09 Nov 2017 09:54

Trust Layanan Digital di Indonesia Rendah

MyPassion
Ilustrasi

MANADO—Trust masyarakat Nyiur Melambai terhadap layanan digital masih rendah. Data terbaru, Indonesia menempati peringkat ke-10 atau terendah dalam hal tingkat kepercayaan konsumen digital di antara negara-negara Asia Pasifik lain.

 

Menurut Indeks Kepercayaan Digital (Digital Trust Index) dalam laporan Fraud Management Insights 2017 yang diterbitkan Experien dan International Data Corporation (IDC), Indonesia hanya memperoleh skor 1,8 dalam hal tingkat kepercayaan publik. Bagaimana peluang e-commerce atau online shop di tanah Nyiur Melambai? Ternyata, meskipun tren belanja online sudah mulai masuk, tapi keinginan masyarakat belanja di toko yang memiliki bangunan fisik masih tinggi.

Pengamat ekonomi Joy Elly Tulung PhD menjelaskan, gempuran online shop memang mulai terasa. Apalagi dengan maraknya situs jual-beli online di internet. Namun, lulusan magister ekonomi dari University of Groningen Belanda ini menuturkan, untuk saat ini e-commerce atau online shop belum dapat mematikan bisnis ritel offline. “Secara global, 92 persen konsumen masih berbelanja langsung ke toko. Malah di Indonesia, masih 99 persen,” beber Tulung.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsrat ini mengatakan, untuk saat ini belanja online masih sebagai alternatif bagi konsumen. “Belanja online masih sebatas alternatif bila tidak menemukan barang yang dibutuhkan atau diinginkan saat datang ke toko,” katanya. Namun demikian, lanjut Tulung, toko ritel agar harus terus berkembang. “Cepat atau lambat, e-commerce bisa mengancam. Karenanya, toko offline harus bisa beradaptasi dan berinovasi,” kunci Tulung.

Terpisah, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulut Soekowardojo menjelaskan, e-commerce sejatinya belum memiliki pengaruh signifikan. Apalagi untuk daya beli konsumen. “E-commerce atau online shop tidak mempengaruhi daya beli. Karena, toko online hanya sebuah wadah,” jelasnya.

Ia memberi contok, konsumen yang ingin membeli barang di toko kemudian tidak menemukan, akhirnya mencari di toko online. “Artinya, daya beli konsumen tidak berubah, hanya dimana dia membeli yang berubah,” ujarnya. Ia pun tak menampik perkembangan e-commerce. “Namun untuk sekarang, apalagi di Sulut, belum bisa mematikan ritel modern,” kunci Soekowardojo.

Dilansir dari cnn.com, Dev Dhiman, Managing Director South East and Emerging Market Experian Asia Pasifik menjelaskan, berdasarkan survei, nilai yang lebih tinggi mengindikasikan konsumen merasa puas dengan pengalaman transaksi digital, sedangkan nilai lebih rendah mengindikasikan ketidakpercayaan konsumen. "Nilai Digital Trust Index Indonesia yang relatif rendah mengindikasikan adanya perbedaan antara bagaimana bisnis berpikir mengelola transaksi digital rentan penipuan, dengan pengalaman konsumen yang sebenarnya saat terjadi penipuan," ujarnya, Rabu (8/11).

Laporan tersebut mensurvei 3.200 konsumen dan lebih dari 80 organisasi jasa keuangan, telekomunikasi, dan sektor ritel, masing-masing memiliki pendapatan setidaknya US$10 juta. Survei dilakukan di 10 pasar di seluruh Asia Pasifik. Peringkat pertama ditempati Selandia Baru dengan skor 4,2, Jepang (4,1), Australia (3,8), India (3,3), China (2,8), Vietnam (2,5), Hong Kong (2,3), Thailand (2,3), dan Singapura (2,3). Sementara itu, Indonesia berada di urutan paling akhir.

Khusus di Indonesia, konsumen memiliki tingkat toleransi lebih tinggi terhadap penipuan dibandingkan negara Asia Pasifik lain. Dhiman menjelaskan, tingginya penipuan disertai layanan pascapenipuan yang buruk dinilai menjadi merupakan hambatan utama dalam membangun kepercayaan yang lebih tinggi. Seperti halnya Vietnam, Indonesia dilaporkan sebagai negara dengan tingkat penipuan tertinggi.

Sebanyak 25 persen dari total jumlah masyarakat Indonesia pernah merasakan dampak penipuan secara langsung, sementara separuhnya mengalami penipuan tak hanya pada diri sendiri, tetapi juga orang terdekat. "Rendahnya toleransi terhadap penipuan tercermin di banyak negara maju, sementara lebih ditoleransi di negara seperti Indonesia, di mana penipuan lebih sering terjadi," kata Dhiman. (gnr)

Kirim Komentar