11 Nov 2017 09:28
Penonton Film Indonesia 360 Juta Orang

Red Carpet Banjir Artis

MyPassion

MANADO- Malam puncak penganugerahan Festival Film Indonesia (FFI) 2017, di Grand Kawanua Convention Center (GKCC) hari ini, bakal heboh. Khususnya, aksi red carpet bak malam Piala Oscar ala artis-artis Hollywood. Sejumlah artis nasional dipastikan akan hadir. Diantaranya,  Dian Sastro, Adipati Dolken, Ernest Prakasa, Dion Wiyoko, Kezia Warouw, hingga Christine Hakim. “Bagi warga Manado dan Sulut, bisa datang menyaksikan para artis di Red Carpet sebelum malam puncak FFI. Semua bisa hadir, karena acaranya gratis,” Humas FFI 2017 Agung Sentausa, saat bertandang ke Graha Pena Manado Post, semalam.

 

Ditambahkan Ketua Umum Panitia FFI Pusat Leni Lolang, menegaskan dalam malam penganugerahan tidak ada penonton yang hadir. Hanya ada tamu undangan sebanyak 1.000 orang. “Untuk pengunjung, bisa melihat pada saat Red Carpet yang sudah diatur panitia,” sebut Lolang.

Sebelumnya, panitia FFI melakukan kunjungan ke sekolah, panti asuhan, hingga welcome dinner di rumah dinas gubernur Sulut, semalam. Tampak sejumlah artis. Didominasi artis senior. Sebut saja, Meriam Bellina, Ira Wibowo, Egi Fedly, Paramitha Rusadi serta Hengky Solaiman. Artis muda ada Jessica Mila dan Fauzi Baadilla.

Gubernur Sulut Olly Dondokambey mengatakan, welcome dinner ini digelar dengan maksud silahturahmi antara artis, produser dan masyarakat Sulut. Juga menjadi waktu bagi pemerintah bisa mengenalkan potensi dan lokasi syuting di Sulut. “Saya sudah menginstruksikan kepada berbagai pimpinan daerah, ketika ada yang syuting film di Sulut tidak perlu diberlakukan retribusi pajak agar lebih menggiatkan perfilman Indonesia,” tegas Olly sembari menambahkan untuk produser tidak perlu ragu menjadikan Sulut sebagai lokasi syuting karena pemerintah akan mensupport 100 persen kegiatan tersebut.

Ketua Panitia FFI Pusat Leni Lolang mengatakan, pihak panitia sangat berterima kasih atas dukungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah guna menunjang terlaksananya kegiatan ini. “Untuk piala yang nantinya akan diterima para pemenang direncanakan akan dilapisi dengan emas. Namun, waktu yang dekat sehingga rencana tersebut tidak jadi terlaksana,” ucap Lolang sembari menambahkan, mungkin tahun depan akan dilapisi emas sekira 22 sampai 23 karat, namun itu masih dalam perencanaan.

Terkait teknis penjurian, tambah Leni, kalau dahulu panitia memilih komite seleksi dan dewan juri. Kalau sekarang sudah tidak lagi. Pemberdayaan asosiasi profesi, mengeluarkan rekomendasi untuk film yang akan dinominasikan. Begitu juga jurinya. Mereka mengajukan nama-nama yang akan menjuri perwakilan dari asosiasi profesi. Sekira 75 juri ada perwakilan. Juga di luar asosiasi profesi yang dinamakan juri mandiri. “Di dalamnya ada akademisi, sastrawan, budayawan dan juga perwakilan dari juri film pendek yang totalnya ada 16 juri. Mereka melakukan voting penilaian dan hasilnya ditabulasi akuntan publik, supaya menjaga kerahasiaan dan tidak ada lagi intervensi panitia,” urainya.

Ketua Umum Panitia Lokal Rita Dondokambey-Tamuntuan mengatakan, dilaksanakannya FFI di Kota Manado menjadi kebanggaan untuk masyarakat Sulut. Dalam mensukseskan acara ini juga, pihak panitia lokal telah berusaha sebaiknya untuk berkoordinasi dengan beberapa pihak terkait, agar tidak terjadi kesalahan ataupun miss komunikasi. “Bukan hanya itu, kami juga telah mensosialisasikan acara ini ke berbagai lapisan masyarakat,” tutur Rita sembari menambahkan, produser film dapat melihat potensi di Sulut guna menjadikan daerah Nyiur Melambai sebagai lokasi syuting.

Artis Senior Hengky Solaiman mengungkapkan, dari Jakarta saja Manado itu sudah terdengar sebagai provinsi yang all the best. Juga Manado dengan pengalaman yang ada, mempunyai Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik. “Saya dahulu memiliki banyak teman yang bisa menjadi teman berbicara Bahasa Belanda. Karena itu, di sini saya ingin sekali mencari teman yang bisa berbicara Bahasa Belanda,” beber Solaiman sembari menambahkan, fasilitas yang disiapkan panitia sangat baik mulai dari hotel sampai transportasi. Hengky juga mengatakan, untuk makanan di Sulut tidak jadi masalah. Karena menurutnya, makanan yang dikonsumsi dirinya bebas, sebab berasal dari Suku Tionghoa.

12
Kirim Komentar