04 Des 2017 10:03

Bola, Takdir, dan Luka

MyPassion

BEBERAPA waktu lalu, penulis dihadiahi sebuah buku dari sang penulis sendiri. Judul buku tersebut merupakan juga judul artikel kali ini: Bola, Takdir, dan Luka. Buku setebal 182 halaman ini merupakan buku pertama dari dua buku yang memuat kumpulan ulasan beliau tentang sepak bola. Penulisnya adalah seorang sahabat, yaitu Dr. Willy Kumurur, M.P.H.

Dua Kekaguman

Dalam beberapa komentar dan pujian terhadap buku ini, dua hal yang berulang kali menjadi titik kekaguman sekaligus pertanyaan. Kekaguman yang pertama lahir dari fakta bahwa tulisan-tulisan tersebut lahir dari seorang yang berprofesi dokter dan berkecimpung di ranah public health.

“Dia seorang dokter, tetapi kemampuannya mengolah kata untuk mendeskripsikan sepak bola, pesepak bola, tim dan sejarah bola, laiknya seorang manajer, pelatih, bahkan pemilik klub bola,” tulis sang perangkai kata pengantar.

Hal kedua yang mengundang kekaguman adalah cakupan tulisan. Tulisan-tulisan beliau bukanlah tentang sepak bola dari sisi ramalan atau hitungan statistik sang pengamat. Tulisan-tulisan tersebut, sebaliknya, menghadirkan sepak bola secara lebih bernuansa.

Kedalaman dan keluasan ulasannya bak melepaskan sepak bola dari kungkungan makna yang hanya seluas sebuah pertandingan olah raga. Sepak bola bukan lagi sebagai fakta terberi, yang dilalui tanpa dialami, diterima tanpa disyukuri, dijalani tanpa disadari, ditonton tanpa disimak.

Sepak bola, dalam ulasan sang dokter, menjadi sebuah peristiwa hidup yang dialami dan dimaknai. Justru karena itu, seperti judulnya, terkadang sebuah pertandingan menghadirkan luka, di satu sisi, dan di sisi lain, menghadirkan kebahagian tiada tara. Kategori rigid kemenangan dan kekalahan dilebur oleh nilai-nilai kemanusiaan yang lebih universal dari pada personal.

Nah, dasar kekaguman yang kedua ini, tentang cakupan tulisannya, membuat pertanyaan tentang spesialisasi sang dokter semakin menjadi-jadi. Nuansa yang telah ia hadirkan dalam ulasan-ulasannya menghempaskan kategori-kategori profesional. Seorang dokter seharusnya positivistik dalam pendekatan ilmunya, induktif dalam penelitiannya, dan deduktif dalam prakteknya. Stereotip itu sama sekali tidak nampak dalam refleksinya tentang sepak bola.

Hasrat Vs. Spesialisasi

Alasannya, penulis berasumsi, adalah bahwa hasrat sang dokter telah membebaskan dirinya dari kungkungan stereotip tersebut. Pada tahun 1922, Henri Bergson (1859-1941), seorang filsuf Perancis, menulis “On n`est jamais tenu de faire un livre (seseorang tidak pernah dituntut untuk menulis sebuah buku).” Menulis buku memang bukan merupakan kewajiban. Namun, jika seseorang, apapun profesinya, tidak mampu lagi membendung keingintahuannya dan rasa kagumnya akan sesuatu, terlebih menyangkut hal-hal yang fundamental, esensial, substansial, dan radikal, maka ia seharusnya membebaskan dirinya.

Seperti tuntutan Bergson, sang dokter akhirnya membebaskan dirinya dengan menulis ulasan-ulasannya. Kehadiran buku pertama ini merupakan mimesis dari hasratnya yang tak terbendung. Buku ini mengimitasi hasrat dan cara berpikirnya tentang sepak bola. Dalam konteks ini, buku ini tak lain adalah sebuah meme yang ditawarkan sebagai rekonstruksi terhadap kultur populer sepak bola.

Keluasan Rujukan

Bukti keluasan ulasan-ulasan sang dokter dapat dilihat dari jejak-jejak seni, sastra, sejarah, ideologi, dan filsafat yang ia tinggalkan. Tokoh sastra yang dirujuk mulai dari Alan Lightman, Nicholas Sparks, Sir Arthur Conan Doyle, John Keats, William Shakespeare, Federico Garcia Lorca, Kahlil Gibran, Jalal ad-Din Muhammad Rumi atau Rumi, Pier Paolo Pasolini, Sun Tzu, Pablo Neruda, Mahatma Gandhi, Guy Finley, Leo Tolstoy, Herbert E. Read, Chairil Anwar, Lydia Maria Francis Child, sampai Sapardi Djoko Damono).

Rujukan ilmu pengetahuan alam dan sosial meliputi M. Scott Peck, Fragile X Syndrome atau Martin-Bell Syndrome, Richard Freiherr von Krafft-Ebing, Franz Ruppert, dan Michel-Rolph Trouillot. Rujukan di bidang seni menyinggung Zubin Mehta, New York Philharmonic, Demis Rousos, Antonio Lucio Vivaldi, dan Wolfgang Amadeus Mozart).

