15 Nov 2017 12:43

Mapalus Kamtibmas Cegah Pergerakan ISIS

MyPassion
Bambang Waskito

MANADO—Tertangkapnya terduga simpatisan ISIS di Manado jadi atensi Polda Sulut. Kapolda Irjen Pol Bambang Waskito menyebutkan, sistem pengamanan di tanah Nyiur Melambai tetap dilakukan berdasarkan prosedur.

Menurutnya, wilayah perairan paling diwaspadai. Hal ini membuat Personel dari Dit Polair terus melakukan patroli hingga ke perbatasan. Di samping itu, juga memberdayakan komunitas para nelayan untuk kerja sama dengan aparat keamanan. Di mana, jika ada yang mencurigakan mereka akan melapor. “Begitupun masyarakat umum, kami harap ikut melakukan antisipasi,” ujar Waskito.

Menurutnya, di wilayah perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)-Filipina, personel gabungan dari Brimob, Shabara, Pol Air, Binmas jajaran Polda, serta dari Kodam XIII/Merdeka, Lantamal VIII dan lanudsri, masih melakukan patroli rutin. “Pulau-pulau yang tidak berpenghuni jadi sasaran operasi. Ini untuk mencegah oknum-oknum tidak bertanggung jawab agar tidak masuk ke wilayah NKRI via perairan Sulawesi Utara,” terang Waskito.

Mantan Kapolda Jawa Barat ini juga mengimbau masyarakat, agar bersatu melawan kelompok-kelompok ini. “Mari kita jaga betul NKRI kita, Pancasila kita, Bhinneka Tunggal Ika kita dan Merah Putih kita. Jangan sampai terjadi seperti kejadian di Irak, Suriah, dan Filipina,” ujarnya.

Menurutnya, Operasi Aman Nusa ini untuk menangkal eskalasi kejahatan tingkat tinggi. Serta melibatkan pasukan dari Polres perbatasan yaitu Polres Sangihe dan Polres Talaud. “Segala potensi gangguan kamtibmas yang ada, dengan hilir mudiknya nelayan yang ada di sana, yang kemungkinan akan dijadikan sarana untuk bergesernya pelarian-pelarian tersebut, otomatis akan dicek,” tambahnya.

Cara lain mencegah masuknya kelompok radikal, katanya, bandara dan pelabuhan juga diawasi. “Ada juga teknologi CCTV yang semakin membantu kami melakukan pantauan. Sebab, mereka tidak diperkenankan masuk ke Indonesia, apalagi ke Sulut,” urainya.

Sementara itu, disarankan Pengamat Terorisme Universitas Indonesia Marlon Kansil, seluruh stakeholder agar bekerja sama dalam menangani permasalahan terorisme dengan membentuk satu pusat informasi. “Terlebih 13 stakeholder yang ada di laut, atau wilayah maritim. Mesti mempunyai lembaga informasi. Seperti bank data dan bank informasi. Semua harus satu pintu, agar dapat berkoordinasi. Kalau 13 stakeholder mempunyai satu pusat informasi, pasti masuknya teroris di Sulawesi Utara maupun daerah lain akan terdeteksi,” sarannya.

Kata Kansil, sudah saatnya warga bersama aparat melakukan mapalus keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). “Nilai-nilai mapalus di kalangan generasi muda untuk berantas radikalisme perlu dihidupkan,” sebutnya.

Menurut analisa Kansil, Sulut hanya jalur transit para simpatisan teroris. Sebab, pusat teroris itu menurutnya ada di Sumatera dan Jawa. Karena jalur transportasi teroris hanya di Sulut dan Mindanao. Jadi, jika semua stakeholder bisa membuat satu pusat intelijen informasi, masuknya teroris akan terdeteksi dan bisa ditangkap.

“Jadi anti radikalisme perlu ditingkatkan lagi ke masyarakat. Karena teroris yang ditangkap baru-baru ini hanya simpatisan. Tujuan mereka di masjid-masjid. Dan perlu diketahui, teroris didukung rakyat yang mengatasnamakan agama. Tidak menutup kemungkinan di semua daerah bisa saja ada masyarakat menjadi simpatisan, dengan berbagai alasan melatarbelakangi,” tambah Kansil.(ctr-05/gnr)

Kirim Komentar