27 Nov 2017 14:02

Murid Belajar di Ruangan Berdinding Tripleks, Beratap Rumbia

MyPassion
BUTUH BANTUAN: Suasana belajar para murid SMK 1 Tutuyan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Foto: Lucky Mamahit/MP

BOLTIM—Kesenjangan fasilitas sarana prasarana pendidikan, masih dirasakan sekolah yang berada di luar kota besar. Salah satunya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 1 Tutuyan, Kabupaten Boltim.

Betapa tidak, sekolah yang terletak di ibu kota kabupaten ini, masih harus menggunakan barak darurat berdinding tripleks dan beratap rumbia sebagai ruangan kelas. Tak tanggung-tanggung, ruangan yang dibuat demi memenuhi kebutuhan siswa, ada empat ruangan.

Diungkapkan Kepala Sekolah Rahma Buntuan, ruang kelas tersebut sudah berdiri sejak pertama kali sekolah pindah di lokasi tersebut pada tahun 2014. Dirinya menjelaskan, saat ini sekolah memiliki 6 ruangan kelas yang dimanfaatkan untuk belajar. Untuk guru,  dimanfaatkan ruangan yang juga perpustakaan sekolah. Dirinya menambahkan, ruang kelas tersebut dibangun oleh komite sekolah, dan sudah satu kali direhab juga oleh komite sekolah. "Itu bantuan dari orang tua siswa," ujarnya.

Dirinya mengaku, pada awal masuk dilokasi sekolah dengan siswa berjumlah dua ratus. Dirinya sempat menerapkan sekolah pagi dan siang karena terbatasnya ruangan. "Beberapa bulan kita coba, tapi kita hentikan karena tenaga pengajar yang tidak mampu dan mengeluh. Jadi kita kembalikan hanya sekolah pagi saja," ujarnya.

Selain masalah ruangan, Buntuan juga mengeluh dengan kurangnya perhatian dari pemerintah provinsi. Pasalnya, dirinya mengaku, untuk tahun ini sekolahnya tidak pernah mendapatkan bantuan apapun. Salah satunya, bantuan fasilitas komputer untuk ujian nasional berbasis komputer, karena yang tersedia tersisa 8 unit. "Kita pernah dipercayakan melakukan teleconference dengan gubernur saat pelaksanaan ujian nasional lalu. Kita berharap ke depan akan ada bantuan, baik ruang kelas maupun komputer,” ujarnya.

Senada diungkapkan salah satu guru, Sujarwo Datunsolang. Dirinya mengaku, ruangan kelas yang serba darurat tersebut cukup membantu memenuhi kekurangan ruangan kelas. “Itu namanya kita sebut barak, dan saat ini dimanfaatkan oleh siswa kelas satu. Nanti di kelas dua, baru mereka bisa masuk ruang kelas yang sudah permanen,” ujarnya.

Menurutnya, selain permasalahan ruang kelas yang serba darurat. Permasalahan lainnya yang urgent untuk diatasi adalah terkait pagar sekolah. "Pagar ini tujuannya untuk kedisiplinan siswa. Selain itu, kita sering upacara bendera sementara ternak sapi milik warga ada di dalam kawasan sekolah. Ini yang juga kita harapkan untuk adanya bantuan dari pemerintah, agar bisa didirikan pagar,” keluh Guru bidang studi Sejarah ini.(cw-02/gnr)

Kirim Komentar