11 Nov 2017 09:38
Disuruh Jadi Insinyur, Lebih Pilih Pilot

Bersua dengan Kolonel Pnb Ferdinand Roring

MyPassion
PENGABDIAN: Kol (Pnb) Ferdinand Roring dengan seragam kebanggaannya. Foto lain; Roring bersama keluarga.

Kolonel Pnb Ferdinand Roring, jadi salah satu putra kebanggaan Sulut yang berkarir di militer. Paban III Lat Sopsau ini pernah menjadi Komandan Landasan Udara Sam Ratulangi (Danlanudsri). Roring bercerita bagaiaman dia sampai jadi pilot di Angkatan Udara.

Laporan: Rangga Mangowal, Jakarta

FERDINAND Roring lahir dari keluarga TNI. “Ayah saya anggota TNI Angkatan Darat yang tugas di Makassar. Saya lahir di sana," ungkapnya ketika ditemui di ruangannya di Mabes TNI AU, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (10/11). Meski lahir di Makassar, sejak umur tiga tahun dirinya balik ke Manado dan menghabiskan masa sekolah sampai lulus SMA di Manado.

"Saya umur tiga tahun balik Manado dan saya bersekolah hingga lulus SMA di Manado dan setelah lulus mendaftar Akabri dan lulus di angkatan udara," ujar pria dua orang anak ini.

Seperti pada umumnya, masa depan manusia sudah diatur oleh yang maha kuasa. Begitu juga dengan Roring, dirinya tidak pernah membayangkan akan menjadi anggota militer, terlebih seorang pilot. "Memang kalau melihat balik ke zaman dahulu, orangtua saya yang adalah tentara Angkatan Darat pernah mendoktrin saya jangan masuk tentara. Entah apa maksudnya. Mungkin karena pengalaman di medan perang atau gimana saya belum paham saat itu,” ujarnya.

Menurut Roring, orangtuanya ingin dia kuliah jadi insinyur dan kerja biasa. “Selang berjalannya waktu, selesai sekolah tahun 1987, waktu itu ada tes Akabri saya iseng ikut tes. Sambil saya juga mendaftarkan diri di Unsrat di Fakultas Peternakan,” ceritanya.

Rencananya ingin tetap mengikuti keinginan orangtua. “Tapi ternyata lulus di Akabri dan ditempatkan di Angkatan Udara. Saya pikir inilah jalan yang Tuhan kehendaki untuk saya. Tahun-tahun itu juga kebetulan lagi topnya film action Top Gun, saya lihat di film keren juga jadi pilot. Akhirnya saya terus mengucap syukur Tuhan menempatkan saya di posisi ini," tukasnya bersemangat.

Awal karir bertugas sebagai penerbang dirinya ditempatkan di Halim Perdanakusuma di Penerbang Skuadron 2. Roring merintis karir dari awal hingga menjadi seorang kolonel dan mendapat tugas Danlanud di Kupang, NTT. "Sebelum jadi Danlanud di Manado saya juga pernah di Kupang tahun 2008. Memang sempat kecewa karena tahulah kita orang Manado ingin mengabdi di Manado. Tapi tetap saya jalani dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Selang empat tahun dia dapat kesempatan jadi Danlanud di Manado. Ketika itu Danlanud Manado naik dari tipe C ke tipe B yang harus dipimpin seorang kolonel. “Akhirnya saya diberi kesempatan Tuhan jadi Danlanud pertama yang pangkat kolonel di Manado. Itu adalah berkat Tuhan dan jalan-jalan Tuhan  menurut saya," syukurnya.

Ada beberapa kisah yang diceritakan Roring di awal karirnya bertugas sebagai seorang penerbang. Salah satunya ketika dirinya mengalami insiden keluar landasan karena kerusakan mesin pada pesawat. "Kalau kesulitan, waktu awal-awal bertugas sebagai pilot banyak kesulitan dan tantangan. Seperti cuaca ekstrem dan emergency. Saya juga pernah mengalami insiden di Gorontalo,” tuturnya.

Waktu itu ada kerusakan mesin pesawat dan harus abort take off yang membuat pesawat keluar landasan. Itu insiden yang paling parah yang dia alami selama bertugas terbang. “Saya juga lama bertugas di Ambon pasca kerusuhan. Saya bertugas melakukan evakuasi korban-korban kerusuhan sambil diserang. Itulah yang menegangkan. Mungkin yang saya harap tidak terjadi lagi kedepannya," harap lelaki bertubuh tinggi tegap ini.

Menutup perbincangan, Roring memberikan pesan untuk generasi muda Sulut yang ingin berkarir di angkatan militer khususnya Angkatan Udara. Dirinya melihat tahun-tahun belakangan sedikit putra-putri sulut yang masuk mengabdi di dunia militer khususnya TNI Angkatan Udara.

"Memang saya rasakan betul saat ini agak berkurang animo putra-putri Sulut masuk Angkatan Udara. Kalau zaman dulu kami mendaftar sampai ratusan-ratusan tiap angkatan, meski yang jadi hanya sekitar belasan. Dan memang saya lihat tahun-tahun belakangan ini menurun apalagi untuk angkatan udara,” katanya. Padahal, lanjutnya, peluang untuk generasi muda Sulut memperkuat Angkatan Udara pintu terbuka lebar. “Kami butuh pilot-pilot handal dari Sulut. Saya tetap berharap generasi muda masuk Akabri khususnya Angkatan Udara," pungkasnya.(***)

Kirim Komentar