Tidak puas dengan rujukan yang akademik dan konvensional, sang dokter juga menyinggung pop culture (Shrek Forever After, Harry Potter, Marshall Bruce Mathers III atau Eminem, Shane Kuhn, Eckhart Tolle, Guillaume Musso, George Raymond Richard Martin, Henning Mankell, Anil Vedmehta, John Harms, Tom Cruise, Ebiet G. Ade, Paul Walker, Vin Diesel, The Bee Gees, Steve Jobs, Whitney Houston, Mitch Albom, dan Tony Fernandez)

Ia juga merujuk penulis-penulis muda seperti Muhammad Damm dan Reza Wattimena. Ia pun dekat dengan fakta sejarah (Adolf Hitler, tentara Nazi Jerman menyerang Moskwa, pembunuhan Alexander Litvinenko, Soekarno, Perang Thermopylae: Raja Xerxes I dari Persia vs. Raja Leonidas dari Sparta, Chief Seattle, dan Muammar Mohammed Abu Minyar Gaddafi). Demikian juga  ranah politik kontemporer dengan menyinggung Dmitry Medvedev, Vladimir Putin, beserta demografi kota Moskwa.

Di ranah filsafat, beliau ternyata nyaman dengan ide-ide para filsuf mulai dari Yunani Kuno, Abad Pertengahan, Abad Modern, dan filsuf kontemporer. Nama-nama dari berbagai tradisi filsafat disebut mulai dari Jean Paul Sartre, Adam Smith, José Ortega Y Gasset, Immanuel Kant, John Dewey, Nikolai Alexandrovich Berdyaev, Sokrates, Platon, Umberto Eco, Friedrich Nietzsche, Slavoj Žižek, Martin Heidegger, Sigmund Freud, Thomas Aquinas, Richard Rorty, Lars Fredrik Händler Svendsen, Heraklitus, Bertrand Russell, Robin George Collingwood, Rene Descartes, sampai Arthur Schopenhauer.

Semua tokoh dan hal yang dirujuk di atas tidak disusun secara kronologis atau berdasarkan tradisi pemikiran mereka. Ini merupakan koleksi yang penulis lakukan ketika membaca satu-persatu ulasan demi ulasan dari sang dokter. Hasilnya adalah sebuah panorama keluasan pemikiran dan pengetahuan. Namun, pada saat yang sama keluasan ini menghantar setiap pembaca pada ketidakberhinggaan hidup manusia dan proses pemaknaannya.

Kedalaman “Peristiwa”

Henri Bergson dalam bukunya, Introduction à la Métaphysique, menegaskan bahwa walaupun para filsuf berbeda dalam banyak hal, namun mereka pada umumnya sepakat tentang dua cara untuk mengetahui sesuatu.

Cara yang pertama menghantar kita untuk mengetahui sesuatu dari sisi luarnya. Sebaliknya, cara yang kedua langsung membenamkan kita dalam realitas itu sendiri. Cara yang pertama sangat tergantung pada perspektif yang kita gunakan sedangkan cara yang kedua itu tidak. Jika cara yang pertama akan menghadirkan pengetahuan dan pendapat yang sifatnya relatif, maka cara yang kedua akan mempertemukan kita, jika memang memungkinkan, dengan realitas absolut.

Merujuk pada pandangan tersebut, kita yakin bahwa sang dokter telah membawa dirinya dan orang yang telah membaca buku ini untuk bergumul dengan cara kedua. Cara ini mengundang kita semua ke kedalaman makna sepak bola. Setidaknya, ia telah mengajar kita tentang proses mencari dan memaknai setiap “peristiwa” sepak bola.

Epilog

Bola, Takdir, dan Luka merupakan sebuah buku yang menempatkan sepak bola dalam ranah pemaknaan hidup. Penulis tidak mendapat rujukan yang menjelaskan apakah separuh dari orang-orang yang dirujuk di atas merupakan penikmat sepak bola. Namun, semua pemaknaan yang diangkat dari rujukan-rujukan di atas telah menjadi konteks luas dari sepak bola sebagai sebagai sebuah peristiwa yang dialami.

Sepak bola akhirnya bukan hanya permainan yang sekedar dimainkan oleh pemain sebagai homo ludens (manusia yang bermain). Sebagai permainan, makna sepak bola hanya sejauh kenikmatan dan kepuasan yang dihadirkan oleh kemenangan. Karena itu, kekalahan merupakan luka yang perlu dihindari.

Sang dokter telah “menyembuhkan” penyakit “permainan sepak bola”. Dengan memperdalam makna sepak bola, sang dokter menghadirkan antidot. Ramuan yang digunakannya sangatlah eklektik. Namun, rupanya bobot terbesar sering disematkan pada pemaknaan eksistensial manusia. Inilah yang disebut sebagai “philosophy of life”.(***)

Kirim Komentar