kita ini, kita menemukan kedua tradisi ini saling tumpang tindih satu dengan yang lain. Bahkan tak jarang ada kerancuan dalam hal bagaimana tradisi ini harus dirayakan. Kita terkadang bahkan tidak sadar bahwa kebiasaan ini adalah tradisi impor, yang asing bagi kebudayaan kita.

Kita mengambil alih tradisi ini dari orang Belanda. Keluarga-keluarga yang pernah merasakan pendidikan gaya Belanda mungkin pernah mengalami pada masa anak-anak bagaimana mereka menyiapkan sepatu berisikan rumput setiap tanggal 5 Desember malam. Keesokan harinya, rumput di sepatu-sepatu itu sudah tidak ada. Konon, sudah disantap oleh kuda sang Sinterklaas. Dan di atas sepatu-sepatu itu sudah ada hadiah, yang, konon pula, berasal dari sang Sinterklaas yang baik hati dan pengasih anak-anak itu. Anak- anak yang “nakal” biasanya tidur dengan perasaan was-was. Jangan-jangan mereka tidak menerima hadiah, malahan mendapat pukulan sapu lidi si Zwarte Piet dan dimasukkan ke dalam karung. Namun demikian, sekarang ini dalam banyak hal kita sebenarnya merayakan tradisi Sinterklaas dari Belanda itu dengan bumbu komersial gaya Santa Claus Amerika Serikat.

Kini di Negeri Belanda tradisi Sinterklaas masih meriah dirayakan setiap tahun. Namun sejak beberapa tahun terakhir ini berkembang keinginan publik untuk melarang diperagakannya peran Zwaarte Piet, yang oleh kalangan luas di sana dipandang bersifat rasis, merendahkan bahkan melecehkan orang-orangberkulit hitam.

Sekarang ini di tanah Minahasa, menjelang tanggal 6 Desember, berbagai kelompok, organisasi, jemaatdan lain-lain “menjual” program mereka untuk merayakan Sinterklaas dan Santa Claus ini. Kelompok konsumen utamanya, tentu saja, adalah anak-anak. Programnya bermacam-macam. Ada yang sekedar menjadi “penyalur” hadiah-hadiah yang sudah dibeli sebelumnya oleh para orangtua untuk anak-anak mereka; ada pula yang menawarkan jasa untuk membelikan hadiah tersebut dengan imbalan harga tertentu. Acara pemberian hadiah ini kemudian diramu dengan berbagai nasehat yang pada intinya hendak mengajak anak-anak untuk tunduk dan dengar-dengaran kepada orangtua mereka. Sejauh mana nasehat- nasehat itu efektif sebagai alat didik, tidaklah terlalu dipersoalkan. Pusat kegiatan ini terletak pada pemberian hadiah; bahkan pada hadiah itu sendiri.

 Sebenarnya ada perbedaan yang cukup mendasar dalam hal cara pandang kita terhadap hadiah dibandingkan dengan orang Eropa. Orang Eropa melihat hadiah dari segi nilainya. Sebuah kartu pos atau sekuntum bunga, misalnya, adalah sebuah hadiah berharga dilihat dari segi perhatian dan perasaan yang diungkapkannya. Sementara bagi “kita” di sini, hadiah lebih cenderung dilihat dari segi harganya. Semakin mahal harga sebuah hadiah, semakin tinggi nilainya. Jika benar perbandingan ini, maka kita di sini ternyata sangatlah materialistis dalam memandang nilai sebuah hadiah. Disadari atau tidak, sebenarnya acara Sinterklaas telah turut dirasuki oleh nilai-nilai materialistis seperti ini. Kapitalisme modern telah mengubah cara pandang kita terhadap materi. Nilai perhatian dan ungkapan rasa yang dikandung oleh sebuah hadiah telah diganti oleh nilai uang dan harga. Orangtua menganggap telah memberi perhatian yang besar kepada anaknya berdasarkan harga hadiah yang mereka berikan.

Pada kenyataannya, perayaan Sinterklaas dan Santa Claus telah menjadi kegiatan sekuler dan komersial yang diberi bingkai agama. Penyelenggara acara ini bervariasi mulai dari pusat-pusat pertokoan, organisasi-organisasi sosial sampai pada jemaat-jemaat. Berbagai pesan sponsor pun mengiringi kegiatan ini. Semuanya dengan tujuan komersial. Kata orang, apa yang sedang terjadi pada kita di sini tidak ubahnya sebuah globalisasi tradisi Santa Claus bergaya kapitalisme amerikanistis. Santa Claus bagaikan sebuah billboard iklan yang mengatasnamakan perayaan Natal Yesus Kristus sebagai media dagang. Dari segi ini, sasaran utama perayaan Santa Claus bukanlah anak-anak tetapi kocek dan dompet orangtua mereka.

Santo Nicholas tentu tidak pernah menyangka bahwa lebih dari enam belas abad setelah masa hidupnya namanya dan figurnya akan menjadi begitu populer lewat iklan-iklan. Bahkan niatnya untuk menolong anak-anak telah diubah menjadi pesta hadiah semata. Mungkin Santo Nicholas akan menangis kalau ia menyaksikan apa yang telah menimpa banyak anak di muka bumi dewasa ini. Hak-hak mereka telah dilanggar karena alasan-alasan ekonomi. Anak-anak menjadi korban kekerasan verbal, fisik dan seksual. Tidak sedikit anak gadis yang terjebak dan dijebak ke dalam prostitusi anak. Banyak pula anak di berbagai tempat yang menjadi korban pedofilia. Banyak anak di bawah umur harus bekerja mencari nafkah bagi orangtuanya.

Di Manado pengemis cilik mulai berkeliaran di pusat-pusat perbelanjaaan. Hak-hak asasi anak-anak masih sering dilanggar; terkadang oleh orangtua mereka sendiri. Undang-undang tentang Perlindungan Anak (UU 35/2014) masih belum sepenuhnya dapat dijalankan.

Barangkali, perayaan Sinterklaas mestinya membawa pesan pembebasan bagi anak-anak lewat perjuangan-perjuangan nyata dan bukan sekedar menjadi alat komersial kapitalisme modern. Penegakan hak-hak asasi anak beserta hak-hak mereka lainnya kiranya menjadi tema utama perayaan Sinterklaas tahun ini dan seterusnya. Semoga!(*)

Kirim Komentar