23 Nov 2017 09:11

Gaji Naik, Pakar IT Laris

MyPassion
Ilustrasi

JAKARTA  - Pada tahun 2018, permintaan terhadap tenaga informatika dan teknologi (IT) akan semakin tinggi. Hal tersebut karena perusahaan-perusahaan di Indonesia, berlomba-lomba membangun platform digital untuk bisnis. Selain itu, dunia kerja akan dipenuhi generasi millenial yang hobi berpindah-pindah pekerjaan.

Dalam Salary Survey yang dirilis perusahaan rekrutmen profesional Robert Walters kemarin (22/11), tenaga profesional di Indonesia akan mendapatkan kisaran 35 persen kenaikan gaji. 20 hingga 30 persen kenaikan gaji diperkirakan dinikmati tenaga bidang Human Resource Development (HRD), Sales dan Marketing.

Pengamat IT Sulut Lalana Malik menilai, dengan perkembangan teknologi yang terjadi di zaman sekarang, pastinya setiap perusahaan sudah menggunakan teknologi berbasis computer. Maka dari itu, perusahaan menuntut Sumber Daya Manusia (SDM) yang ahli pada bidang IT. “Teknologi semakin canggih, permintaan tenaga IT makin dicari setiap perusahaan. Tak jarang hal tersebut dianggap para tenaga ahli adalah kesempatan dalam menuntut gaji tinggi,” beber Malik yang sementara menimba ilmu di Pascasarjana Unsrat.

Perkembangan teknologi sekarang, beber Malik, bisa dilihat dari banyaknya bank yang menambah layanan e-banking. Begitu pula dengan perusahaan yang memakai transaksi secara online. “Otomatis posisi tersebut mesti diduduki profesional IT. Jika sedikit saja terjadi kesalahan, perusahaan bisa rugi,” tegasnya.

Pengamat Ekonomi Sulut Dr Jerry Wuisang menilai sifat bekerja yang berpindah-pindah pada tenaga ahli di era milenial, menimbulkan nilai positif dan negatif. Dari tinjauan positif, hal tersebut bisa meningkatkan finansial seseorang dalam pendapatnya setiap hari. Hal tersebut wajar dipilih karena mengingat skill expert yang dimiliki. “Mereka (tenaga ahli, red), berpikir mungkin memiliki keahlian khusus. Jadi, memilih bekerja tidak menetap,” ungkap Wuisang.

Segi negatifnya, fenomena tersebut akan membuat goyah suatu ekonomi perusahaan. Sebab, bisa saja perusahaan sudah sangat berharap banyak dengan kinerja tenaga ahli, kemudian mengundurkan diri dengan alasan gaji kecil. “Hal ini bisa menggoyahkan suatu perusahaan dan ekonomi kemasyarakatan,” tandasnya.

Ditambahkannya, perusahaan sekarang ini mesti mengambil langkah dalam menentukan fasilitas ataupun gaji yang diberikan kepada tenaga ahli. Perusahaan bisa memilih untuk memberikan jaminan fasilitas traveling atau bonus lainnya. “Agar para expert tersebut bisa betah bekerja di perusahaan dan juga ada waktu buat bersantai. Kebanyakan tenaga ahli adalah tipikal orang yang mempunyai prinsip hidup tersendiri,” tambahnya.

Sementara itu, Toby Fowlston, Managing Director untuk Robert Walters Asia Tenggara mengatakan, tren digitalisasi yang menyapu kawasan telah memacu banyak bisnis untuk menciptakan platform online atau mobile. Karena perusahaan berusaha meningkatkan daya saing mereka dan meningkatkan pangsa pasar dengan konsumen.

Sebagai hasil dari transformasi ini, banyak perusahaan yang ingin mempekerjakan para profesional dengan keahlian digital, baik di bidang pemasaran dan teknologi informasi, terutama mereka yang mahir dalam menjalankan infrastruktur digital back office atau dengan keahlian teknologi khusus.

"Selain itu, profesional IT di bidang komputasi cloud, keamanan siber dan big data juga diminati karena sub-sektor IT ini menjadi area pertumbuhan utama, dan tren ini diperkirakan akan berlanjut pada 2018," katanya.

Survei tersebut juga mencatat bahwa fokus pada transformasi bisnis ke platform digital juga telah membantu memicu permintaan bagi para profesional Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki pengalaman akan perubahan manajemen. Terutama yang terbukti telah sukses mengelola transformasi budaya perusahaan.

Namun, Indonesia mengalami tantangan yakni terbatasnya suplai tenaga ahli yang diproduksi setiap tahunnya. Trennya akan terus naik serta berpotensi mencapai kesenjangan kemampuan setinggi 50 - 60% pada tahun 2020.

Untuk itu, kata Toby, perusahaan harus membuat proses rekrutmen  semakin mudah dan fleksibel. “Harus ada program pembelajaran, tidak semata langsung dieksploitasi keterampilan teknisnya,” katanya.

Rob Bryson, Country Manager Robert Walters Indonesia memperingatkan bahwa akan ada fenomena perpindahan kerja (Job Movers) pada karakter pekerja di era milenial. Dengan kemampuan yang dimiliki, para tenaga ahli tersebut bisa melompat-lompat pindah pekerjaan dengan harapan kenaikan gaji.

“Pekerja terampil biasanya mengharapkan kenaikan 15-30 persen, tapi spesialis IT bisa sampai 50 persen,” katanya.

Saat ini, menurut Robert tren yang terjadi para tenaga ahli muda tidak terlalu memikirkan karir atau uang yang harus didapatkan dalam jangka waktu tertentu. Namun, lebih pada melakukan sesuai passion. Seorang pekerja bisa bekerja untuk satu sampai tiga perusahaan secara bersamaan. “Pagi mereka kerja untuk perusahaan ini, sore untuk perusahaan lain, malamnya mereka bekerja untuk diri sendiri, alasannya untuk fun,” katanya.

Dengan fenomena Job Movers ini, semakin banyak pula potensi pembajakan tenaga kerja antar perusahaan. Agar perusahaan mampu mempertahankan tenaga ahlinya, harus dicari formulasi keseimbangan antara gaji, kesempatan untuk waktu libur, serta fasilitas untuk pengembangan diri (upskilling). “Para pekerja hari ini tidak kenal konsep loyalitas pada perusahaan,” pungkas Rob. (berbagai sumber/vip)

Kirim Komentar